Ansor Ingin NU Dipimpin Kader Matang

LUMAJANG – Tantangan NU ke depan dinilai lebih berat. Selain era modernisasi, ancaman bagi keutuhan NKRI juga jadi lawan bersama. Oleh karena itu, GP Ansor berharap ketua NU nanti berasal dari kader yang memiliki jenjang kaderisasi yang matang. Tidak ujug-ujug jadi.

IKLAN

Sebagai organisasi kepemudaan NU, GP Ansor berharap PCNU ke depan betul-betul mampu menghadapi dan mengimbangi tantangan. Tentu tantangan untuk mempertahankan NKRI dan Islam Ahlusunah Waljamaah, Islam Nusantara.

Oleh karena itu, dibutuhkan calon ketua yang memiliki proses kaderisasi yang jelas dan berjenjang di NU sendiri. “Lebih-lebih kalau sudah berpengalaman mulai dari IPNU, di Ansor sebagai gerakan kepemudaan, atau di PMII sebagai organisasi kepemudaan NU,” ujar ketua GP Ansor Lumajang, Fahrur Rozi.

Dia menilai, tidak bisa pemimpin itu langsung jadi. “Suksesor tumbuh beriringan dengan bangsanya. Pemimpin NU ke depan harus betul-betul dari proses kaderisasi yang jelas dan kongkret. Apalagi, sekarang ada pelatihan kader putra NU untuk mengalahkan liberalisme dan komunisme. Semua jenjang itu harus diikuti sebagai fondasi,” jelasnya.

Maka, harapan GP Ansor, ketua yang akan datang mampu menjalankan amanah organisasi didasarkan proses kaderisasi yang baik dan berjenjang. “Kata Ken Arok, pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan. Jadi, ada proses, bukan ujug-ujug jadi,” ungkapnya.

Kedua, lanjut dia, mampu menjaga keseimbangan dengan birokrasi. Membangun komunikasi yang baik dan terencana, sustainable yang baik dan terikat. Sehingga, organisasi NU bisa beriringan membangun pemerintah.

Dia menegaskan, ketua NU bukan berasal dari politisi. Harus orang-orang yang konsisten di jalur gerakan NU. “NU ini bukan politisi, NU ini ketuanya pesantren di Lumajang. Jadi, harus dilahirkan dari lembaga NU,” tegasnya. (fid/c2/sh).

Reporter :

Fotografer :

Editor :