Online dan Konvensional Sepakat Berdamai, Zona Merah Dihapus

WAWAN DWI/RADAR JEMBER JADI TEMAN: Para pengemudi angkutan online dan konvensional kemarin membuat kesepakatan baru yang tak lagi berat sebelah. Usai menandatangani kesepakatan, mereka berjabat tangan simbol berdamai tanpa saling ganggu lagi.

RADARJEMBER.ID- Setelah melalui perundingan alot, akhirnya perwakilan angkutan online dan konvensional kembali menyepakati perjanjian baru. Kesepakatan ketiga ini sekaligus membatalkan kesepakatan sebelumnya, yang dinilai berat sebelah. Apalagi, kesepakatan kedua yang ditandatangani, Rabu (8/8) lalu, justru memunculkan kegaduhan antara pengemudi online dan konvensional, yang terjadi di depan Kodim 0824 Jember, baru-baru ini.

IKLAN

Kesepakatan yang berisi 13 butir tersebut dituangkan dalam deklarasi damai antara angkutan konvensional dan angkutan online. Agenda yang difasilitasi oleh Pemkab Jember ini, dihadiri sejumlah pemangku kepentingan. Yakni perwakilan pengemudi online, pengemudi konvensional, Organda, Yayasan Perlindungan Konsumen, serta bupati, dan Kapolres Jember.

Jika dibandingkan kesepakatan 8 Agustus lalu, nyaris semua isi dalam kesepakatan itu diubah. Bahkan, yang semula hanya sembilan butir, kini kesepakatan itu bertambah menjadi 13 butir. Hanya butir pertama dan kedua saja yang isinya tetap, tidak ada perubahan. Sisanya, isi dalam kesepakatan tersebut dirombak total.

Dari semua isi kesepakatan itu yang paling krusial adalah soal larangan pengambilan penumpang oleh angkutan online di kawasan rumah sakit dan sekolah yang berada di sepanjang trayek angkutan kota. Selain itu, juga kesepakatan titik penjemputan di dalam kawasan kota, baik untuk angkutan online, maupun konvensional. Seperti di Terminal Tawang Alun, Terminal Pakusari, dan Arjasa.

Tak hanya itu, pengaturan titik penjemputan juga dilakukan di Stasiun Jember, Rambipuji, dan Stasiun Arjasa. Titik penjemputan ini tidak ada dalam kesepakatan yang ditandatangani sebelumnya.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan, memang ada beberapa perbedaan yang disepakati dalam pertemuan kali ini. Menurut dia, jika sebelumnya angkutan online dilarang mengambil penumpang di kawasan rumah sakit maupun sekolah di sepanjang trayek angkutan kota, dalam kesepakatan yang baru ini larangan itu dihapus.

“Hasilnya adalah konvensional maupun online bisa masuk. Artinya, biarkan masyarakat memiliki kesempatan memilih angkutan yang diminati. Jadi tidak harus jalan dulu 200 meter untuk rumah sakit dan sekolah,” ujarnya.

Meski begitu, bagi angkutan online tetap tak bisa seenaknya mengambil penumpang di kawasan stasiun dan terminal. Ada titik-titik jemput yang telah ditentukan terhadap pengemudi angkutan berbasis aplikasi tersebut. Titik penjemputan itu juga dituangkan dalam kesepakatan yang ditandatangani bersama antara perwakilan angkutan online, dan konvensional, serta polres dan Pemerintah Kabupaten Jember ini.

Jadi sudah tak dibatasi jarak atau radius 300 meter dari terminal, maupun stasiun seperti kesepakatan sebelumnya. Di beberapa tempat angkutan online juga dilarang mangkal. Karena mereka memang tidak perlu mangkal. Karena pengemudi berbasis online bisa menjemput pelanggan berdasarkan pesan dalam aplikasi.

“Kalaupun ada yang duduk di suatu tempat, itu bukan pangkalan, tapi memang menunggu pelanggan yang sudah pesan di aplikasi. Dan apabila mereka tidak tertib, maka hal itu akan menjadi urusan kepolisian untuk menertibkan,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Jember Leon Lazuardi memastikan, kesepakatan itu akan diawasi oleh petugas dishub di lapangan. Semisal soal larangan mangkal bagi pengemudi online. “Menurutnya, hal itu sudah cukup jelas, dan diatur dalam kesepakatan tersebut. “Jika ada permasalahan nanti akan dikomunikasikan di level atas mereka sendiri. Dan kami siap untuk memfasilitasi lebih lanjut,” pungkasnya.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

Reporter :

Fotografer :

Editor :