Pencinta dan Penggiat Sejarah Minta Tetap Dipertahankan

Protes Penggusuran Situs Megalitikum

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Kasus tergusurnya situs megalitikum di Grujugan, mendapat reaksi dari masyarakat Bondowoso, khususnya dari pencinta sejarah. Mereka protes agar situs megalitikum tetap dipertahankan. Mereka berharap solusi terbaik bisa dicapai dalam musyawarah antarpihak.

IKLAN

“Memang secara ekonomi, lebih menarik pembangunan pabrik. Tapi ini kan terkait jati diri bangsa kita, untuk peninggalan anak cucu kita, sehingga tidak ternilai harganya,”  tutur As’ari, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah Bondowoso.

Keberadaan situs megalitikum sebagai museum lapangan di Grujugan, dinilai sangat penting sebagai bahan pembelajaran bagi masyarakat. Peninggalan purbakala tersebut juga sebagai bahan kajian khususnya dalam bidang sejarah keagamaan masyarakat purba. “Bondowoso ini kan dikenal sebagai surganya peninggalan purbakala di Indonesia. Kalau dipindah, nilai sejarahnya akan berkurang,” ujarnya.

Meski demikian, As’ari mengapresiasi ikhtiar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso yang dinilai cukup sigap menyelamatkan benda dari potensi kerusakan lebih lanjut. “Ya memang tidak ideal, tapi kami harap masih bisa berdiri berdampingan,” kata As’ari.

Sebagaimana diberitakan Radarjember.id sebelumnya (14/05), puluhan situs purbakala di dusun Jaringan, desa Pekauman, Kecamatan Grujugan terancam rusak. Hal ini imbas dari perluasan pabrik yang dilakukan oleh PT. Indah Karya Plywood, Sehingga 36 benda megalitikum itu telah banyak yang rusak, dan sebagian ada yang telah dipindah dari posisi semula.

“Sebagian rusak karena penggalian benda purbakala ditemukan secara tidak sengaja saat alat berat atau bego (backhoe/ekskavator) sedang menggali lahan. Padahal di daerah tersebut sudah ditetapkan sebagai situs cagar budaya yang dilindungi,” ujar Blasius Suprapta, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim yang kemarin turun langsung ke lokasi guna melakukan inspeksi.

Benda purbakala yang ditemukan dalam perluasan pabrik di antaranya 33 buah batu Kenong, dua buah sarkofagus, dan satu buah patung megalitikum. “Semuanya in situ, atau harus berada di lokasi aslinya. Karena berkaitan dengan tata letak masa lampau,” ujar Blasius. Jumlah ini diperkirakan masih akan bertambah. Sebab, benda purbakala yang ditemukan di permukaan tanah, belum lagi yang ditemukan di dalam tanah sekitar 18 benda megalitikum.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bondowoso, Harimas, dikonfirmasi awak media, menuturkan, lokasi berdirinya puluhan benda megalitikum itu sebenarnya masuk wilayah cagar budaya yang telah memiliki SK dari Gubernur. Sangat disayangkan sekali perluasan pabrik ini justru dilakukan tanpa melalui prosedur penanganan benda megalitikum. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : adi faizin

Editor : Narto