Waspadai Mata Minus pada Anak

Selama Sekolah Daring di Rumah

SEKOLAH DARING: Salah seorang anak menunjukkan hasil karyanya saat belajar daring dengan bimbingan orang tua. Belajar daring membuat anak lebih intens melihat layar gawai, sehingga orang tua harus memantau kesehatan mata buah hatinya tersebut.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gawai telah menjadi bagian hidup yang tak bisa dilepaskan. Setiap hari, banyak aktivitas masyarakat modern yang menggunakan layar. Baik komputer, laptop, ponsel, maupun tablet. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, intensitas penggunaannya semakin meningkat. Tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak.

Apalagi aktivitas belajar mengajar sekarang ini dilakukan secara daring. Mau tidak mau, anak-anak kian sering melihat layar gawai. Sehingga, orang tua diimbau tak hanya melihat perkembangan belajar, tapi juga memantau kesehatan mata anak mereka.

Dalam peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh pada 14 Oktober kemarin, dr Bagas Kumoro SpM juga mengingatkan kepada orang tua agar memantau perkembangan kesehatan mata anak. Dokter spesialis mata RSD dr Soebandi ini mengatakan, sejak pandemi korona seperti ini, jumlah pasien yang periksa minim. “Karena berkaitan dengan pandemi, yang datang ke rumah sakit sedikit,” jelasnya.

Mengapa orang tua perlu memantau kesehatan mata anak? Terutama untuk mendeteksi dini apakah terjadi mata minus atau tidak. Sebab, menurut catatan dr Bagas, karena yang mendeteksi mata minus anak rata-rata adalah guru sekolah. “Yang tahu pertama ada mata minus itu guru, bukan orang tua. Setelah guru tahu, baru orang tua yang membawa ke dokter,” katanya.

Namun, kini dengan sekolah daring, maka orang tua harus paham perbedaan yang terjadi ke buah hatinya, termasuk pada mata. Menurutnya, mata anak dijaga dengan baik agar tidak terjadi minus dan silinder. Sebab, mata anak hingga usia 30 tahun masih dalam masa pertumbuhan dan bisa berkembang. “Kalau sudah memasuki usia 30 tahun, minusnya tetap. Bila bertambah, itu sedikit,” jelasnya.

Oleh karena itu, kata dia, memelihara kesehatan mata ini penting sebelum usia 30 tahun, termasuk pada anak usia sekolah. “Ingat, mata minus dan silinder itu belum ada obatnya. Kacamata hanya membantu untuk melihat normal lagi,” katanya.

Menurutnya, semakin anak itu bermain atau melihat layar gawai, sebenarnya bukan hanya persoalan mata akan cepat capek. Tapi yang membuat problem adalah saraf otot penglihatan jarak jauhnya tidak dilatih, karena terlalu sering melihat dari dekat, sehingga berakibat matanya minus. “Jarak minimal lihat layar gawai adalah 30 cm atau dua sampai tiga kali telapak tangan orang dewasa,” terangnya.

Solusinya, dia berkata, ajaklah anak itu melihat benda-benda dari jauh. Bisa pemandangan, pepohonan, dan lainnya. “Melihat jarak jauh itu juga meringankan mata kelelahan akibat terlalu lama di depan komputer,” tuturnya.

Kegiatan olahraga seperti bulu tangkis, sepak bola, hingga tenis, juga mampu melatih saraf otot penglihatan jarak jauh dan dekat. “Olahraga tambah bagus, karena melatih dengan cepat penglihatan jauh dan langsung dekat. Seperti bermain tenis atau bulu tangkis,” jelasnya.

Namun perlu dicatat, bila mata anak telah minus dan memakai kacamata, maka bermain olahraga juga perlu kehati-hatian. “Kalau pakai kacamata, main tenis lalu bolanya terkena kacamata hingga kacanya pecah dan melukai mata, justru itu bahaya,” terangnya.

Bagas berharap orang tua yang sekarang lebih banyak bersama buah hatinya di rumah selalu mengamati putra-putrinya dalam melihat. Apakah ada yang aneh atau tidak. “Contohnya saat nonton TV bersama. Bila anaknya tidak nyaman dan ingin melihat lebih dekat, maka perlu diwaspadai,” jelasnya.

Sementara itu, juga rajin mengonsumsi sayur hijau, wortel, dan tomat. Makanan sehat mengandung vitamin A itu akan memberikan nutrisi pada saraf otot penglihatan. “Jadi, jangan beri anak itu makanan bakso dan mie instan saja. Beri anak itu doyan makanan hijau, wortel, dan tomat,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto