Kenaikan Rokok Terjadi Sebelum 2020

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kenaikan cukai rokok pada 2020 menyebabkan harga rokok naik. Nyatanya, kondisi tersebut sudah dirasakan para pedagang kelontong sebelum pergantian tahun. Bank Indonesia (BI) Jember dan Badan Pusat Statistik (BPS) Jember juga memprediksi kenaikan rokok akan sumbang indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi para Januari 2020 ini.

IKLAN

Dalam press release inflasi IHK pekan kemarin di Kantor BPS Jember, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember Hestu Wibowo mengatakan, inflasi Jember selama 2019 sebesar 2,04 persen cukup baik. Hal itu juga sesuai dengan prediksi BI Jember antara 1,97 persen sampai 2,07 persen.

Bagi Hestu, inflasi Jember mampu dikendalikan tak sampai melebihi inflasi Jatim dan nasional, disebabkan tidak ada tekanan terlalu besar dari administered price dan volatile foods. “Pengendalian pangan baik dan pasokan hingga distribusi juga terkendali,” paparnya. Apalagi, pemerintah tidak terlalu banyak kebijakan soal penyesuaian harga, semisal kenaikan BBM dan lainnya.

Namun, kata dia, di awal tahun ini akan ada penyesuaian harga dari kebijakan pemerintah. Salah satunya adalah kenaikan cukai rokok. Sehingga, diprediksi kenaikan harga rokok pada awal tahun ini akan sumbang inflasi.

Hal senada juga diutarakan Kepala BPS Jember Arif Joko Sutejo yang mengaku pada awal tahun ini ada gejala-gejala kenaikan harga dan penurunan harga. Kenaikan terjadi pada rokok, sedangkan penurunan terjadi pada harga pertamaks, dexlite, dan lainnya. “Tinggal nanti menghitung berapa besar andil inflasi Januari nanti,” tuturnya.

Dia menjelaskan, untuk harga rokok, terutama rokok kretek filter, sebagai komoditas administered price selama 2019 punya andil menyumbang inflasi 2019. Rokok kretek filter urutan kedua dengan andil 0,1223 persen, sedangkan urutan tertinggi penyumbang inflasi 2019 adalah harga emas perhiasan dengan andil 0,1312 persen.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember di toko kelontong di daerah Perumahan Tidar, harga rokok juga mulai mengalami peningkatan. Bahkan, kenaikan rokok justru terjadi sebelum pergantian tahun. “Naiknya sebelum tahun baru. November kalau tidak salah sudah naik,” kata Muryati, pedagang toko kelontong. Muryati yang menaikkan harga-harga rokok, kendati saat kulakan di grosir juga alami kenaikan harga rokok.

Kepala Kantor Bea Cukai Jember Tubagus Firman Hermansjah mengatakan, kenaikan rokok itu berdasar Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 152 Tahun 2019. Dalam penjelasan tersebut, rata-rata kenaikan tarif cukai rokok adalah 23%. Kenaikan cukai rokok tersebut juga disesuaikan dengan perusahaan rokok tersebut juga yang dibagi golongan 1, 2, dan 3. Sehingga untuk rata-rata kenaikan 23 persen. Dia menegaskan, kenaikan cukai rokok itu per 1 Januari 2020.

Sementara itu, Kasi Kepatuhan Internal dan Penyuluhan Kantor Bea Cukai Jember Maksi Drivandi Madya Triswanto, kenaikan cukai rokok 23 persen tersebut tentunya berbeda dengan harga eceran. “Harga eceran tertinggi (HET) kenaikannya 35 persen,” ujarnya. Karena itu, kata dia, konsumen jangan terlalu kaget jika kenaikan harga rokok lebih dari 23 persen. Sebab, HET-nya naik 35 persen.

Dia menjelaskan, setiap jenis rokok juga diatur berapa besaran cukainya per batang. Cukai terendah, kata dia, sigaret kretek tangan atau yang disingkat SKT. Karena itu, kenaikan antara SKT tidak akan terlalu besar. Cukai SKT paling rendah tersebut, karena produksi SKT masih mengandalkan tenaga manusia atau padat karya. Sehingga, perusahaan SKT banyak menyedot tenaga kerja.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Istimewa

Editor : Hadi Sumarsono