alexametrics
24.4C
Jember
Tuesday, 19 January 2021
Mobile_AP_Top Banner

Jadi Monumen Kegagalan

Dua megaproyek Pemkab Jember mandek. Asrama haji di kompleks JSG dan gedung rawat jalan empat lantai di RSD dr Soebandi. Berhentinya dua proyek bernilai puluhan miliar ini disebut menjadi noktah sejarah. Bangunan yang mangkrak juga akan menjadi monumen suram. Sebab, kegagalannya selalu diingat hingga akhir zaman.

Desktop_AP_Leaderboard
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu (8/1), langit di atas area Stadion JSG sedikit cerah. Tak seperti hari-hari biasanya yang kerap kali diselimuti mendung hingga hujan. Pascapandemi Covid-19 mendera Jember, Stadion JSG menjadi salah satu tempat isolasi. Oleh karena itu, untuk menuju proyek pembangunan asrama haji yang berada di kompleks JSG tersebut, tidak bisa lagi lewat stadion yang megah itu. Tapi, harus lewat belakang Kantor Subsektor Polsek Ajung.

Jalan menuju proyek asrama haji tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tidak ada aspal. Hanya tanah hingga batu makadam. Setelah perjalanan dengan mengendarai motor selama lima menit, tak ada tanda-tanda bangunan megah seperti gambar maket asrama haji. Pertanyaan di manakah proyek bangunan asrama haji itu terjawab oleh perempuan tua yang berjualan di warung. “Asrama haji itu di depan. kalau mau masuk bisa. Tapi tutup lagi ya,” ucap Waro, 58, sambil menunjuk pintu masuk asrama haji tersebut.

Mobile_AP_Rectangle 2

Asrama haji yang ditunjukkan Waro itu tak tampak sama sekali wujud bangunannya. Hanya pilar-pilar beton yang menjulang ke atas. Jawa Pos Radar Jember mencoba melihat dari dekat dan terdapat banyak sekali tiang beton yang berdiri di bawah fondasi cor-coran. Lantai cor-coran tersebut sebagian juga mulai digenangi air hujan. Bahkan, beberapa di antaranya berlumut. Di lantai juga terdapat besi bertulang yang menempel, serta pipa paralon.

Di antara genangan air, terdapat satu titik yang genangannya cukup dalam. Sebab, batu yang dilempar tidak terdengar nyaring. Barangkali genangan itu adalah cikal bakal lift, berbentuk persegi. Pagar pembatas proyek pembangunan asrama haji yang dari seng ini juga telah ditumbuhi semak belukar. Pagar pembatas itu ada spanduk yang ditumbuhi semak. Tulisannya tidak begitu kentara. Hanya tampak bertuliskan wujud, 22, bupati. Tulisan lainnya tertutupi semak belukar. Seharusnya tertulis wujud 22 janji kerja bupati.

Peletakan batu asrama haji itu oleh Bupati Jember Faida, 7 Oktober 2019 lalu. Dalam penjelasannya, pembangunan tersebut merupakan tahap pertama yang akan dilakukan selama tiga bulan dengan anggaran APBD Kabupaten Jember sebesar Rp 17,5 miliar. Tahap pertama hanya membangun fondasi sampai struktur beton.

Proyek itu rencananya dilanjutkan pada Januari 2020 dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar untuk bangunan sampai lantai tujuh. Oktober 2019, saat peletakan batu pertama, Faida menjelaskan, tahap ketiga di perubahan anggaran kurang lebih Rp 70 miliar untuk menyelesaikan interior. Hal itu dilakukan agar asrama haji bisa difungsikan sekaligus sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, dan wisma daerah. Makanya disebut asrama haji multifungsi.

Bernasib sama bila asrama haji hanya ada pilar beton, berbeda dengan proyek pembangunan gedung di RSD dr Soebandi. Dari kejauhan, yaitu dari parkiran motor, gedung tersebut tampak menjulang dan kontras dengan gedung lainnya. Bagaimana tidak, bangunan itu tingginya empat lantai. Warnanya dari semen.

TERHENTI: Salah satu bangunan bertingkat di Jember yang dikerjakan pada 2019 lalu dan sempat mengajukan perpanjangan pekerjaan hingga kini belum bisa dipakai.

Gedung itu bukan struktur saja, tapi sudah ada tembok serta atap. Peletakan batu pertama gedung empat lantai RSD dr Soebandi juga dilakukan Bupati Jember Faida yang sama-sama pada Oktober 2019 lalu, atau tepatnya Jumat 18 Oktober 2019.

Bangunan itu dikerjakan multiyears atau tahun jamak. Sama dengan asrama haji. Tahap pertama menyelesaikan konstruksi yang menelan sekitar Rp 12 miliar. Agenda selanjutnya, rencananya adalah tahap kedua dikerjakan pada 2020 dengan anggaran sebesar Rp 86 miliar.

Gedung tersebut rencananya dipakai rawat jalan pasien yang sering mendapatkan rujukan ke RSD dr Soebandi. Bahkan, rencananya dipakai untuk rujukan masyarakat Jawa Timur wilayah timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Lumajang, serta Jember sendiri. Namun, hingga kini rencana itu tinggal rencana dan tak kunjung terealisasi.

 

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Siang itu (8/1), langit di atas area Stadion JSG sedikit cerah. Tak seperti hari-hari biasanya yang kerap kali diselimuti mendung hingga hujan. Pascapandemi Covid-19 mendera Jember, Stadion JSG menjadi salah satu tempat isolasi. Oleh karena itu, untuk menuju proyek pembangunan asrama haji yang berada di kompleks JSG tersebut, tidak bisa lagi lewat stadion yang megah itu. Tapi, harus lewat belakang Kantor Subsektor Polsek Ajung.

Jalan menuju proyek asrama haji tidak jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Tidak ada aspal. Hanya tanah hingga batu makadam. Setelah perjalanan dengan mengendarai motor selama lima menit, tak ada tanda-tanda bangunan megah seperti gambar maket asrama haji. Pertanyaan di manakah proyek bangunan asrama haji itu terjawab oleh perempuan tua yang berjualan di warung. “Asrama haji itu di depan. kalau mau masuk bisa. Tapi tutup lagi ya,” ucap Waro, 58, sambil menunjuk pintu masuk asrama haji tersebut.

Asrama haji yang ditunjukkan Waro itu tak tampak sama sekali wujud bangunannya. Hanya pilar-pilar beton yang menjulang ke atas. Jawa Pos Radar Jember mencoba melihat dari dekat dan terdapat banyak sekali tiang beton yang berdiri di bawah fondasi cor-coran. Lantai cor-coran tersebut sebagian juga mulai digenangi air hujan. Bahkan, beberapa di antaranya berlumut. Di lantai juga terdapat besi bertulang yang menempel, serta pipa paralon.

Di antara genangan air, terdapat satu titik yang genangannya cukup dalam. Sebab, batu yang dilempar tidak terdengar nyaring. Barangkali genangan itu adalah cikal bakal lift, berbentuk persegi. Pagar pembatas proyek pembangunan asrama haji yang dari seng ini juga telah ditumbuhi semak belukar. Pagar pembatas itu ada spanduk yang ditumbuhi semak. Tulisannya tidak begitu kentara. Hanya tampak bertuliskan wujud, 22, bupati. Tulisan lainnya tertutupi semak belukar. Seharusnya tertulis wujud 22 janji kerja bupati.

Peletakan batu asrama haji itu oleh Bupati Jember Faida, 7 Oktober 2019 lalu. Dalam penjelasannya, pembangunan tersebut merupakan tahap pertama yang akan dilakukan selama tiga bulan dengan anggaran APBD Kabupaten Jember sebesar Rp 17,5 miliar. Tahap pertama hanya membangun fondasi sampai struktur beton.

Proyek itu rencananya dilanjutkan pada Januari 2020 dengan anggaran sebesar Rp 132 miliar untuk bangunan sampai lantai tujuh. Oktober 2019, saat peletakan batu pertama, Faida menjelaskan, tahap ketiga di perubahan anggaran kurang lebih Rp 70 miliar untuk menyelesaikan interior. Hal itu dilakukan agar asrama haji bisa difungsikan sekaligus sebagai hotel transito, wisma atlet, wisma diklat, dan wisma daerah. Makanya disebut asrama haji multifungsi.

Bernasib sama bila asrama haji hanya ada pilar beton, berbeda dengan proyek pembangunan gedung di RSD dr Soebandi. Dari kejauhan, yaitu dari parkiran motor, gedung tersebut tampak menjulang dan kontras dengan gedung lainnya. Bagaimana tidak, bangunan itu tingginya empat lantai. Warnanya dari semen.

TERHENTI: Salah satu bangunan bertingkat di Jember yang dikerjakan pada 2019 lalu dan sempat mengajukan perpanjangan pekerjaan hingga kini belum bisa dipakai.

Gedung itu bukan struktur saja, tapi sudah ada tembok serta atap. Peletakan batu pertama gedung empat lantai RSD dr Soebandi juga dilakukan Bupati Jember Faida yang sama-sama pada Oktober 2019 lalu, atau tepatnya Jumat 18 Oktober 2019.

Bangunan itu dikerjakan multiyears atau tahun jamak. Sama dengan asrama haji. Tahap pertama menyelesaikan konstruksi yang menelan sekitar Rp 12 miliar. Agenda selanjutnya, rencananya adalah tahap kedua dikerjakan pada 2020 dengan anggaran sebesar Rp 86 miliar.

Gedung tersebut rencananya dipakai rawat jalan pasien yang sering mendapatkan rujukan ke RSD dr Soebandi. Bahkan, rencananya dipakai untuk rujukan masyarakat Jawa Timur wilayah timur, yaitu Kabupaten Probolinggo, Kota Probolinggo, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan Lumajang, serta Jember sendiri. Namun, hingga kini rencana itu tinggal rencana dan tak kunjung terealisasi.

 

Mobile_AP_Half Page
Desktop_AP_Half Page

Berita Terbaru

Desktop_AP_Rectangle 1

Wajib Dibaca

Bukan Letusan, tapi Gravitasi

Ular Kobra Masuk Rumah