Setelah Digagalkan, Malah Jadi Dosen

Zainul Hidayat, SE, MM

RADAR JEMBER.ID – UNTUNG tak bisa raih, malang tak bisa ditolak. Barangkali itulah yang bisa direfleksikan oleh sosok Zainul Hidayat SE MM. Dia sempat digagalkan kelompok tertentu ketika lulus rekrutmen pegawai. Namun, hidupnya bukannya tenggelam. Dia malah jadi dosen tetap.

IKLAN

Zainul Hidayat ini bisa dibilang sebagai sosok yang dikenal luwes. Dia begitu istiqamah dan ikhlas menjalani seluruh perjalanan hidupnya. Kini dia adalah seorang dosen di perguruan tinggi ternama di Lumajang.

Dia mengawali petualangan hidupnya sejak kuliah 1997 lalu. Sejak semester 2, laki-laki berkacamata ini mulai gemar tulis-menulis dan juga tertarik pada media. “Sudah menjadi dunia saya sejak kuliah. Menulis berubah menjadi hobi dan kesenangan tersendiri, sampai dipercaya untuk mengelola majalah di Universitas Bangkalan, yang sekarang menjadi Universitas Turnojoyo,” jelasnya.

Pada 2001, dia sempat bergabung dengan majalah pemerintah bernama Mahameru. Dia sebagai sekretaris redaksi. Di situ dia punya pencapaian yang sangat membanggakan. Bisa wawancara langsung dan dipercaya oleh orang nomor satu di Lumajang.

Keistiqamahan dan keikhlasannya menulis membuatnya juga didorong menjadi dewan redaksi sejumlah komunitas. Dunia itulah yang sampai saat ini dia geluti di samping menjadi seorang dosen.

Zainul mengenang kisahnya silam. Dia menilai, kebanyakan orang berpikiran pekerjaan berjas merupakan pekerjaan menjanjikan bagi seseorang warga negara. Itulah yang mendorong dia mendaftar pada rekrutmen salah satu institusi. Zainul yang sudah melalui banyak seleksi akhirnya lolos. Hanya tinggal pelengkapan data-data dan administrasinya.

Namun siapa sangka, di tengah proses pelengkapan itu ada pihak-pihak yang usil. Dia pun digagalkan begitu saja. Dari ratusan orang yang diterima, hanya dia satu satunya yang digagalkan. “Di situlah ujian yang membuat saya belajar untuk ikhlas dan menerima takdir. Entah bagaimana ke depannya, tetapi saya yakin yang terbaik menurut Allah akan saya terima,” ujarnya.

Di tengah-tengah ikhtiar dan usahanya yang sudah maksimal, Zainul terus beranggapan agar takdir dan doa bertarung di langit. Dia pun berprinsip jangan mudah menyerah pada sesuatu. Harus berusaha. Perkara takdir lain. Sebab, di situ seseorang sedang dihadapkan pada sesuatu yang lebih tepat dan baik. “Dari pengalaman itu saya selalu berpikiran, dalam melakukan apa pun harus secara istiqamah dan serahkan pada Allah. Bagaimanapun hasil akhirnya, kita harus ikhlas. Karena tidak semua sesuai dengan keinginan,” ujarnya.

Ternyata keyakinannya itu benar. Akhirnya dia diterima menjadi seorang dosen. Dia merasa, dosen adalah jalan hidupnya. Dia menikmati proses sebelum bisa duduk menjadi sosok yang berguna bagi penerus bangsa dengan menyalurkan ilmu yang dimiliki. “Orang mulia adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain, bukan yang bekerja memakai jas atau lainnya,” tambahnya.

Berkat keikhlasannya itulah, sekarang dia dipercaya sebagai dosen dengan jabatan Kepala UPT Humas dan Publikasi di kampusnya sejak tahun 2017. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : istimewa

Editor : Mahrus Sholih