Berdinding Kayu dan Nyaris Ambruk

Kondisi Gedung MI dan MTs Raudhatul Jannah Memprihatinkan

SIDAK SEKOLAH RUSAK: Kapolsek Silo AKP Suhartanto saat melihat langsung kondisi Gedung MI dan MTs Raudhatul Jannah di Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, yang sudah tidak layak ditempati untuk kegiatan belajar mengajar.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kapolsek Silo AKP Suhartanto bersama Bhabinkamtibmas Desa Mulyorejo Silo Bripka Acep Jaelane dan anggotanya sudah bersiap dengan motor trail miliknya. Awalnya, mereka hendak berkendara dengan mobil, namun medan yang curam dan berbahaya membuat rencana itu terpaksa diurungkan.

IKLAN

Iring-iringan trail ini pun menempuh perjalanan kurang lebih 1,5 jam menuju kawasan Dusun Baban Timur, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo. Tepatnya di sebuah lahan milik Perhutani. Ini tergolong cukup cepat, karena jika hujan turun, jalan yang dilalui sangat berlumpur dan lebih berbahaya lagi sehingga harus melaju perlahan. Dua motor trail yang dikendarai kapolsek dan kanitreskrim bahkan sampai bocor ketika tiba di lokasi. Akibatnya, dua kendaraan tersebut terpaksa tetap dikendarai walaupun kondisi bannya bocor, karena tidak ada tukang tambal ban di kawasan tersebut.

Ke mana mereka? Rombongan Polsek Silo ini sengaja berkendara ke pelosok Dusun Baban Timur untuk meninjau sebuah bangunan yang dibuat seperti rumah panggung, terbuat dari papan sirap dan beratap asbes. Lokasinya berada di puncak gunung, jauh dari perkampungan warga. Kondisinya sudah mengenaskan. Beberapa bagiannya lapuk dimakan rayap. Bahkan, tepat di belakangnya adalah jurang yang cukup curam.

Di salah satu tersebut tampak beberapa tumpukan buku di atas dua meja berjajar. Sebuah papan tulis sederhana tertempel di sisi lain bangunan. Lho, memangnya bangunan apa ini?

Tak bisa diduga banyak orang, ini adalah sebuah bangunan sekolah. Tepatnya MI Raudhatul Jannah, yang dihuni 22 siswa. Sangat tidak layak, nyaris terisolasi, namun menyimpan sejuta asa siswa dan guru di dalamnya.

Kepala MI Raudhatul Jannah, Siti Fatimah mengaku, gedung sekolah yang terbuat dari kayu ini dibangun tahun 2012 lalu. Tetapi sekarang kondisi ruang kelas berukuran 3,5 X 2,5 meter ini sangat mengenaskan. Hanya tinggal satu ruang kelas yang bisa ditempati. Itu pun sebenarnya juga tidak layak ditempati kalau hujan turun.

Hadirnya MI Raudhatul Jannah ini berawal setelah banyak siswa SDN yang jarang masuk sekolah jika musim penghujan tiba. Medan yang sulit, jalan yang naik turun dan licin menjadi alasan, sehingga banyak yang tidak masuk sekolah. Untuk membangun gedung sekolah yang dimodel panggung itu menggunakan hasil sumbangan dari warga yang anaknya ingin tetap sekolah. “Dengan sumbangan seiklasnya, sekolah dibangun tahun 2012 dengan menggunakan sirap dan beratap genting dari asbes,” ujar Siti Fatimah.

Beberapa tahun belakangan ini, kondisi sekolah sudah semakin parah karena dimakan usia. Bangunan yang berada di atas tanah milik Perhutani ini juga tidak mungkin direhabilitasi secara optimal seperti sekolah pada umumnya. “Saya tidak ingin bantuan apa-apa dari pemerintah, yang terpenting bangunan yang berada di lahan milik Perhutani ini ada perbaikan. Sejak dibangun 2012 lalu, tidak pernah mendapat bantuan. Bahkan kepala desa saja belum pernah tahu kalau di puncak ada sekolah MI,” ujar Siti sembari menghela napas panjang.

Kebanyakan siswa MI ini merupakan anak-anak buruh hutan setempat. Jika sudah memasuki musim penghujan, para siswa terpaksa naik ke musala untuk mengikuti KBM. “Karena selain ada MI, di puncak gunung ini ada juga MTs yang siswanya ada enam orang,” kata dia.

Kapolsek Silo AKP Suhartanto langsung meluncur begitu mengetahui kondisi sekolah ini dari media sosial. “Untuk menuju lokasi saja cukup jauh, dan harus ditempuh dengan menggunakan kendaraan motor trail,” ujarnya.

Dirinya berharap pemerintah terkait bisa memberikan bantuan rehabilitasi pada sekolah yang sudah tak layak huni ini. Sebab, bagaimanapun anak-anak yang bersekolah di MI ini harus mendapat perhatian dari pemerintah. “Yang bersekolah di MI ini juga anak-anak bangsa, calon penerus bangsa, sehingga harus juga diperhatikan,” tegasnya.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti