Bisa Sembuh Dengan Sendirinya

Daya Bunuh Korona Lebih Rendah dari Sars

SIAGA: Petugas medis di RSD dr Soebandi terus bersiaga di ruang isolasi khusus virus korona. Sejak pengumuman ada WNI terkena korona, ada peningkatan kewaspadaan menanggulangi virus dari Tiongkok tersebut. 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kewaspadaan terhadap virus korona semakin meningkat sejak Presiden RI Joko Widodo mengumumkan ada WNI yang tinggal di Indonesia positif Covid-19 atau korona. Ditambah lagi, seorang WNA di Bali yang mengidap korona juga meninggal. Hanya saja, masyarakat tetap diimbau agar tidak panik, karena daya bunuh korona itu rendah.

IKLAN

Dokter spesialis paru RSD dr Soebandi, dr Angga M SpP mengatakan, sejak diumumkan Indonesia kemasukan Covid-19, maka rumah sakit yang ditunjuk untuk menangani pasien terpapar korona diminta mengirimkan dokternya dalam pertemuan di Jakarta. Angga yang mewakili RSD dr Soebandi ini menjelaskan, petugas-petugas kesehatan diminta meningkatkan kewaspadaan. Selain itu, membentuk tim penanganan kesiagaan Covid-19.

Angga yang masuk tim penanganan kesiagaan virus korona di RSD dr Seobandi menuturkan, dalam tim tersebut tak hanya dia saja, tapi petugas medis lainnya seperti perawat, dokter spesialis anestesi, spesialis THT, dan lainnya. “Untuk kesiapan RSD dr Soebandi ada ruangan isolasi khusus dengan delapan bed,” jelasnya.

Selain menyiapkan fasilitas penanganan, kata dia, juga ada orang-orang yang dalam pemantauan tim medis. Sejauh ini memang belum ditemukan kasus Covid-19 di Jember, baik yang suspect maupun yang positif. “Tapi ada orang yang dalam pemantauan,” terangnya.

Orang yang dalam pemantauan tersebut adalah mereka yang pernah bepergian ke luar negeri selama kasus korona merebak, termasuk ke Tiongkok. “Jadi, ada warga masuk ke Indonesia yang tidak ada masalah dengan kesehatan, imigrasi tetap mencatat. Selanjutnya, dilaporkan ke Dinkes,” tuturnya.

Angga menambahkan, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) mereka yang dari luar negeri terus dipantau. Pria yang juga dosen di Fakultas Kedokteran (FK) Unej ini mengaku, tak habis pikir dengan terjadinya kepanikan yang berlebihan di masyarakat Indonesia akibat Covid-19. “Karena antara sensasi daripada risikonya itu beratnya berbeda,” sebutnya.

Bahkan, kata dia, faktor risiko atau daya bunuh virus korona hanya tiga persen. “Daya bunuhnya itu masih jauh lebih tinggi mers dan sars,” terangnya. Covid-19 memang bisa menyebar secara cepat ke berbagai negara, hingga ke belahan benua lainnya. Namun, untuk daya bunuhnya tidak sehebat penyebarannya.

Masyarakat pun diminta untuk melakukan pola hidup sehat guna mencegah Covid-19. Di antaranya dengan mengonsumsi makanan bergizi, istirahat yang cukup, olahraga, dan menjaga kebersihan lingkungan, termasuk membiasakan mencuci tangan. “Waspadanya itu kalau ada orang batuk dan sesak napas, kami ingatkan untuk memakai masker dan periksa. Jangan di foto-foto (untuk diunggah di medsos, Red), itu salah,” paparnya.

Sementara itu, Business Development Head Division Rumah Sakit Siloam Jember dr I Bayu Angga D mengaku, untuk penderita penyakit batuk-batuk atau penyakit saluran pernapasan memang meningkat. Namun, beruntung masyarakat Jember tidak terjadi kepanikan berlebihan seperti di ibu kota. “Walau begitu, kami tetap melakukan prosedur dengan melakukan pemeriksaan lebih lanjut,” terangnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih