Limbah RPH Kaliwates Butuh Solusi

Sudah Terlalu Dekat dengan Rumah Warga

CARI SOLUSI: Suasana RDP di DPRD Jember yang membahas tentang limbah RPH Kaliwates, kemarin (15/6).

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Keberadaan rumah pemotongan hewan (RPH) yang berlokasi di Kelurahan Jember Kidul, Kecamatan Kaliwates, sudah semakin dikepung rumah warga. Tak ayal, keluhan terhadap bau limbah serta cairan yang dibuang ke sungai pun muncul. Berdasarkan aspirasi warga, sejumlah pihak melakukan rapat dengar pendapat (RDP) guna memecahkan jalan keluarnya, di DPRD Jember, kemarin (15/6).

IKLAN

Ada dua hal yang dikeluhkan warga terhadap limbah RPH. Pertama, bau tak sedap dari limbah RPH yang kerap sampai ke warga. Selain itu, pembuangan limbah cair ke sungai juga dikeluhkan, lantaran sebagian warga masih melakukan mandi cuci dan kakus (MCK) di sungai setempat.

Lurah Jember Kidul Yoyok Sulistiyono menjelaskan, sebagian warga yang tinggal di sekitar RPH memang ada yang masih memanfaatkan sungai untuk MCK. Untuk itu, Yoyok menyebut agar dicarikan solusi konkret, tanpa harus menyalahkan siapa pun. “Saat RPH dibangun, mungkin jumlah warga belum banyak, tetapi sekarang sudah mulai padat. Kami perlu solusi agar RPH tetap bisa operasi dan warga kami merasa nyaman,” paparnya.

Sementara itu, Kabid Pendidikan dan Produksi Peternakan,Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKP2) Sugiyarto menjelaskan, RPH Kaliwates sebenarnya berdiri sejak tahun 1978. Menurutnya, lokasi RHP dulunya ada di posisi paling belakang.

Namun, seiring perkembangan, ada jembatan yang dibangun, serta bertambahnya jumlah penduduk yang menjadikan rumah-rumah warga berdiri di sekitar lokasi. “Bahkan, sebagian rumah warga, pagar rumahnya ya pagar RPH. Jaraknya hanya dua meter. Jadi, kalau bau itu pasti karena dekat,” ucapnya.

Sedangkan pembuangan cairan limbah ke sungai, lanjut Sugiyarto, sudah melalui sistem instalasi pengelolaan air limbah (IPAL). Akan tetapi, saat pembuangan cairan dilakukan, warna kemerahan darah masih tetap ada. Hal ini disebabkan karena RPH masih kesulitan memisahkan limbah cair serta limbah padat, khususnya kotoran yang masih cair. “RPH sendiri sebenarnya membutuhkan alat yang dapat memisahkan limbah cair dan beku. Salah satu yang sulit, kotoran dalam usus sapi belum bisa dipisahkan,” jelasnya.

Sistem IPAL yang ada hari ini, menurutnya sudah melalui serangkaian proses. Ada bak khusus penampungan, bak anaerob, proses pembusukan, dan proses lain sebelum dibuang ke sungai. Akan tetapi, hasil yang terjadi, pembuangan air masih berwarna kemerahan.

“Yang jelas, kami membutuhkan masukan dan solusi untuk mengatasi ini. Dulu saat dibangun tahun 1978, rumah warga memang jarang, apalagi jembatan di sana belum ada. Tetapi sekarang rumah warga sudah mendekat. Dua meter jaraknya dengan papar RPH,” paparnya.

Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas KP2, drh Elok Kristanti mengurai, posisi keberadaan RPH Kaliwates hari ini memang sudah tak ideal. Menurutnya, jika dulunya RPH yang berdiri di lahan sekitar 2.000 meter persegi masih jauh dari rumah warga, sekarang sudah banyak rumah warga yang berdiri di dekatnya. Dengan demikian, bau tak sedap yang berasal dari RPH otomatis akan sampai ke rumah-rumah warga yang jaraknya hanya dua meter dari pagar RPH.

Serangkaian inovasi telah dilakukan. Akan tetapi, lantaran jarak rumah warga sudah kadung dekat, bau tak sedap itu pun sulit dihindari. Dikatakan, luas yang hanya 2.000 meter dinilai sudah tidak ideal, apalagi dekat dengan rumah warga. “Sebenarnya, kami butuh IPAL modern, tetapi biayanya besar, termasuk SDM harus siap. Tetapi itu hanya bisa menjadi solusi untuk jangka pendek, mengingat rumah warga sudah semakin dekat,” ucapnya.

Sedangkan Mas Bud, mantan Ketua TPA Pakusari yang kini menjadi staf Kecamatan Kaliwates, juga memberikan sumbangsih pemikiran. Menurutnya, harus ada penanganan serius agar limbah tersebut tak semakin menjadi masalah di masyarakat. Misalnya, menggenjot produksi pupuk organik baik yang beku dan cair.

Kendati demikian, solusi itu pun hanya bersifat jangka pendek saja, mengingat rumah warga sudah berjarak dua meter dari pagar RPH. “Mengkaji apakah di lokasi bisa digunakan untuk biogas atau tidak. Jika bisa digunakan, maka bau akan hilang otomatis,” jelasnya.

Dalam pertemuan yang dihadiri anggota dewan Komisi B dan C DPRD tersebut, akhirnya direkomendasi agar ada penanganan pada sarana RPH. Apakah menggunakan IPAL modern atau yang lain. Sementara, dari beberapa pihak sama-sama berpandangan bahwa solusi untuk jangka panjang yaitu relokasi RPH.

“Karena lokasi RPH sudah sangat dekat dengan rumah penduduk, maka rekomendasi kami untuk jangka panjang adalah relokasi. Tetapi, untuk mengatasi keluhan warga ini, sarana RPH harus dipenuhi agar warga sekitar bisa merasa nyaman,” kata Ketua Komisi C David Handoko Seto, yang memimpin RDP tersebut.

Informasi yang berhasil dikumpulkan, apabila penanganan jangka pendek bisa segera dilakukan, maka butuh kajian terhadap sistem apa yang paling efektif untuk dilakukan. Sementara apabila solusi jangka panjang RPH yang ditempuh, maka tempat yang menjadi tujuan relokasi harus lebih layak, jauh dari rumah warga dan lebih luas.

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : Nur Hariri

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti