Hanya Bisa Mencegah, Belum Mengobati

Pakar Medis Kenalkan Jamu Tangkal Korona

TEROBOSAN BARU: Salah satu jamu herbal saat dipamerkan, Minggu siang (15/3) kemarin. Pakar medis Jember menganggap jamu herbal sebagai salah satu cara mengantisipasi diri dari virus korona.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Hingga saat ini, virus korona (Covid-19) masih aktif menebar teror kegelisahan di tengah masyarakat. Minggu siang (15/3) kemarin, Kemenkes RI mengonfirmasi sudah ada 117 kasus pasien yang dinyatakan positif korona.

IKLAN

Menyikapi hal tersebut, sejumlah pakar medis mulai banting setir. Tak sedikit yang menilai, persebaran virus kiriman dari Kota Wuhan, Tiongkok itu belum tersedia obatnya. Lebih tepatnya, tidak bisa disembuhkan, namun bisa dicegah. “Makanya, kita perlu menaikkan sistem kekebalan tubuh kita,” kata dr Mudzakir Taufiq, salah seorang konsultan kesehatan.

Menaikkan sistem kekebalan itu dianggapnya salah satu cara paling efektif. Bisa dimulai dengan istirahat cukup, menjaga pola makan, dan mengimbangi dengan berolahraga. Menurutnya, selain mengupayakan hidup sehat itu, asupan pendukung juga dibutuhkan, seperti meminum jamu penambah sistem kekebalan tubuh. “Tapi tujuannya itu mencegah, bukan mengobati,” imbuhnya kepada Jawa Pos Radar Jember.

Saat memperkenalkan jamu herbal kemarin, dirinya menegaskan bahwa jamu-jamu yang diraciknya itu sebenarnya sudah lama. Hanya saja, maraknya teror korona itu mulai gencar dikenalkan lagi ke masyarakat, dengan sedikit sentuhan penambahan khasiat.

Pria yang juga merupakan anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jember itu juga menilai, jamu-jamu herbal dianggap aman. Bisa dikonsumsi jangka panjang dan tidak menimbulkan ketergantungan atau efek samping. Karena hampir seratus persen bahan-bahannya memanfaatkan ramuan herbal. Seperti jahe, temulawak, serai, dan kayu manis. “Masyarakat juga bisa membuatnya sendiri di rumah,” imbaunya.

Jamu-jamu itu diyakini menjadi alternatif melawan teror virus korona yang hingga saat ini belum ditemukan obatnya. Masyarakat juga diimbaunya perlu melakukan upaya pencegahan melalui cara-cara medis pula. “Kalau jamu, khasiatnya berkelanjutan, dan bisa dikonsumsi jangka panjang. Sedangkan obat, reaksinya cepat dan tidak cocok konsumsi jangka panjang,” jelasnya.

Rencananya, setelah diperkenalkan, jamu-jamu herbal tersebut bakal dipasarkan secara daring. Hal itu sesuai dengan anjuran beberapa edaran agar mengurangi intensitas pertemuan yang melibatkan banyak orang atau masa.

Reporter : Maulana

Fotografer : Maulana

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti