Pakar Lalu Lintas Sebut Lima Tahun Lagi Jember Macet Parah

CONNECTING: Masterplan transportasi di Jember sedang digarap. Selain optimalisasi layanan dan pemeretaan, transportasi yang saling terkoneksi harus segera dicarikan solusinya

RADARJEMBER.ID- Sengkarut angkutan daring (online) dan konvensional baru saja mereda. Namun, bukan berarti persoalan transportasi di Jember tuntas. Masih banyak PR yang harus dikerjakan pemerintah daerah.

IKLAN

Selain soal layanan transportasi umum di Jember masih belum maksimal, pemerataan dan transportasi terkoneksi masih jauh panggang dari api. Di wilayah pinggiran, sarana transportasi yang ada sangat jauh dari memadai. Baik dari ketersediaan sarana transportasi, maupun kondisi angkutan yang ada. Nyaris asal bisa jalan.

Sementara, transportasi yang saling terkoneksi juga masih belum ada. Transportasi yang saling terkoneksi ini penting karena bisa memudahkan masyarakat. Lebih-lebih, mereka yang berasal dari luar daerah atau wisatawan. Dengan adanya transportasi yang saling terkoneksi, akses menuju destinasi wisata akan semakin mudah.

Tak heran jika kondisi ini membuat transportasi umum belum menjadi pilihan utama. Warga kebanyakan menggunakan transportasi umum jika terpaksa saja. Selebihnya, mereka lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi.

Sonya Sulistyono pakar lalu lintas dari Unversitas Jember mengatakan, era sekarang transportasi di Jember harus berbenah. Artinya, kata dia, moda transportasi yang ada di Jember ini mulai revitalisasi secara menyeluruh. “Master plan transportasi di Jember ini itu secara menyeluruh, tidak bisa membahas angkot saja atau membahas serbuan transportasi daring, serta kendaraan pribadi,” ujarnya.

Dia mengatakan, sudah seharusnya transportasi Jember ini bergeser ke semi masal. Semi masal yang dimaksud adalah memakai kendaraan secara kapasitas sedang. Dia mencontohkan adalah bus mini. “Pakai transportasi masal seperti bus besar, jalan di Jember ini tidak mendukung,” katanya.

Dosen Fakultas Teknik Universitas Jember (Unej) ini menjelaskan, di Jember saat ini sudah mendukung tiga transportasi utama yang menghubungkan antarkota. Di darat ada Terminal Pakusari, Arjasa, dan Tawang Alun, serta ditambah jalur kereta api di Stasiun Jember. Sedangkan di udara ada Bandara Notohadinegoro.

Sehingga, menurut Sonya, empat lokasi tersebut harus ada koridor bus. “Seperti Transjakarta atau Busway, dan Transjogja,” ujarnya. Lewat koridor tersebut, penumpang dari empat lokasi ini bisa saling terkoneksi. “Sistemnya ya seperti Busway. Selama tidak keluar koridor, penumpang tidak perlu membayar lagi. Cukup sekali saja,” imbuhnya.

Seandainya sistem koneksi antarmoda transportasi itu berjalan butuh penopang, juga sudah ada. Yakni angkutan kota (angkot). “Bus perintis, hingga angdes juga bisa jadi penopang. Jadi, semua terkoneksi,” paparnya.

Dengan demikian, fungsi angkot akan berjalan maksimal hingga permukiman warga. Sonya menjelaskan, jika Jember tidak berbenah dalam hal transportasi, maka lalu lintas Jember bisa jadi akan menjenuhkan. Apalagi, pertumbuhan kepemilikan kendaraan pribadi semakin naik, belum lagi serbuan transporasi daring dan pelebaran jalan di wilayah kota pun tidak bisa ditambah. “Sekitar lima tahun tidak ada pembenahan, bisa jadi Jember ini macet parah. Dan bisa jadi pula ada ganjil genap seperti Jakarta, karena terlalu padat kendaraan pribadi,” ujarnya.

Angkutan terkoneksi tersebut juga akan menaikkan minat masyarakat untuk naik transportasi konvensional. Sementara langkah pemkab memunculkan bus perintis, aku Sonya, adalah cara yang bagus. Dia mengaku ada potensi dengan transportasi terkoneksi tersebut. “Bus untuk Bondowoso. Selama ini belum terpikirkan bus terkoneksi dari Bondowoso untuk menuju Stasiun Jember, Terminal Tawang Alun, hingga bandara,” ujarnya.

Plt Kadis Perhubungan Jember Slamet menjelaskan, masih mengkaji dan koordinasi lebih dalam untuk master plan transportasi Jember. Upaya Pemkab Jember untuk pemerataan transportasi dan mendukung wisatawan juga menghadirkan dua bus perintis. Di antaranya rute Tawang Alung-Papuma-Payangan. Serta Tawangalun-Andong Rejo.

Kami Sedang Kaji Master Plannya

Bupati Jember dr Faida MMR mengaku, saat ini pihaknya memang sedang serius mengkaji master plan transportasi. Ke depan, sistem transportasi di jember akan diupayakan supaya lebih baik dan termanajemen. Sehingga, layanan di bidang transportasi bisa optimal.

Diakui, saat ini pelayanan transportasi di Jember belum merata. Transportasi di wilayah kota Jember ini memang banyak. Mulai dari konvensional hingga daring semua sudah ada. Sedangkan di pinggiran masih belum optimal. “Persoalan utama transportasi bagaimana mengatur mereka. Namun, lebih penting adalah soal pemerataan transportasi,’’ katanya.

Luas Kabupaten Jember sekitar 3,2 ribu kilometer persegi yang tersebar 31 kecamatan tersebut, tentu perlu moda transportasi yang bisa terkoneksi. Dia mengatakan, harus ada transportasi yang membuat mobilitas penduduk menjadi mudah. “Master plan transportasi ini yang kami kerjakan,” ujarnya.

Mengatasi pemerataan transportasi di Jember ini tentu tidak hanya butuh revitalisasi angkutan desa saja. Lebih dari itu juga harus tahu perencanaan ke depan transportasi mau dibawa ke mana.

Faida mengaku, peremajaan untuk angkot, angdes, ataupun bus memang diperlukan. Lebih penting dari itu, agar masyarakat mau naik moda transportasi tersebut adalah rasa keamanan. “Mengapa masyarakat mau menunggu taksi dengan nama brand tertentu. Itu bukan soal kenyamanan kendaraan, tapi keamanan. Apalagi, kalau melayani masyarakat miskin, mereka juga ingin rasa aman,” imbuhnya.

Jika ada master plan transportasi yang jelas dari Jember, sopir angkutan desa (angdes) pun menyambut senang. Seperti Sumarto, sopir angdes jurusan Arjasa – Kalisat ini. Dia mengaku, dari tahun ke tahun jumlah penumpangnya menurun. “Kalau ada pembenahan ya enak,” ujarnya.

Meski pendapatannya sebagai sopir angdes itu menurun, dia tetap memilih jadi sopir. Selain tidak ada pekerjaan lain, juga ada pelanggan yang masih membutuhkan jasanya. Pelanggan utamanya adalah para orang tua, orang tidak punya kendaraan, para pekerja tembakau, dan anak sekolah.

Sumarto yang harus menyetor Rp 25 ribu per hari ke juragannya tersebut, bahkan kadang tidak menyetor. Dia mengaku, rute di wilayah utara ini lebih sepi penumpang. “Dulu ya banyak, sekarang mulai sedikit. Sepinya penumpang membuat kesulitan bayar setoran. Akhirnya, bos memilih menutup usahanya,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

Reporter :

Fotografer :

Editor :