alexametrics
25.2C
Jember
Tuesday, 9 March 2021
Desktop_AP_Top Banner

Banjir Rendam 5.611 KK

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

“Ada warga yang nekat keluar sendiri tanpa dievakuasi dengan perahu karet. Mereka meninggalkan rumahnya yang sudah terendam air hanya dengan pakaian yang dipakai saja. Rata-rata mereka tidak membawa pakaian karena air naik begitu cepat,” kata salah seorang polisi.

Helisa, 22, warga yang rumahnya terendam banjir, mengaku hanya membawa baju yang dipakai saja. “Saya bersama keluarga terpaksa mengamankan diri dan keluar dari rumah. Karena rumah sudah kebanjiran. Saya mau tinggal sementara di rumah keluarga,” ujarnya.

Tim SAR BPBD bersama petugas gabungan terus melakukan evakuasi warga rentan. Seperti yang dilakukan terhadap Yatmina, 80, warga Dusun Kraton yang sudah tidak bisa berjalan dan lumpuh. Dia dievakuasi menggunakan perahu karet dan dibawa ke posko kesehatan di Balai Desa Wonoasri. Demikian juga dengan Pak Su’an, 70.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, air naik lagi sekitar pukul 13.00 dan sangat cepat. Sehingga warga yang semula rumahnya tidak terkena banjir juga dibuat panik karena air mulai masuk ke pekarangan mereka. Demikian juga dengan beberapa lembaga pendidikan seperti SDN Wonoasri 01 dan SMP PGRI 1 Tempurejo, juga tak luput dari genangan air. Bahkan, Balai Desa Wonoasri yang awalnya tidak banjir juga ikut terendam.

Kapolsek Tempurejo AKP M Zuhri mengatakan, pihaknya masih fokus mengevakuasi warga yang berada di paling ujung Gang III Dusun Kraton. Sementara, Pj Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, meski hujan yang turun tidak terlalu deras, tetapi luapan air datang secara tiba-tiba. Bahkan, besarnya luapan air hingga melompat di atas tangkis sungai.

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

Mobile_AP_Half Page

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

“Ada warga yang nekat keluar sendiri tanpa dievakuasi dengan perahu karet. Mereka meninggalkan rumahnya yang sudah terendam air hanya dengan pakaian yang dipakai saja. Rata-rata mereka tidak membawa pakaian karena air naik begitu cepat,” kata salah seorang polisi.

Helisa, 22, warga yang rumahnya terendam banjir, mengaku hanya membawa baju yang dipakai saja. “Saya bersama keluarga terpaksa mengamankan diri dan keluar dari rumah. Karena rumah sudah kebanjiran. Saya mau tinggal sementara di rumah keluarga,” ujarnya.

Tim SAR BPBD bersama petugas gabungan terus melakukan evakuasi warga rentan. Seperti yang dilakukan terhadap Yatmina, 80, warga Dusun Kraton yang sudah tidak bisa berjalan dan lumpuh. Dia dievakuasi menggunakan perahu karet dan dibawa ke posko kesehatan di Balai Desa Wonoasri. Demikian juga dengan Pak Su’an, 70.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, air naik lagi sekitar pukul 13.00 dan sangat cepat. Sehingga warga yang semula rumahnya tidak terkena banjir juga dibuat panik karena air mulai masuk ke pekarangan mereka. Demikian juga dengan beberapa lembaga pendidikan seperti SDN Wonoasri 01 dan SMP PGRI 1 Tempurejo, juga tak luput dari genangan air. Bahkan, Balai Desa Wonoasri yang awalnya tidak banjir juga ikut terendam.

Kapolsek Tempurejo AKP M Zuhri mengatakan, pihaknya masih fokus mengevakuasi warga yang berada di paling ujung Gang III Dusun Kraton. Sementara, Pj Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, meski hujan yang turun tidak terlalu deras, tetapi luapan air datang secara tiba-tiba. Bahkan, besarnya luapan air hingga melompat di atas tangkis sungai.

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jember dikepung banjir. Data yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), total ada enam kecamatan yang terendam. Enam wilayah itu adalah Kecamatan Tanggul, Bangsalsari, Gumukmas, Puger, Ambulu, dan Tempurejo. Bencana ini mengakibatkan 5.611 kepala keluarga (KK) terdampak. Terbanyak berada di Tempurejo dengan jumlah 3.920 KK.

Banjir yang melanda Dusun Kraton dan Dusun Curahlele, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo, misalnya. Di desa ini sebanyak 1.800 KK terdampak. Air mulai naik begitu cepat sekitar pukul 11.00. Ketinggian air yang masuk ke dalam rumah warga hingga 1,5 meter. Terparah di Gang III Dusun Kraton. “Sekarang ini banjir yang paling parah. Sebelumnya tidak separah ini,” kata Misri, warga setempat.

Saat air mulai naik, perangkat desa segera melaporkan ke pemerintah kecamatan yang diteruskan ke BPBD Jember. Petugas gabungan yang berasal dari unsur TNI, polisi, BPBD, Tagana, Basarnas, dan relawan kebencanaan segera turun ke lokasi. Mereka melakukan evakuasi kepada kelompok rentan. Seperti lansia, perempuan, dan anak. “Terutama warga yang rumahnya di pinggir kebun di ujung selatan sendiri. Soalnya, posisi bangunan rumah memang berdekatan dengan sungai dan rendah,” ujarnya.

TEROBOS BANJIR: Seorang bapak sambil menggendong putranya yang masih balita didampingi istrinya berupaya menyelamatkan diri dari bencana banjir.

Petugas gabungan juga melakukan evakuasi terhadap puluhan warga yang tinggal di Gang III Dusun Kraton. Bahkan, petugas sampai menerjunkan perahu karet milik BPBD Jember untuk menjemput warga ke rumah-rumah yang terendam banjir. Mereka kemudian dibawa ke lokasi yang lebih aman di Balai Desa Wonoasri. Di lokasi itu juga didirikan posko kesehatan dari Puskesmas Curahnongko.

Warga juga bergotong royong menyelamatkan penduduk yang terdampak dan harta bendanya. Setelah mengetahui air naik cukup cepat, warga membawa kendaraan bermotor dan ternak ke lokasi aman atau ke saudara terdekat yang rumahnya tak terdampak. Mereka menggunakan gerobak yang dipasang jeriken untuk mengangkut motor tersebut.

“Ada warga yang nekat keluar sendiri tanpa dievakuasi dengan perahu karet. Mereka meninggalkan rumahnya yang sudah terendam air hanya dengan pakaian yang dipakai saja. Rata-rata mereka tidak membawa pakaian karena air naik begitu cepat,” kata salah seorang polisi.

Helisa, 22, warga yang rumahnya terendam banjir, mengaku hanya membawa baju yang dipakai saja. “Saya bersama keluarga terpaksa mengamankan diri dan keluar dari rumah. Karena rumah sudah kebanjiran. Saya mau tinggal sementara di rumah keluarga,” ujarnya.

Tim SAR BPBD bersama petugas gabungan terus melakukan evakuasi warga rentan. Seperti yang dilakukan terhadap Yatmina, 80, warga Dusun Kraton yang sudah tidak bisa berjalan dan lumpuh. Dia dievakuasi menggunakan perahu karet dan dibawa ke posko kesehatan di Balai Desa Wonoasri. Demikian juga dengan Pak Su’an, 70.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di lokasi, air naik lagi sekitar pukul 13.00 dan sangat cepat. Sehingga warga yang semula rumahnya tidak terkena banjir juga dibuat panik karena air mulai masuk ke pekarangan mereka. Demikian juga dengan beberapa lembaga pendidikan seperti SDN Wonoasri 01 dan SMP PGRI 1 Tempurejo, juga tak luput dari genangan air. Bahkan, Balai Desa Wonoasri yang awalnya tidak banjir juga ikut terendam.

Kapolsek Tempurejo AKP M Zuhri mengatakan, pihaknya masih fokus mengevakuasi warga yang berada di paling ujung Gang III Dusun Kraton. Sementara, Pj Kepala Desa Wonoasri Budiono mengatakan, meski hujan yang turun tidak terlalu deras, tetapi luapan air datang secara tiba-tiba. Bahkan, besarnya luapan air hingga melompat di atas tangkis sungai.

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2