Hasil Penelitian Fakultas Farmasi Unej

Sereh Bisa Diolah Jadi Kosmetik

BERIKAN NILAI TAMBAH: Kandungan minyak serai terus diuji di laboratorium. Ini supaya minyak yang bisa digunakan bahan dasar sabun dan kosmetik itu memiliki kualitas tinggi.

RADAR JEMBER.ID – Murahnya harga serai (sereh) di pasaran membuat Kelompok Riset (Keris) Fakultas Farmasi Universitas Jember (Unej) melakukan penelitian. Ini untuk meningkatkan nilai jual tanaman tersebut. Melalui kajian dan riset, akhirnya tanaman serupa ilalang itu bisa diolah menjadi bahan dasar sabun dan kosmetik yang berasal dari minyak serai.

IKLAN

Ketua Keris Lestyo Wulandari mengatakan, saat musim panen tiba harga serai hanya Rp 1.000/Kg. Padahal, tanaman tersebut kaya akan manfaat, walaupun secara ekonomis tidak mampu menunjang kebutuhan petani yang menanamnya. Hasil penelitian itu diharapkannya dapat meningkatkan nilai jual serai sehingga dapat mengerek kesejahteraan petani.

Saat ini, kata dia, penelitian tentang serai tersebut fokus pada produksi untuk menghasilkan minyak serai yang banyak, serta memiliki kualitas sesuai dengan standar. Sebab, rencananya minyak serai itu akan diolah menjadi sabun, sampo, serta bahan kosmetik lainnya. “Minyak yang kami hasilkan memiliki kualitas tinggi. Tentunya sangat bagus jika digunakan campuran,” tutur Dekan Fakultas Farmasi Unej tersebut.

Sejauh ini, sambung dia, tiap tiga kilogram serai pihaknya hanya mampu mengeluarkan minyak sekitar 15 ml. Masih sedikit dibandingkan jumlahnya. Meski demikian, kualitasnya tak perlu diragukan lagi. “Kita proses serai tersebut dengan alat destilasi. Yakni untuk mengeluarkan minyaknya,” katanya.

Sementara ini, untuk satu liter minyak serai dibanderol dengan harga Rp 1 juta. Harga itu jauh lebih bernilai jika dibandingkan dengan harga serai biasa, tanpa sentuhan dan pengolahan terlebih dahulu. “Kita benar-benar akan memanfaatkan potensi ini. Supaya bisa menaikkan harga pasca panen,” ungkapnya.

Menurut Lestyo Wulandari, untuk memproses serai menjadi minyak bukan perkara yang gampang. Pihaknya mengaku untuk menghasilkan 15 ml saja butuh waktu lima jam. Lamanya proses penyulingan minyak serai ini karena dirinya menginginkan kualitas yang tinggi. “Sangat melelahkan sekali dalam prosesnya,” ungkap dia.

Ke depan, dia menambahkan, hasil minyak tersebut selain digunakan untuk pembuatan kosmetik, juga bakal digunakan sebagai suvenir bagi pengunjung technopark. “Sementara digunakan untuk kalangan sendiri. Soal diproduksi besar-besaran itu menjadi hak universitas,” pungkasnya. (*)

Reporter :

Fotografer : maulana

Editor : Mahrus Sholih