Warung Kasih 15 Tahun Peduli Sesama

Terus Wujudkan Toleransi Beragama

LANGSUNG RAMAI: Warung Kasih yang dikelola Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Jember tak pernah sepi pengunjung. Di waktu berbuka puasa, kaum muslim selalu memadati lokasi tersebut.

RADAR JEMBER.ID – Perbedaan sedianya tak pernah menjadi alasan untuk dipermasalahkan. Dengan toleransi yang tak pernah putus, berbagai pihak selalu bisa bersanding dengan damai. Inilah yang ditunjukkan oleh anggota Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) cabang Jember di bulan Ramadan.

IKLAN

Setiap tahun selama bulan puasa, para anggota rutin membuka Warung Kasih menyediakan menu berbuka puasa kepada kaum muslim, khususnya di sekitar Klinik Panti Siwi. Tak main-main, sudah 15 tahun tradisi ini berlangsung. Setiap hari anggota WKRI menyediakan beragam menu dengan jumlah yang cukup banyak.

Di hari pertama saja, mereka menyediakan 200 piring untuk masyarakat, khususnya kaum duafa dan kurang mampu di sekitar Klinik Panti Siwi. Namun, biasanya dari hari ke hari jumlahnya akan terus bertambah. “Setiap hari menu makanan selalu berubah, dan harganya pun sangat murah karena kita tujukan pada kalangan kurang mampu,” ujar Valentina Indarti, ketua WKRI Cabang Jember periode 2018-2021.

Satu porsi menu dan segelas teh hangat bisa dinikmati oleh pengunjung dengan harga Rp 2.500. Setiap kali diadakan, Warung Kasih selalu ramai pengunjung. “Warung ini buka mulai hari Senin sampai Kamis, menjelang berbuka puasa,” imbuhnya.

Sementara itu, ditemui di lokasi yang sama, Romo Antonius Denny Cahyo Sulistiono O.Carm yang mewakili Pastor Paroki Santo Yusup sangat mengapresiasi gelaran tersebut. “Warung Kasih ini merupakan bentuk kepedulian umat Katolik di Kabupaten Jember terhadap umat Islam saat hendak berbuka puasa, setelah mereka seharian melaksanakan ibadah puasa,” ungkap Romo Denny.

Hal senada juga disampaikan Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Jember Abdul Muis. Apalagi, seusai momen pemilihan umum, baginya ini saat yang tepat untuk bersatu kembali. “Kalau saat pemilu kemarin kita dihadapkan pada perbedaan pilihan, sekarang saatnya kita menyatukan kembali perbedaan itu karena hakikatnya antara manusia satu dengan manusia lainnya itu adalah saudara,” pungkasnya. (*)

Reporter : Winardyasto

Fotografer : winardyasto

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti