Angkutan Daring Tolak Kesepakatan, Perwakilan Rembug di Polres Dianggap Tak Mewakilinya

JUMAI/RADAR JEMBER MASIH PANAS: Beberapa driver angkutan online kemarin datang ke Mapolres Jember. Mereka ditemui Kapolres AKBP Kusworo Wibowo dan meminta kesepakatan hasil rembug, Rabu (8/8) dicabut.

RADARJEMBER.ID- Setelah para sopir angkutan menggelar demo dan aksi mogok masal, Senin (6/8) siang, kemarin giliran para driver angkutan daring (online) yang protes. Para perwakilan driver angkutan daring datang ke Polres Jember, meminta mencabut kesepakatan hasil rembuk, Rabu (8/8).

IKLAN

Para driver angkutan daring menuding bahwa perwakilan Gojek asal comot. Bahkan, seorang lagi yang mengaku perwakilan dari koperasi Uber, ternyata bukan keterwakilan dari mereka. “Di Jember Uber tidak ada lagi. Mereka comot driver Gojek di jalan, diajak masuk langsung berembuk,” tuding Ardiansyah, anggota Persatuan Driver Gojek Indonesia (PDGI).

Kata Ardiansyah, karena tidak mewakili mereka, para driver angkutan daring roda 2 dan roda 4, meminta polisi kembali memfasilitasi pertemuan tersebut. Setidaknya, mereka tegas menganggap bahwa kesepakatan itu gugur secara hukum. “Kalau mau menggelar pertemuan lagi, supaya representatif, nama perwakilan daring (angkutan daring, Red) harus sesuai yang kami tunjuk,” sarannya.

Dia menilai, mayoritas hasil kesepakatannya hampir sama sekali tidak berpihak pada angkutan daring. Terlebih, tentang larangan bahwa angkutan daring dilarang mengambil penumpang di beberapa lokasi strategis, seperti di terminal, stasiun, rumah sakit, bandara, hingga sekolah di wilayah kota. “Kalau semua trayek dilarang untuk online (daring), di Jember kan semua jalur trayek, masak kami harus narik di perdesaan?” keluhnya.

Mereka juga menantang supaya dalam rembuk melibatkan masyarakat yang objektif. Supaya semua tahu, apa yang sejatinya terjadi di masyarakat. “Tanyakan masyarakat, lebih memilih naik angkutan daring apa konvensional?” sindirnya.

Meski demikian, para driver angkutan daring akan menjaga kondusivitas. Sebab, di Jember masih ada gelaran JFC yang jadi sorotan masyarakat internasional. “Kami tidak mau ada gesekan. Karena itu kami minta polisi menjaga titik yang rawan konflik di area publik,” pungkasnya.

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, saat dikonfirmasi mengakui pertemuan bersama perwakilan angkutan daring. Dia pun juga membenarkan, permintaan perwakilan driver angkutan daring yang meminta digelarnya kembali rembuk dan menganggap keputusan Rabu kemarin tidak sah.

Soal penjagaan keamanan, diakui kapolres, pihaknya sudah melakukan pemetaan jam serta beberapa tempat rawan terjadinya konflik antara angkutan daring dengan konvensional. “Semisal jam berapa kereta datang? Kapan bus datang? kami jaga. Jangan sampai ada intimidasi, tindakan kekerasan,” paparnya.

Angkutan Konvensional vs Daring Sempat Ribut

Sebelumnya, dikabarkan Rabu malam sekitar pukul 20.30 di depan Indomaret Kodim Jalan PB Sudirman Jember, sempat ada gesekan antara ojek daring (online) dan konvensional. Beruntung, tidak sampai berlarut karena aparat kepolisian Polsek Patrang dan Polres Jember langsung terjun ke lokasi.

Berdasarkan informasi di lapangan, kejadian bermula saat sejumlah pengemudi ojek daring menunggu penumpang di sekitaran Indomaret. Kebetulan memang lokasi itu biasanya digunakan tempat berkumpul pengemudi angkutan daring yang sedang menunggu penumpang dari stasiun Jember. Karena sejak awal angkutan daring tidak diperbolehkan mendekat ke stasiun.

Kebetulan saat kejadian, ada kereta yang baru datang. Ada kereta Sri Tanjung jurusan Lempuyangan-Banyuwangi yang baru sampai di Jember. Jadi, banyak angkutan daring yang stand by di lokasi. Para ojek daring ini tiba-tiba didatangi sekelompok orang yang diduga dari ojek pangkalan.

“Bubar..bubar..,” ujar Sufi, salah satu pengemudi daring di lokasi kejadian menirukan ucapan sekelompok orang yang diduga angkutan ojek pangkalan tersebut. Mereka diminta untuk menjauhi lokasi tersebut. Menurut keterangannya, sekelompok orang ini mengaku menjadi penguasa tempat tersebut dan tidak memperbolehkan angkutan daring mangkal di sana.

“Katanya, sesuai kesepakatan di Polres Jember tadi,” ucap Sufi. Dirinya sendiri masih belum mengetahui kesepakatan yang dimaksud. Memang jika melihat kesepakatan siang kemarin, antara angkutan daring dan angkutan konvensional di Polres Jember, di poin 4 disebutkan bahwa angkutan daring tidak diperbolehkan mangkal dan mengambil penumpang di titik Indomaret Kodim Jember.

Hal ini sempat membuat ketegangan antara kedua belah pihak. “Sempat bertengkar, tapi gak sampai mukul,” ucap Hadi, pengemudi ojek daring kemarin. Aksi ketegangan dan gesekan itu terjadi cukup lama. Akhirnya, setelah sejumlah petugas mendatangi lokasi, ketegangan itu mereda. Bahkan, Kapolsek Patrang AKP Mahrobi Hasan dan Kabag Ops Kompol M. Lutfi turun ke lokasi mengamankan situasi.

Dari pihak ojek pangkalan pun memilih bubar. Termasuk juga pihak ojek daring yang kemudian memilih bubar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian untuk kejadian ini.

Reporter : Rangga Mahardika, Rully Efendi, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :