Tampil di Berbagai Acara, Hadir Secara Sukarela

Majelis Salawat Al-Ummu, Wadah Anak Yatim Berekspres

Anak-anak kecil ini adalah anak yatim dan duafa. Namun, mereka begitu lihai dalam menabuh rebana. Suara mereka terdengar merdu ketika melantunkan salawat. Anak-anak itu dilatih agar menjadi generasi salawat.

MAJELIS SALAWAT: Anak-anak yang tergabung dalam majelis salawat Al-Ummu tampil di depan kantor Jawa Pos Radar Jember.

RADAR JEMBER.ID – Tabuhan rebana dari anak yang masih berumur sembilan tahunan itu begitu rapi dan kompak. Mereka berjejer di bagian belakang. Sementara di depan, anak perempuan yang melantunkan salawat.

IKLAN

Salawat Ya Maulana, yang kerap dibawakan Nisa Sabyan dibawakan oleh anak-anak ini. Terdengar merdu dengan suara yang nyaring. Lagu itu diiringi dengan instrumen tradisional, rebana. Penampilan mereka tak kalah dengan majelis salawat yang sudah dewasa.

Ada sekitar lima salawat yang dibawakan oleh majelis salawat Al-Ummu. Yakni perkumpulan salawat bagi anak kecil, anak yatim, dan duafa. “Ini kami dirikan bagi anak-anak yatim,” kata Andriati Utami, pengasuh dan pelatih majelis salawat.

Anak-anak itu berasal dari berbagai daerah, seperti Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari. Namun, manyoritas dari mereka berasal dari Jalan A Yani, Kelurahan Kepatihan. “Anak-anak kecil yang berasal dari lingkungan sekitar itu diberdayakan,” terangnya.

Mereka dilatih untuk mencintai salawat dan Rosulullah SAW. Membawakan salawat dengan lagu dan musik tradisional. Lalu diajak untuk  tampil dalam berbagai acara. “Kami pernah tampil di Polije, Mandiri, Bhayangkara, dan lainnya,” aku perempuan yang akrab disapa Andri itu.

Menariknya, penampilan tersebut tidak membutuhkan biaya. Anggota majelis salawat bermain secara gratis. Sebab, mereka ingin bersedekah, namun dengan cara yang berbeda. Yakni bersedekah dengan salawat. Tak harus dengan harta. “Kami juga ingin menyenangkan orang lain, tapi dengan salawat,” paparnya.

Anak-anak diajak untuk tampil di depan publik juga untuk melatih diri. Yakni mengasah rasa percaya diri, keberanian, dan kemampuan seni mereka. Apalagi, mereka sudah dilatih untuk mahir dalam membaca salawat dan memainkan rebana.

Latihan membaca salawat dilakukan di Jalan A Yani 105. Ada puluhan anak yang berlatih. Andri sendiri mengajar anak-anak cara membaca salawat setiap hari Jumat. Mereka mengikuti kegiatan makan bersama, doa bersama, lalu latihan bareng. “Majelis ini sudah dibentuk selama setahun,” ujarnya.

Selama ini, kata dia, anak-anak pandai bernyanyi. Namun bila disuruh bersalawat, mereka tidak mengerti. Untuk itulah, dia mengajak anak-anak agar mencintai salawat dan Rosulullah SAW. “Salah satu wujud kecintaan pada nabi dengan salawat,” jelasnya.

Untuk melatih keterampilan hadrah mereka, Andri mendatangkan tenaga profesional dari luar. Anak-anak dilatih agar pandai memainkan rebana, sehingga bisa mengiringi lagu salawat yang dibawakan oleh anggota perempuan. ”Kami ingin anak yatim dan duafa itu tidak minder,” tuturnya.

Andri ingin mereka bisa mandiri kelak di kemudian hari. Meskipun mereka seorang yatim piatu, namun juga memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain untuk menjadi sukses dan berhasil.

“Mereka ada yang masih kelas 1 SD hingga kelas 1 SMP,” akunya. Tak butuh waktu yang lama untuk bisa membawakan lagu salawat. Satu bulan, mereka sudah bisa membawakan satu salawat bersama dengan musiknya. Selawat yang dibawakan juga sesuai dengan permintaan. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : bagus supriadi

Editor : Hadi Sumarsono