Mengenal FC Jede, Tim Futsal Beranggotakan Tunarungu

Juara Se-Jawa Timur, Orang Tua Kaget seperti Ada Indra Keenam

Suka olahraga, terlebih lagi sepak bola atau futsal? Coba tengoklah tim futsal FC Jede. Mulai dari pemain hingga pelatih, mereka adalah penyandang disabilitas tunarungu dan tunawicara. Meski demikian, mereka mampu menggocek si kulit bundar dengan baik. Bahkan, pernah menyabet juara tingkat Jatim, dan baru-baru ini juara di NPC Kejurkab Jember.

PESEPAK BOLA TULI: Skuad tim futsal yang terdiri atas anak-anak disabilitas tunarungu. Olahraga menjadi ajang mereka unjuk gigi serta berkomunikasi.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – SIANG itu, Sabtu (8/2) lalu, Lapangan Brigif 9 Kostrad di Jember tidak seperti biasanya. Pelajar yang memakai kostum olahraga tersebut banyak duduk di pinggir lapangan untuk berteduh. Walau banyak yang istirahat, tapi ada pertandingan yang masih berlangsung. Berada di tengah-tengah lapangan, terik matahari pun tak dihiraukan oleh kerumunan orang-orang yang menyaksikan laga final futsal NPC Jember itu.

IKLAN

Tetapi ada yang berbeda dalam pertandingan ini. Semuanya begitu sepi. Ibarat ponsel, laga ini dalam mode silent. Bahkan, wasit pun tak meniup peluit walau hanya sekali. Hanya mengandalkan bendera. Begitu pula dengan sang pelatih, salah satunya Bayu Yudansyah. Pelatih salah satu tim ini mulai berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan. Instruksi Bayu banyak memakai bahasa tubuh. Terkadang ucapannya pun terdengar samar-samar dan kurang jelas di pendengaran orang biasa.

Ya, mereka adalah pelajar disabilitas yang mengikuti National Paralympic Committee (NPC) Kejurkab Jember. Tepatnya, Tim FC Jede dari SMA LB Bintoro melawan YPAC Kaliwates dalam laga final Kejurkab NPC Jember. “Ini pertandingan futsal untuk tuan rungu. Mereka kan tidak begitu bisa mendengar, jadi tidak pakai peluit, hanya bendera,” ucap Agus Sabirin, panitia NPC.

Agus mengaku lebih menjagokan FC Jede, karena akhir 2019 kemarin, tim ini meraih Juara III di Surabaya dalam kompetisi futsal yang diikuti tim-tim futsal tunarungu di Jatim. Sayangnya, pada laga final Kejurkab ini, FC Jede yang tampil menawan harus menelan pil pahit terlebih dahulu. Dua gol langsung bersarang di gawang FC Jede.

Tertinggal dua gol, barulah mesin FC Jede itu memanas. Bayu Yudansyah, yang merupakan pelatih FC Jede, mulai berdiri dan memberikan instruksi dari pinggir lapangan. Sebagai pelatih, Yuda juga sesama tuli sama dengan para pemain FC Jede. Lewat insting bermain bola dan memahami pergerakan pemain, FC Jede mampu mengembalikan keadaan dan menang 6-2.

Bayu mengatakan, membentuk tim FC Jede ini bisa dibilang ada gampangnya, ada susahnya juga. Artinya, kata dia, ada beberapa pemain yang secara dasar paham sepak bola, ada yang tidak. Bagi yang belum paham, berarti harus sabar untuk berlatih dasar-dasar bermain bola. Yang penting baginya adalah ketertarikan terhadap bermain bola terlebih dahulu.

Hal yang tak kalah krusial adalah komunikasi antarpemain. “Kalau yang sudah berteman lama, komunikasinya enak. Tapi yang baru, harus ada adaptasi komunikasi,” terangnya dalam bahasa isyarat, didampingi seorang penerjemah bahasa isyarat.

Untuk mengantisipasinya, latihan rutin menjadi solusi agar antarpemain saling bertemu, termasuk juga berjumpa dengan pelatih. “Latihannya seminggu sekali,” tambah pria berusia 27 tahun ini.

Sementara itu, Purwanto, orang tua Zain, salah seorang pemain FC Jede, mengaku sempat khawatir saat mengetahui putranya ikut futsal. Namun, begitu memantau permainan anaknya selama pertandingan futsal, rasa takjub, kaget, sekaligus bangga langsung muncul. “Awalnya ya takut kenapa-kenapa, karena anak saya kan tuli. Tapi dia seperti punya indra keenam. Tidak pernah tanya taktik bola dan lainnya, ternyata itu tahu,” jelasnya.

Bahkan, bila dihitung-hitung, masa belajar sepak bola Zain termasuk cepat dan tidak kalah dengan anak-anak normal. Pria yang juga berprofesi sebagai dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Jember ini tak menampik jika olahraga adalah salah satu cara yang baik untuk memberikan tunarungu ruang berkomunikasi. “Tunarungu itu harus bisa berkomunikasi total. Tidak harus bisa bahasa isyarat, karena tidak semua orang paham bahasa isyarat,” jelasnya.

Lewat perkembangan teknologi, kata dia, komunikasi total tunarungu tidak sekadar memahami bahasa tubuh dan bibir saja. Lebih dari itu, mereka juga bisa paham nama benda dan tulisannya. Termasuk bisa berkomunikasi dengan sosial media. “Kadang anak itu hanya paham gambar bola yang bulat, tapi benda seutuhnya tidak paham. Makanya, olahraga jadi media tepat untuk tunarungu bisa memahaminya secara keseluruhan,” pungkasnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti