Rais Syuriah PCNU Lumajang Mengerucut Kiai Husni 

STISMU FOR RAME KH Husni Zuhri

LUMAJANG – Persaingan ketat diperkirakan terjadi dalam Konferensi Cabang (Konfercab) PCNU Lumajang untuk posisi ketua tanfidz. Namun, untuk rais posisi rais syuriah naga-naganya tidak. Sebab, sampai kemarin, Kiai Husni Zuhri yang kini masih menjadi rais syuriah 2013-2018 tetap paling menguat. Justru ada anggapan akan ada sedikit gesekan jika Kiai Husni enggan dicalonkan.

IKLAN

Memang dalam Konfercab PCNU Lumajang, konsentrasi suksesi lebih banyak pada ketua tanfidz. Tapi bukan berarti posisi rais syuriah tidak penting. Sebab, akan jadi panutan selama kepengurusan tanfidziyah.

Dalam Konfercab kali ini, posisi rais syuriah sepertinya mengerucut hanya pada satu nama. Yakni Kiai Husni Zuhri atau sering disebut Ra Husni. Tak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Ulum yang menjadi tempat digelarnya Konfercab PCNU Lumajang.

Abdul Wadud Nafis, salah satu kandidat juga tidak mengelak kondisi tersebut. Melalui pesan singkatnya dia menyebutkan nama Kiai Husni yang masih kuat menjadi rais syuriah. “Iya, Kiai Husni rais syuriahnya,” tulis Gus Wadud saat memberikan respons kepada Jawa Pos Radar Semeru.

Pun juga dengan tokoh-tokoh muda NU. Di antaranya Fahrur Rozi yang merupakan ketua GP Ansor. Gus Eros sapaan akrabnya lebih terang-terangan mengakui pengaruh Kiai Husni masih kuat. “Selama Kiai Husni berkenan, tidak akan ada perubahan,” jelasnya.

Akan terjadi perubahan peta jika nantinya Kiai Husni tidak berkenan melanjutkan menjadi Rais Syuriah PCNU Lumajang. Atau melepas posisinya yang saat ini sebagai Rais Syuriah. “Maka akan menjadi persaingan serius nanti. Walaupun tidak begitu ketat,” katanya.

Sejumlah tokoh memang ada yang sempat menyebut nama lain. Di antaranya KH Khozin Barizi yang tak lain adalah pengasuh Pondok Pesantren Darun Najah, Desa Petahunan, Kecamatan Sumbersuko. Seperti yang disampaikan Gus Mas’ud yang tak lain adalah bakal calon ketua dewan tanfidz. Namun tidak banyak.

Sementara itu, Khatib Syuriah PCNU Ahmad Qusayri mengakui memang dalam pemilihan Rais Syuriah bukan pilihan langsung. Tetapi dipilih ahwa atau para kiai. Dan langkah itu juga sudah direspons oleh PCNU dengan mengedarkan serap aspirasi.

Isinya, setiap MWC mengajukan 5 nama calon rais syuriah. Nantinya disaring dari ranting-ranting. Lalu sebelum pemilihan rais syuriah nanti akan di-rangking siapa yang diusulkan. Lima peringkat tertinggi diambil. Kemudian dirundingkan.

Dan sejauh ini, yang banyak jadi pembicaraan dan dukungan diakui memang pada Kiai Husni. “Banyak memang yang mengusulkan dari serap aspirasi itu. Namun ada juga yang mengusulkan yang lainnya. Hanya saja belum tahu siapa,” jelasnya.

Pria yang juga menjabat sebagai ketua Fatwa MUI ini mengatakan, meski suara terbanyak, belum tentu terpilih. “Ketika Ra Husni menunjuk Gus Ghozin misalnya, ya tidak masalah. Nanti lima kiai itu akan berembuk. Walaupun dapat suara terkecil tetapi disepakati jadi rais syuriah, ya tidak masalah,” jelasnya.

Sementara itu, untuk calon ketua tanfidz, memang kemarin sempat ada empat nama. Namun, bukan berarti tidak ada calon lain yang bakal jadi kuda hitam. Sebab, di antaranya ada tokoh-tokoh muda yang juga mendapat dukungan.

Seperti Gus Amam. Gus Dun, dan juga Gus Lutfi. Memang  tidak sekuat empat calon yang diberitakan kemarin. Namun, mulai tumbuh dari arus bawah. Gus Amam misalnya. Murni dari MWC sendiri. Beda dengan yang lain yang belum tentu MW-nya mendukung dan punya ikatan kuat. “Sudah punya 27 suara (dua dari MWC),” ungkap Fahrur Rozi. (fid/c2/aro)

Reporter :

Fotografer :

Editor :