Kholik, Korban Selamat KM Lestari Maju Asal Gumukmas Sudah Pulang

BG FOR RADAR JEMBER MASIH TRAUMA: Mohammad Kholik Maulana bersama kerabatnya di rumah keluarga di Kecamatan Gumukmas. Penumpang kapal feri KM Lestari Maju ini merupakan korban selamat dalam tragedi di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/7) lalu.

GUMUKMAS – Tragedi kandasnya kapal feri KM Lestari Maju di perairan Selayar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/7) lalu, menyisakan cerita tersendiri bagi warga Jember. Sebab, dari 189 orang yang menjadi korban, 34 orang penumpang dinyatakan meninggal dan 155 orang lainnya selamat. Salah satu penumpang yang selamat tersebut adalah Mohammad Kholik Maulana asal Dusun Kalimalang, Desa Mayangan, Kecamatan Gumukmas.

IKLAN

Kepada Jawa Pos Radar Jember, pemuda 19 tahun ini mengisahkan betapa paniknya kondisi para penumpang saat itu. Menurutnya, sesaat setelah air masuk ke dek kapal, penumpang yang berada di bagian bawah berlarian ke atas. Mereka berebut pelampung untuk menyelamatkan diri. Tak terkecuali Kholik.

Kendati mendapat alat keselamatan itu, namun dia mengaku pasrah. “Karena saya tak bisa berenang. Dalam benak saya, yang penting saya bawa identitas,” katanya, kemarin.

Kartu identitas inilah yang bagi Kholik sangat penting ketika dalam situasi seperti itu. Sebab, dia berpikir, jika terjadi apa-apa, dirinya masih bisa dikenali oleh regu penolong melalui identitas yang dibawa. Namun, rupanya nasib baik menghampiri Kholik.

Meski tak bisa berenang, dia mengapung ke pinggir pantai lantaran terbawa arus. Kemudian ia berhasil diselamatkan oleh petugas. “Waktu itu saya buka baju dan langsung lompat aja. Alhamdulillah, saya selamat karena terbawa arus ke pinggir,” tuturnya.

Kholik mengisahkan, peristiwa itu terjadi setelah kapal berjalan sekitar setengah jam dari Pelabuhan Bira, Bulukumba. Sebelum kandas, kata dia, memang ada peringatan dari otoritas pelabuhan setempat, dan menyuruh kapal itu menepi ke kanan. Saat itu, kondisi kapal jenis Ro-Ro ini sudah dalam keadaan miring.

Dia tak menyangka, Selasa siang itu menjadi hari yang buruk baginya. Karena biasanya, kapal penyeberangan ini hanya memakan waktu berlayar selama dua jam saja. Namun siang itu, menjadi hari yang sangat panjang, karena setelah berangkat dari Pelabuhan Bira sekira pukul 10.00 WITA, kapal hanya berputar-putar di tengah laut hingga pukul 15.00 waktu setempat.

Sebelum musibah itu terjadi, ujar Kholik, saat itu cuaca memang sedang buruk. Bahkan, sempat terjadi badai di lautan. Namun tak diduga, air masuk tiba-tiba dari sisi kiri kapal, yang mengakibatkan kapal yang sedang menuju ke Pelabuhan Pamatata tersebut miring.

Melihat ada yang tak beres, sejumlah penumpang yang ada di bagian bawah histeris. Mereka lari ke bagian atas kapal. Kemudian kapal penyeberangan ini kandas, dan bersandar di sebuah karang sekitar 300 meter dari Pantai Pabadilang, Selayar.

“Kala itu, para penumpang minggir ke sisi kanan semua. Tetapi karena ada yang panik, membuat sebagian ada yang loncat dan berebut pelampung,” kisahnya.

Kholik tak mengetahui persis, apa yang menjadi penyebab kapal itu kandas. Informasi yang dia peroleh, kapal itu kelebihan muatan. Dari 139 penumpang yang tercatat di manifes kapal, ternyata ada 189 orang yang dievakuiasi tim penyelamat.

Informasi itu dia dapatkan saat menjalani perawatan di sebuah rumah sakit, sekitar 50 kilometer dari lokasi kecelakaan. “Lebih satu jam saya menunggu dijemput tim medis. Karena lokasi terdamparnya jauh dari permukiman,” ujarnya.

Setelah menjalani perawatan, Kholik dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang oleh tim medis. Kemudian, dia dijemput pimpinan perusahaan tempatnya bekerja dari Selayar ke Makasar. Selanjutnya, pemuda berperawakan lencir ini terbang ke Jawa untuk kembali ke rumahnya di Jember.

“Mayoritas korban selamat dijemput keluarganya, karena memang tempat tinggalnya dekat. Sedangkan saya kan jauh, dari Jember. Sehingga saya langsung pulang, khawatir keluarga di rumah memikirkan terus,” tandasnya. (mg-4/c2/hdi)

Reporter :

Fotografer :

Editor :