alexametrics
24.4C
Jember
Tuesday, 19 January 2021
Mobile_AP_Top Banner

Truk Sampah Batal Mogok

Beroperasi dengan Bantuan Warga

Desktop_AP_Leaderboard
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Truk sampah yang pekan kemarin dikabarkan akan berhenti beroperasi hari ini (12/1), mulai ada titik terang. Armada pengangkut limbah rumah tangga itu batal mogok dan akan terus aktif di pekan kedua Januari 2021 ini. Sebab, meski belum ada anggaran operasional untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), tapi mulai muncul bantuan dari masyarakat hingga pengusaha.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Arismaya Parahita sempat menyatakan, aktivitas pengangkutan sampah darurat itu hanya berlangsung sepekan. Itu karena dana BBM dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) belum ada kepastian. “Janji saya memang hanya seminggu, tapi alhamdulillah akan terus aktif lagi untuk mengangkut sampah di beberapa depo (tempat pembuangan sampah sementara, Red),” tuturnya.

Kepastian truk sampah terus beroperasi walau belum ada kepastian cairnya anggara BBM dari APBD, karena banyaknya partisipasi masyarakat hingga pengusaha yang membantu. Meski demikian, Arismaya belum bisa menghitung berapa kekuatan dana BBM yang telah terkumpul secara mandiri tersebut. “Kami masih menghitung berapa lama truk sampah terus beroperasi,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pria berkacamata itu menambahkan, dana bantuan dari partisipasi warga serta beberapa pengusaha ini terdapat laporan yang jelas. Ini disebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sebab, sejatinya dana BBM tersebut sudah ada alokasinya meski Jember memakai Perkada APBD. BBM truk sampah adalah menu wajib lantaran bersifat mengikat dan belanja yang bersifat rutin.

Dana bantuan itu, kata dia, bisa juga dikembalikan ke pemberi bantuan. Bergantung pada akad awalnya seperti apa. Apa dalam bentuk pinjaman, atau pemberian dan tidak usah dikembalikan. Bila bentuknya pinjaman atau talangan seperti uang pribadi sopir, akan dikembalikan. Sedangkan bila dana itu murni pemberian, maka saat APBD cair akan dipakai untuk program-program tentang sampah hingga keperluan pemberdayaan masyarakat yang ada kaitannya dengan sampah.

Kepala Bidang Pengolahan Kebersihan dan Sampah DKLH Jember Adrian S Sapnadi menambahkan, untuk menyelesaikan persoalan limbah domestik ini tidak hanya mengambil sampah dari TPS dan dibuang ke TPA. Namun lebih kompleks dari hal tersebut. “Kalau seperti itu ibarat memindahkan masalah ke tempat lain,” tuturnya.

Dia mengaku, pada awal molornya pencairan anggaran BBM akhir 2020 kemarin, sampah di TPA Pakusari sempat menggunung. Nihilnya bahan bakar membuat alat berat yang dipakai tidak bisa bekerja maksimal. “Alat berat itu butuh BBM lebih banyak lagi. Dalam seminggu setidaknya membutuhkan dana Rp 36 juta hingga mendekati Rp 40 juta,” paparnya.

Melihat kondisi yang demikian, lanjut Adrian, DKLH Jember mengubah pola pembuangan sampah di TPA Pakusari. Jika sebelumnya hanya khusus armada pengangkut, kini pihaknya membolehkan masyarakat membuang sampah secara mandiri ke TPA Pakusari. Bisa membawa truk atau pikap sendiri. Kendati demikian, warga tetap harus mengikuti arahan petugas TPA Pakusari. Sebab, sampah yang dibuang tersebut ada tempat-tempat khusus yang disediakan.

Sementara itu, Fathur Rozi, sopir truk pengangkut sampah di kawasan Gebang dan Kaliwates, mengaku, meski belum tahu kapan uang BBM dari APBD itu akan cair, tapi dirinya berupaya akan terus bekerja. “Saya mendapatkan biaya pembelian solar dari iuran RT/RW dan dari gerobak sampah. Tapi tidak setiap hari diberi,” ucapnya.

Dia bercerita, kondisi berbeda dialami rekannya. Karena ingin tetap bekerja, temannya tersebut sampai menggadaikan ponsel dan barang berharga lainnya untuk menalangi biaya BBM. Harapannya, dana solar dari APBD itu bisa segera cair dan bisa digunakan menebus kembali barang yang telah digadaikan tersebut.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Truk sampah yang pekan kemarin dikabarkan akan berhenti beroperasi hari ini (12/1), mulai ada titik terang. Armada pengangkut limbah rumah tangga itu batal mogok dan akan terus aktif di pekan kedua Januari 2021 ini. Sebab, meski belum ada anggaran operasional untuk membeli bahan bakar minyak (BBM), tapi mulai muncul bantuan dari masyarakat hingga pengusaha.

Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Jember Arismaya Parahita sempat menyatakan, aktivitas pengangkutan sampah darurat itu hanya berlangsung sepekan. Itu karena dana BBM dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) belum ada kepastian. “Janji saya memang hanya seminggu, tapi alhamdulillah akan terus aktif lagi untuk mengangkut sampah di beberapa depo (tempat pembuangan sampah sementara, Red),” tuturnya.

Kepastian truk sampah terus beroperasi walau belum ada kepastian cairnya anggara BBM dari APBD, karena banyaknya partisipasi masyarakat hingga pengusaha yang membantu. Meski demikian, Arismaya belum bisa menghitung berapa kekuatan dana BBM yang telah terkumpul secara mandiri tersebut. “Kami masih menghitung berapa lama truk sampah terus beroperasi,” jelasnya.

Pria berkacamata itu menambahkan, dana bantuan dari partisipasi warga serta beberapa pengusaha ini terdapat laporan yang jelas. Ini disebutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban. Sebab, sejatinya dana BBM tersebut sudah ada alokasinya meski Jember memakai Perkada APBD. BBM truk sampah adalah menu wajib lantaran bersifat mengikat dan belanja yang bersifat rutin.

Dana bantuan itu, kata dia, bisa juga dikembalikan ke pemberi bantuan. Bergantung pada akad awalnya seperti apa. Apa dalam bentuk pinjaman, atau pemberian dan tidak usah dikembalikan. Bila bentuknya pinjaman atau talangan seperti uang pribadi sopir, akan dikembalikan. Sedangkan bila dana itu murni pemberian, maka saat APBD cair akan dipakai untuk program-program tentang sampah hingga keperluan pemberdayaan masyarakat yang ada kaitannya dengan sampah.

Kepala Bidang Pengolahan Kebersihan dan Sampah DKLH Jember Adrian S Sapnadi menambahkan, untuk menyelesaikan persoalan limbah domestik ini tidak hanya mengambil sampah dari TPS dan dibuang ke TPA. Namun lebih kompleks dari hal tersebut. “Kalau seperti itu ibarat memindahkan masalah ke tempat lain,” tuturnya.

Dia mengaku, pada awal molornya pencairan anggaran BBM akhir 2020 kemarin, sampah di TPA Pakusari sempat menggunung. Nihilnya bahan bakar membuat alat berat yang dipakai tidak bisa bekerja maksimal. “Alat berat itu butuh BBM lebih banyak lagi. Dalam seminggu setidaknya membutuhkan dana Rp 36 juta hingga mendekati Rp 40 juta,” paparnya.

Melihat kondisi yang demikian, lanjut Adrian, DKLH Jember mengubah pola pembuangan sampah di TPA Pakusari. Jika sebelumnya hanya khusus armada pengangkut, kini pihaknya membolehkan masyarakat membuang sampah secara mandiri ke TPA Pakusari. Bisa membawa truk atau pikap sendiri. Kendati demikian, warga tetap harus mengikuti arahan petugas TPA Pakusari. Sebab, sampah yang dibuang tersebut ada tempat-tempat khusus yang disediakan.

Sementara itu, Fathur Rozi, sopir truk pengangkut sampah di kawasan Gebang dan Kaliwates, mengaku, meski belum tahu kapan uang BBM dari APBD itu akan cair, tapi dirinya berupaya akan terus bekerja. “Saya mendapatkan biaya pembelian solar dari iuran RT/RW dan dari gerobak sampah. Tapi tidak setiap hari diberi,” ucapnya.

Dia bercerita, kondisi berbeda dialami rekannya. Karena ingin tetap bekerja, temannya tersebut sampai menggadaikan ponsel dan barang berharga lainnya untuk menalangi biaya BBM. Harapannya, dana solar dari APBD itu bisa segera cair dan bisa digunakan menebus kembali barang yang telah digadaikan tersebut.

Mobile_AP_Half Page
Desktop_AP_Half Page

Berita Terbaru

Desktop_AP_Rectangle 1

Wajib Dibaca