Lepaskan Empat Warga dari Pasungan

BUKA GEMBOK: M Nauval, pendamping ODGJ pada Kantor Dinsos Jember, saat membuka kunci gembok yang membelenggu kaki Ismail, seorang penyandang disabilitas psiko-sosial di Desa Karangsono, Bangsalsari.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Penanganan penyandang disabilitas psiko-sosial masih menjadi masalah bagi sebagian orang. Mereka kerap menggunakan cara pemasungan karena menganggap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) rawan mengamuk atau melukai orang lain. Padahal, selain melanggar hak, pemasungan itu justru memperparah kondisi si penyandang disabilitas psiko-sosial tersebut.

IKLAN

Kemarin (11/3), Pemkab Jember melalui dinas kesehatan dan dinas sosial membebaskan empat warganya dari pasungan. Selanjutnya, mereka akan dikirim ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Lawang di Malang, untuk mendapat pengobatan.

Keempat ODGJ itu adalah Abdullah, 40, warga Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang, dan Ahmad Fajar, 39, warga Dusun Krajan, Desa Wonoasri, Kecamatan Tempurejo. Berikutnya adalah Agus, 35, warga Desa Mlokorejo, Kecamatan Puger, dan Ismail, 36, warga Dusun Gumukrejo, Desa Karangsono, Kecamatan Bangsalsari.

Informasi yang diperoleh, dua ODGJ, Abdullah dan Ismail, dipasung oleh keluarganya karena dianggap membahayakan keselamatan orang lain. Sementara itu, dua ODGJ yang lain, yakni Agus dan Ahmad Fajar, merupakan penyandang disabilitas psiko-sosial yang ditemukan hidup liar.

Saat Jawa Pos Radar Jember melihat langsung prosesi pelepasan pasung itu, kehidupan para ODGJ tersebut cukup miris. Ismail, misalnya, dia dipasung selama delapan tahun. Dua tahun dia jalani di luar rumah. Sisanya atau enam tahun lamanya, dia dikurung dalam kamar berukuran 2,5 x 3,5 meter dengan kaki dirantai. Ismail menjalani hari-harinya di dalam kamar dengan ventilasi yang minim dan pengap. Kondisi lantai juga kotor sehingga terasa tidak nyaman.

Saat pembebasan Ismail, petugas sempat kesulitan membuka gembok yang dipasang di bagian kaki kiri. Sebab, kunci gembok yang sudah karatan itu tak bisa dibuka. Setelah lama tak berhasil, akhirnya petugas membuka paksa dengan menggunakan gergaji besi. Rupanya, usaha itu juga gagal. Kemudian, petugas memotong rantai yang mengikat kaki Ismail menggunakan gunting besi berukuran besar.

Satumin, ayah Ismail, mengaku terpaksa memasung anaknya karena sering mengancam warga menggunakan senjata tajam. Karena takut terjadi apa-apa dengan anaknya, lelaki 65  itu pun membelenggu putranya itu menggunakan rantai.

Menurutnya, setelah dua tahun dipasung di samping rumah, kemudian dia membuatkan kamar khusus lengkap dengan kamar mandi untuk anaknya tersebut. Kendati sudah dikurung dalam kamar, Ismail masih tetap dirantai di bagian kaki. Selanjutnya, tiap ujung rantai itu digembok.

Kepala Desa Karangsono, Bangsalsari, Ahrul Fatah berharap, Ismail yang merupakan salah seorang warganya itu bisa sembuh dari penyakit yang diderita. “Saya selaku kepala desa meminta doa kepada semua warga agar Pak Ismail bisa sembuh,” ujarnya.

Fatah mengaku, sebenarnya beberapa tahun lalu, pihak desa sudah berkoordinasi dengan Dinsos Jember untuk mengobatkan Ismail ke RSJ Lawang. Hanya saja, keluarga menolak. “Sehingga kami tidak berani memaksa,” tuturnya.

Sementara itu, Sumiyah, ibu Ahmad Fajar, mengaku sudah lima kali membawa anaknya ke RSJ Lawang. Di rumah, anaknya tersebut memang tak dipasung. Fajar dibiarkan hidup bebas dan bisa jalan-jalan. Namun, saat jalan-jalan itu anaknya sering mengganggu warga dan tetangga. Bahkan juga kerap memukul. “Mudah-mudahan setelah dibawa yang keenam ini ada perubahan. Saya juga khawatir dengan keselamatan anak saya kalau tiba-tiba memukul warga,” pungkasnya.

M Nauval, pendamping ODGJ dari Dinsos Jember, menjelaskan, keempat warga Jember yang mengalami sakit kejiwaan itu akan dibawa ke RSJ Lawang guna mendapat pengobatan dan perawatan. “Harapannya, mereka bisa kembali normal,” ujarnya.

Kala itu, Nauval tak sendiri, dia didampingi Wenda Dwi Wardana, petugas Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jember. “Jember harus bebas pasung. Kalau ada keluarga yang sakit kejiwaan, jangan langsung dipasung. Karena dengan melakukan pemasungan tidak akan menyelesaikan masalah,” imbuh Nauval.

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Mahrus Sholih