Temuan Situs Kuno di Ledokombo Ditutup dengan Tanah

Hanya Jadi Cerita

AKAN DIPENDAM LAGI: Temuan struktur batu bata kuno di areal persawahan Desa/Kecamatan Ledokombo sepertinya belum ada tindak lanjut maksimal. Diduga ada miskomunikasi dengan pemilik lahan, sehingga temuan situs kuno itu akan ditutup kembali dengan tanah.

LEDOKOMBO, Radar Jember – Areal persawahan tepatnya di belakang Balai Desa Ledokombo, Kecamatan Ledokombo sejak akhir Juni kemarin menjadi perhatian masyarakat. Penemuan struktur batu bata kuno yang terpendam dalam tanah membuat banyak warga berkunjung, seperti destinasi wisata baru. Kini, warga tak bisa melihat lagi, karena sudah rata dengan tanah.

Kepala Desa Ledokombo Ipung Wahyudi mengaku, pada awalnya penemuan struktur batu bata kuno di dalam areal persawahan tidak menjadi masalah oleh pemilik lahan. Namun, seiring berjalannya waktu ditutup. “Yang punya lahan keberatan,” jelasnya.

Sehingga, pada Senin malam atau malam Selasa 3 Agustus kemarin oleh warga yang memilih untuk menutup galian struktur batu bata kuno itu dengan tanah kembali. “Kesepakatan warga, ditutup kembali pakai tanah,” tambahnya.

Ipung mengaku tidak tahu secara detail mengapa pemilik lahan itu tiba-tiba keberatan. Yang dia tahu, sejak adanya penemuan tersebut lokasi tersebut banyak dikunjungi warga. Roda ekonomi warga sekitar juga mulai berjalan. Masyarakat yang terhenti berjualan akibat covid-19 bisa jualan lagi di dekat penemuan tersebut.

Padahal sumber pendapatan dari parkir, dikelola panita amal masjid yang berada tepat di pintu masuk areal penemuan benda cagar budaya tersebut.

Ipung menambahkan, lahan tersebut oleh pemiliknya digadaikan ke orang lain. “Yang ambil gadai sawah itu juga tidak masalah. Mungkin ada miss-komunikasi,” jelasnya.

Sebagai kepala desa, harapannya tentu saja pemerintah berwenang segera memberikan kepastian tentang penemuan struktur batu-bata kuno. Apakah ada kelanjutan ekskavasi atau tidak. Jika mengandalkan sumber dana desa, menurut Ipung, tentu tidak akan cukup dan desa juga tidak ada anggaran untuk itu. “Saya sebagai kades juga sudah menyurati gubenur, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jatim, Dinas Pariwisata Jatim,” tuturnya.

Data yang dihimpun  Jawa Pos Radar Jember, penemuan struktur batu-bata kuno tersebut oleh Faisol Junaidi bersama rekannya Yudi yang melakukan pengalian 29 Juni. Faisol yang memprakasai pengalian tersebut karena kerap kali mimpi ada gapura bata-bata besar di sawah tersebut.

Dari awalnya lubang cukup kecil setidaknya 0,5 x 1 meter, selanjutnya semakin besar. Hal itu diketahui saat tim BPCB Jatim datang mengecek lokasi pada 2 Juli dengan rekomendasi agar penggalian tidak dilakukan lagi.

Namun, pada 15 Juli tim ahli cagar budaya dari Provinsi Jatim datang, galian itu semakin lebar. Bahkan, semakin jelas susunan struktur batu-bata kuno tersebut.

Pegiat sejarah Setyo Hadi mengatakan, penutupan penemuan struktur batu-bata tersebut masih kurang cepatnya respon pemerintah dengan benda-benda cagar budaya atau sejarah.

Padahal, penemuan sejarah ini bisa membuat rasa kebanggan tersendiri bagi orang Jember, karena memiliki sejarah yang besar. Apalagi, di Jember juga belum adanya tim cagar budaya yang bisa menentukan penemuan tersebut termasuk benda cagar budaya yang dilindungi atau tidak. (dwi/hdi)

Editor: Hadi Sumarsono
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto