Strategi agar Anak Tak Canggung saat Masuk Sekolah Baru

Curi Start untuk Kenalkan Lingkungan Sekolah

Hore… Hari ini sudah masuk sekolah lagi. Bagi mereka yang memasuki tahun kedua, ketiga, atau seterusnya, ini adalah momen untuk kembali bertemu teman setelah libur sekian lama. Tapi bagaimana dengan mereka yang baru masuk SD, SMP, atau SMA? Apa saja yang perlu disiapkan oleh orang tua dan anak?

RADAR JEMBER.ID – Jelang ajaran baru menjadi momen yang ditunggu setiap anak. Sebab, mereka akan memiliki dunia baru yang selama ini belum pernah dijajakinya. Namun, hal itu menjadi catatan setiap orang tua dan para guru, bahwa peserta didik yang baru memasuki sekolah itu merupakan anak yang tengah mengalami masa transisi. Baik dalam pembelajaran maupun dalam hal pergaulan.

IKLAN

Dalam pandangan psikologi, dari semua jenjang sekolah, biasanya momen masuk SD menjadi masa paling berat di awal masuk sekolah. Psikolog Marisa Selvy Helphiana dari Gemilang Psikolog mengatakan, awal masuk sekolah pada setiap jenjang sekolah ini berbeda.

Ketika masih di TK, konsep sekolahnya masih mengutamakan bermain. Karena itu, boleh saja mendampingi anak TK sampai masuk kelas, jika anak tersebut membutuhkan orang tua di dekatnya. “Pendampingan semacam itu hanya minggu pertama oke-oke saja. Tapi hal itu juga tergantung anaknya, ada yang hanya didampingi di hari pertama saja,” katanya.

Di jenjang SD, ujar Marisa, adalah hal yang paling susah. Sebab, kata dia, masa SD adalah waktu transisi konsep belajar TK dan SD. “TK itu konsepnya bermain, sedangkan SD itu tidak. Fase peralihan dari bermain ke belajar inilah yang berat dan perlu diperhatikan orang tua,” paparnya.

Anak juga membutuhkan adaptasi di lingkungan barunya. Seperti seragam baru, teman baru, suasana sekolah juga baru. Perempuan yang akrab dipanggil Icha ini menjelaskan, pada hari pertama masuk sekolah pelajar SD ini butuh pendampingan orang tua. Oleh karena itu, alangkah baiknya orang tua itu meluangkan waktu untuk mengantarkan anaknya di awal sekolah tersebut.

Agar anak itu mudah beradaptasi dan lebih percaya diri di awal masuk sekolah, tambah dia, setidaknya orang tua mengenalkan lebih dulu lingkungan sekolahnya. “Tipsnya yaitu curi start. Jadi, sebelum masuk sekolah, coba ajak anaknya main ke sekolah barunya. Termasuk mengenalkan ruang kelas, guru, sampai toilet,” tuturnya.

Selain itu, kata dia, datanglah sepagi mungkin. Dia menjelaskan, saat masuk lebih pagi, anak akan melihat satu per satu temannya datang. Berbeda jika anaknya terlambat, maka harus secepat mungkin melihat begitu banyak teman-temannya. “Kalau telat, semua orang kan melihat. Orang dewasa saat telat saja nervous,” katanya.

Sementara itu, untuk sekolah, kata dia, biasanya ketika awal masuk sekolah tidak langsung diberi materi pelajaran, tapi lebih pengenalan. Tidak hanya pengenalan guru atau teman, tapi juga suasana sekolah. Seperti kantin, ruang kelas, hingga toilet. Cara inilah yang membuat anak itu nyaman. “Orang dewasa saja saat pertama masuk kerja dan disuruh langsung kerja itu tidak nyaman. Padahal orang dewasa itu punya banyak pengalaman,” pungkasnya.

Dia menuturkan, anak usia 0-12 berada dalam periode golden eye, yaitu waktu terbaik perkembangan anak. Oleh karena itu, kata dia, orang tua juga harus memahami cara mendidik anak yang baik. “Jangan mengasah IQ saja, anak disuruh les-les saja. Tapi juga diasah SQ (spiritual quotient), dan EQ (emotional quotient),” tegasnya.

Sementara itu, awal masuk SMP dan SMA adalah yang paling gampang. “Tidak usah didampingi orang tua kalau SMP dan SMA. Mereka sudah masuk remaja, bahkan mereka survei sendiri ke sekolah barunya,” pungkasnya.

Hal senada juga dijelaskan oleh Muhammad Muhib Alwi, kepala Biro Bimbingan Konseling dan Layanan Psikologi IAIN Jember. Menurutnya, perlunya sebuah pendampingan yang harus dilakukan guru dan orang tua siswa agar mereka tidak salah gaul. “Karena dalam fase tersebut merupakan masa peralihan anak menuju remaja,” kata Muhib Alwi.

Pria yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Jember itu juga menjelaskan, model adaptasi atau penyesuaian diri seorang anak itu ada dua. Pertama adalah autoplastis, yakni bagaimana seseorang menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Kedua adalah model alloplastis, yaitu mengubah kondisi lingkungan sesuai kebutuhan diri seseorang. “Masalahnya, kematangan mereka belum terbentuk. Jadi, cenderung mengubah dirinya agar sesuai dengan lingkungan (autoplastis),” imbuhnya.

Muhib juga menjelaskan, mereka juga perlu dikenalkan dengan sejumlah pengetahuan yang umum. Hal itu dianggapnya sangat penting, karena menyangkut keberlangsungan proses bersosial anak. Sebagai orang tua, lanjutnya, pertama yang harus diberikan kepada anak adalah memberikan pemahaman tentang gender atau jenis kelamin. Mulai dari batasan-batasan, peran-perannya, boleh tidak melakukan ini dan itu, serta lain-lain.

Memberikan pemahaman seperti itu menurutnya sangat erat kaitannya dengan proses interaksi anak dengan lingkungan maupun dengan teman lawan jenisnya. “Pengenalan organ vital laki-laki dan perempuan serta fungsi-fungsinya, hal semacam itu harus ditanamkan sejak dini,” tegasnya kembali.

Dia juga mencontohkan, saat anak ketemu lawan jenis, tiap orang tua harus bisa menunjukkan kalau mereka harus seperti apa dan bagaimana. Selanjutnya yang kedua, lanjut Muhib, adalah menanamkan sikap percaya diri dengan apa yang mereka yakini. Si anak mampu dan berani mengatakan tidak dan berani menolak segala hal yang bersifat menentang norma sosial dan agama. “Meskipun hal itu berisiko karena akan dijauhi temannya, itu tidak masalah, karena hal itu tidak akan bertahan lama,” imbuhnya kembali.

Dia juga mengingatkan kepada guru dan orang tua untuk sebisa mungkin tidak membimbing anak melalui ancaman. Sebab, hal itu akan membangun karakter tidak jujur kepada anak. Orang tua harus bisa memancing terlebih dahulu segala apa yang ingin diutarakannya, baru setelah itu orang tua bisa membimbing si anak. Hal itu karena kesadaran anak itu dianggapnya hanya kesadaran karena takut akan ancaman yang dibangun oleh orang tua, bukan kesadaran yang terbangun dari diri pribadi anak. “Kalau anak sedikit-sedikit diancam, di depan orang tua mereka bisa tampil baik, namun di belakang malah sebaliknya,” jelasnya.

Selanjutnya, Muhib kembali menambahkan, langkah ketiga adalah menempatkan posisi orang tua dan guru sebagai pendengar yang baik bagi si anak. Langkah itu sangat efektif berpengaruh terhadap psikologi anak. Mereka akan merasa diperhatikan. Dengan begitu, mereka akan terbuka segala permasalahan ataupun keluh kesahnya di sekolah ataupun di lingkungan luar rumahnya. “Kalau anak sudah nyaman kepada ortunya, dia tidak akan ke mana-mana. Dan segala pesan orang tua akan melekat kepada anak,” tegasnya lagi.

Terakhir yang tak kalah penting, Muhib meyakinkan bahwa keteladanan orang tua memiliki dampak serta pengaruh yang cukup besar terhadap kepribadian anak. Keteladanan itu menurutnya bukan dari ucapan, namun dari tindakan.

Dia mengakui keterbatasan setiap orang tua dan guru bahwa budaya seperti itu sangat minim dilakukan, namun bukan berarti tidak mungkin dilakukan. “Jika orang tua pahami, maka hasilnya akan bagus terhadap anak. Mereka siap menyambut dunia sekolah mereka yang baru,” tegasnya. (*)

Reporter : mg2, Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti