Keluarga Korban Menilai Janggal

Predator Anak Hanya Divonis 2 Tahun

TUNTUT KEADILAN: Keluarga korban pencabulan menyayangkan vonis yang dijatuhkan majelis hakim terhadap pelaku pencabulan. Keluarga menilai, putusan itu terlalu ringan.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Kasus pencabulan anak di bawah umur yang dilakukan oleh RBW memasuki babak baru. Pelaku yang merupakan paman korban ini mencabuli keponakannya sendiri, AN, dan telah mendapat vonis dari majelis hakim Pengadilan Negeri Lumajang. Namun, orang tua korban yang juga saudara ipar pelaku, tak terima. Mereka bakal mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Lumajang untuk menuntut keadilan.

IKLAN

Ibu korban, DNF, merasa berang. Dirinya menyesalkan vonis tersebut, lantaran pelaku yang dinilai sudah merusak masa depan anaknya itu hanya dituntut hanya 3 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU). Bahkan, ibu berusia 34 tahun itu heran setelah mengetahui isi putusan yang dikeluarkan tanggal 7 Mei 2019. Isinya, memvonis terdakwa RBW hanya dengan penjara 2 tahun.

“Seharusnya tuntutannya 5 tahun, tapi kenapa kok hanya 3 tahun. Itu yang bikin saya kaget. Apalagi divonis hanya 2 tahun,” tuturnya. Seketika itu, perempuan tersebut tersedu. Dia tak kuasa berkata-kata. Matanya berkaca-kaca hingga mengeluarkan air dari sudut kelopak matanya.

Warga Kecamatan Lumajang itu akan menempuh keadilan. Sebab, mulai dari tuntutan hingga putusan yang dijatuhkan terhadap predator anak itu dianggapnya sarat dengan kejanggalan. Kata dia, hukuman bagi pelaku pencabulan anak di bawah umur seharusnya minimal 5 tahun penjara.

“Ada apa ini? Kenapa semuanya keluar dari dakwaan hukuman minimal 5 tahun. Ini kan jelas pencabulan anak di bawah umur, ada apa ini?” sesalnya.

Bahkan, menurut ibu korban, kondisi anaknya kini masih memprihatinkan, terutama kondisi psikisnya yang menurutnya sangat terpukul. Bahkan, akibat kasus pencabulan ini, jiwa putrinya juga terguncang. Hasil pemeriksaan dokter, butuh waktu lama untuk memulihkan kondisi korban.

“Kalau kondisi anak sekarang jiwanya masih trauma. Pikirannya seperti kosong begitu. Menurut dokter butuh waktu dan pengobatan yang lama untuk bisa memulihkan seperti keadaan semula. Kadang-kadang dirinya merasa seakan tangannya ada yang menggerakkan,” paparnya.

Untuk itu, ibu korban berencana mengajukan banding atas vonis yang dijatuhkan kepada RBW. Dirinya mendesak jaksa agar kasus ini ditangani serius dan mengedepankan asas keadilan bagi korban. “Saya meminta kasus ini benar-benar ditangani serius,” harapnya.

Kasus pencabulan ini baru diketahui setelah ibu korban mendapatkan kabar tersebut dari teman sekolahnya. Menurut dia, saat itu teman korban sempat mengirimkan pesan via WhatsApp yang menyatakan korban mengalami pencabulan. Informasi tersebut coba ditanyakan ke putrinya. Namun, beberapa kali anaknya tak mengangkat telepon. “Kemudian saya menelepon ibu saya yang tinggal serumah dengan anak saya untuk mengkroscek hal tersebut,” ceritanya.

Ibu korban sempat tak percaya peristiwa yang menimpa putrinya itu dilakukan oleh pamannya sendiri. Sebab, sejak anaknya kecil, dirinya memang menitipkan anaknya tersebut kepada orang tuanya. “Dan pamannya (pelaku) berulang kali bilang, sudah, biar saya yang menjaga anakmu. Kamu kerja saja” jelasnya, menirukan ucapan pelaku.

Dia menambahkan, setelah ditelusuri rupanya peristiwa itu terjadi sejak putrinya masih duduk di bangku SMP kelas satu, sekitar Juli 2015 lalu. Kini, korban telah duduk di bangku SMA dan mengaku masih trauma dengan peristiwa yang menimpanya. (*)

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : ahmad jafin

Editor : Mahrus Sholih