Tadarusan Lewat Whatsapp Kurang Syarat

Bukan Tadarus, tetapi Tetap Bagus

RADAR JEMBER.ID-  Tidak dimungkiri, pesatnya perkembangan teknologi juga memengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Contoh yang lagi tren pada bulan Ramadan saat ini yaitu bertadarus melalui grup WhatsApp (WA). Nah, bacaan Alquran pada WA tersebut masih belum cukup syarat untuk bisa disebut tadarus, tetapi tetap bagus.

IKLAN

Secara khusus, wartawan Radarjember.id bersilaturahmi ke takmir Masjid Jamik Al-Baitul Amien, Jember. Di masjid ini, tadarus pada bulan Ramadan terus dilakukan secara rutin. Dalam tadarus, normalnya terdapat sejumlah syarat untuk bisa disebut tadarus.

Menurut Drs H Hasyim Syafrowi MPdI, tadarus memiliki arti secara umum, yaitu pembacaan kitab suci Alquran secara bersama-sama. “Kalau di masjid jamik ini, kami mendatangkan sejumlah qari, ada yang sudah hafiz, ada juga yang belum. Qari yang didatangkan rata-rata sudah baik,” katanya.

Hasyim menjabarkan, untuk bisa disebut tadarus maka semua persyaratannya harus terpenuhi. Pertama, ada orang yang membaca, dan kedua terdapat orang yang menyimak atau mendengarkan. Dengan begitu, apabila terdapat bacaan Alquran (huruf dan tajwid, Red) yang salah, maka harus dibenarkan.

“Saat pendengar menegur untuk membenarkan bacaan pembaca, maka bacaan Alquran harus berhenti. Kemudian, pembaca mengulangi bacaan yang salah itu. Jadi, tadarus harus bersama-sama, minimal dua orang atau bisa lebih, bukan sendiri,” papar Hasyim.

Dia menyebut, apabila ada huruf hijaiyah dan tajwid yang dibaca salah, maka berpotensi pada arti yang berbeda. Untuk itulah, tadarus harus dilakukan bersama-sama. “Jadi, tadarus itu bukan membaca sendiri. Tetapi bersama-sama. Pembaca dan pendengar sama-sama mendapat pahala. Pentingnya bersama, itu untuk membenarkan bacaan yang salah,” ucapnya.

Hasyim menegaskan, bertadarus melalui WA belum bisa disebut tadarus, karena kurang memenuhi syarat. Menurutnya, pembacaan Alquran di WA memang sudah ada pembaca dan pendengar. Akan tetapi, pada saat ada bacaan huruf dan tajwid yang salah, tidak secara otomatis bisa dibetulkan.

“Mungkin, pembaca Alquran di grup WA sudah bagus-bagus. Meski demikian, belum bisa disebut tadarus. Kalau mendengar memang bisa didengarkan. Tetapi kalau misalnya ada bacaan yang salah, bagaimana membetulkannya. Makanya, tadarusan di WA masih disebut membaca Alquran sendiri,” urainya.

Sekali pun bukan tadarus, pembacaan Alquran pada grup WA menurut Hasyim sangat bagus. Apalagi, banyak anak-anak muda atau orang yang sibuk, terkadang tidak sempat membaca Alquran.

“Membaca Alquran sendiri, kemudian dikirim pada group WA, dengan pembagian masing-masing juz tetap bagus. Artinya, orang yang membaca Alquran itu bagus. Walaupun tidak bisa disebut tadarus, terus saja lakukan karena pahalanya juga kembali pada pembacanya. Orang yang membaca dan mengirimnya ke WA tetap dapat pahala,” paparnya.

Hasyim mengungkap, membaca Alquran, sekalipun sendirian, tetap mendapat pahala serta bermanfaat bagi pembacanya. Salah satu manfaat membaca Alquran menurutnya seperti dalam surat An-Nahl ayat 70. “Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkanmu, dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa,” ucap Hasyim yang hafal Ayat tersebut.

Untuk itu, Hasyim tetap menilai beruntung bagi orang-orang yang membaca Alquran sekalipun membacanya sendiri di rumah. Meski demikian, Hasyim menyarankan agar tetap membaca Alquran dengan tadarus secara normal. “Kalau kita hanya membaca sendiri saja terus-menerus, bisa jadi kita apatis. Setidaknya jangan sampai meninggalkan tadarus yang normal. Banyak manfaatnya, termasuk menjalin silaturahmi,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri

Fotografer : nur hariri

Editor : Hadi Sumarsono