Pesan Politik Harus Mengedukasi

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Media massa menjadi bagian tak terpisah dalam tiap kontestasi politik di tiap level. Tak jarang setiap perorangan atau kelompok menyiapkan anggaran cukup besar, agar visi misi mereka tersampaikan kepada publik sebagai calon pemilih.

IKLAN

Fenomena itu yang kini terjadi. Wabah korona membuat aktivitas kampanye politik sedikit bergeser, dari yang semula digelar dengan mengumpulkan basis masa, kini cukup dengan media. Seperti media cetak, koran, televisi, radio, hingga daring.

Pakar ilmu komunikasi, Dr Kun Wazis M I Kom menjelaskan, berbagai jenis media massa yang beredar di tengah masyarakat saat ini masih efektif untuk menyampaikan pesan politik kepada khalayak. Sebab, kekuatannya menjangkau massa yang lebih besar, heterogen, dan tanpa batas. “Tentu saja, pasangan calon dan tim pemenangan dituntut selektif memilih media yang tepat dengan sasaran politiknya,” jelasnya.

Kaprodi S-2 Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Pascasarjana IAIN Jember itu mencontohkan, ketika suatu wilayah tidak dijangkau media cetak, tim kampanye bisa memilih media elektronik atau media daring agar mudah menyampaikan visi dan misi politiknya. “Di sinilah, tim kreatif pasangan calon perlu menampilkan gaya kampanye yang unik, beda, mengangkat isu aktual, program yang berpihak pada rakyat, program ramah lingkungan, dan program yang lebih riil,” lanjutnya.

Menurutnya, pembaca media massa adalah khalayak yang cerdas. Karena itu, pendidikan politik harus lebih santun. Tidak kontraproduktif, lebih aspiratif, dan melalui tindakan nyata. Sebab, dengan model sajian seperti itu, publik akan lebih menyukainya.

Selanjutnya, dia juga memberikan catatan mengenai strategi komunikasi politik yang penting dilakukan oleh tim kampanye. Yaitu dengan strategi sinergi dengan media. “Mereka bisa bersinergi dengan media, tentu tidak semua media. Mereka harus bisa memilih efektivitas media sesuai dengan segmentasi massa politik yang menjadi sasaran raihan suaranya,” lanjutnya.

Terlebih lagi, saat ini banyak media massa yang menggunakan strategi konvergensi dalam menampilkan produk beritanya kepada publik. Seperti yang sering tayang melalui media cetak, media elektronik, ataupun media daring.

Bahkan, tak sedikit pula mereka juga masih menggunakan media sosial sebagai jaringan komunikasi opsional untuk menyebarkan luaskan berita media massa. Seperti melalui Facebook, Twitter, ataupun Instagram.

Untuk itu, lanjut Kun Waziz, tim kampanye perlu membangun relasi dengan media massa, menjalin komunikasi agar lebih mendalami rubrikasi yang biasanya ditampilkan khusus saat pemilihan umum. “Kalau media massa membuka rubrik politik, misalnya, itu bisa dimanfaatkan sebagai media sosialisasi. Dan, selain berita, media pasti menawarkan iklan politik kepada tim kampanye,” imbuh pria yang juga pernah menjadi jurnalis Jawa Pos Radar Jember itu.

Kun Waziz menambahkan bahwa dalam tiap kontestasi politik, sebenarnya ada kesamaan misi antara politisi dengan pengelola media masa. Karenanya, hal itulah yang membuat keduanya erat berkaitan. “Politisi dan media memiliki kesamaan fungsi. Di antaranya fungsi edukasi, artinya mencerdaskan massa. Satu massa pembaca dan satunya massa politik,” pungkasnya.

Reporter : Maulana

Fotografer : Grafis Reza

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti