Pencuri Bulan Ramadan

Ustad Shohib Musthofa

RADAR JEMBER.ID – Bulan puasa menjadi waktu penyucian jiwa kita dari segala amarah dan nafsu. Mereka yang mampu menjalankannya secara ikhlas dan hanya mengharapkan keridaan Allah SWT, baginya akan mendapatkan derajat dan kemuliaan di sisi-Nya.

IKLAN

Namun, sebagian mereka yang berpuasa ada yang masuk golongan gagal dalam mendapatkan keberkahan bulan ini. Mereka menjadi seorang pencuri, di mana yang dicurinya justru menjadi kerugian besar baginya. Di antara pencuri besar itu adalah kita, yang menghabiskan waktu ibadah puasa dengan bersosial media melalui gawai (gadget).

Segala media mulai dari Facebook, WhatsApps, Instagram, dan lain-lain. Apabila tidak digunakan dengan benar dalam kebaikan, maka pencuri Ramadan telah berhasil mencuri pahala puasa kita. Hindari dusta, bercanda yang tidak penting, gibah, berdebat tanpa ilmu, membocorkan rahasia serta ikut campur urusan orang lain.

Semua hal tersebut sangat rawan dilakukan oleh kita, dengan atau tanpa disadari. Oleh sebab itu, berhati-hati saja tidaklah cukup, namun senantiasa meminta perlindungan kepada Allah SWT. “Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan selalu mengamalkannya, maka Allah Taala tidak butuh kepada puasanya.” (HR. Al-Bukhari No 1804).

Selain itu, hakikat puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat kita. Maka, sudah sepantasnya kita harus menjaga dari itu semua. “Bukanlah puasa itu sebatas menahan diri dari makanan dan minuman, tetapi puasa adalah menjauhi perkara yang sia-sia dan kata-kata kotor.” (HR. Ibnu Khuzaimah No. 1996 dan tahqiq Syaikh Al-A’zami berkata, ‘Shahih’).

Jika kita tak mampu, lantas apa makna dari rasa lapar dan dahaga kita sepanjang hari ini. Tidak banyak yang bisa kita dapatkan, selain diri kita telah menjadi pencuri untuk sesuatu yang sebenarnya bisa kita dapatkan. “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah No. 1690 dan Syaikh Albani berkata, ‘Hasan Shahih’). (*)

Reporter :

Fotografer :

Editor : Rangga Mahardika