Dampak Positif Teknologi

RADAR JEMBER.ID – Khataman Alquran yang dilakukan oleh masyarakat terus berkembang. Tak hanya dilakukan dengan cara tatap muka, tapi sekarang semakin canggih. Yakni melalui grup WhatsApp. Caranya, membagi setiap juz dalam Alquran pada anggota grup.

IKLAN

“Kebiasaan ini muncul pada semua muslim,” kata dosen Fakultas Syariah IAIN Jember, Muhaimin. Baik dari kalangan muslim modern maupun muslim tradisionalis yang berbasis pesantren. Semua melakukan khataman melalui aplikasi WhatsApp.

Bila selama ini hal yang bersifat simbolis selalu dilakukan oleh muslim modern, namun berbeda dengan khataman via WhatsApp. Hal itu juga dilakukan muslim modernis yang lebih pada penguatan tradisi. Namun, bukan berarti tadarus yang dilakukan secara tatap muka di musala atau masjid juga dilakukan.

Menurut dia, khataman Alquran melalui media sosial tidak mengikat pada golongan tertentu. Semua melakukannya untuk menambah pahala, terutama dalam meningkatkan ibadah di bulan puasa.

“Ini gaya hidup baru, interaksi lintas daerah,” jelasnya. Sebab, untuk mengkhatamkan Alquran tidak perlu lagi berkumpul di satu tempat. Namun, dengan jarak jauh juga bisa melakukannya.

Hal ini semakin membentuk solidaritas dan interaksi manusia. Menjadi program yang positif dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tak hanya di bulan puasa. Namun khataman Alquran juga bisa dilakukan di bulan yang lain.

Ini menjadi fenomena semangat keberagamaan yang massif bagi semua level. Menjadi pencair antara muslim simbolik yang normatif dengan muslim tradisional yang substansialis.

Kendati demikian, khataman secara langsung atau bertatap muka tetap memiliki keunggulan sendiri. Bisa menyimak secara langsung dan men-tashih bila ada bacaan yang belum benar. Hal ini tidak bisa dilakukan melalui khataman via WatshApp.

“Khataman bertatap muka ada peluang di-tashih,” ujarnya. Selain itu, suasana kebatinan juga berbeda ketika bertemu secara langsung. Warga bisa berinteraksi secara langsung dan bisa saling berbagi.

Namun, khataman Alquran secara digital juga menunjukkan manfaat dari teknologi itu sendiri.  Ada nilai religius yang tampak di dalamnya.  “Pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran secara kolektif,” terangnya.

Ketika mengikuti program hafalan via WhatsApp ini, kejujuran seseorang diuji. Sebab, ketika dia menyanggupi untuk menyelesaikan satu juz, maka harus selesai. “Apabila ada yang tidak selesai, tidak ada hukumnya, namun ada sanksi sosial dan secara etika tidak baik,” paparnya. Bila tak mampu menyelesaikan satu juz, harus melapor pada penanggungjawabnya. Agar dilanjutkan oleh orang lain. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : dwi siswanto

Editor : Hadi Sumarsono