Ngenes Selama Kuliah Tak Pernah Dikirimi Uang

Perjuangan Anak Seorang Pemulung hingga Jadi Sarjana

Ada satu hal menarik perhatian pengunjung Wisuda Sarjana Universitas Islam Jember (UIJ) di Aula Gedung New Sari Utama. Yakni kedatangan Sukawi, 53, ayah dari seorang wisudawan yang tiba-tiba maju ke panggung untuk bersalaman dengan seluruh jajaran senat universitas. Dia adalah seorang pemulung yang berhasil mengantarkan anaknya, Sugeng Hadi Wijaya, lulus sebagai sarjana di kampus tersebut.

TABAH: Sugeng Hadi Wijaya saat dipeluk ayahnya, Sukawi,  di hadapan para undangan wisuda UIJ.

RADAR JEMBER.ID – Suasana wisuda UIJ Kamis lalu dibuat haru dan meneteskan air mata hampir seluruh undangan. Tak terkecuali Dr Yunus Abu Bakar MAg, sekretaris Kopertis Wilayah IV, yang menjadi orator ilmiah dalam wisuda yang dihadiri seribuan undangan itu. Ketika memasuki acara “santai dan khusyuk” mendengarkan persembahan lagu-lagu religi oleh tim Gerakan Selawat (Gaswat) UIJ, tiba-tiba Sukawi maju ke panggung tempat senat universitas bersidang terbuka.

IKLAN

Karuan saja, banyak mata terbelalak dan heran, siapa gerangan yang nekat menyela acara sakral tersebut? Ternyata lelaki yang hanya memakai sandal  sederhana itu adalah Sukawi, salah seorang orang tua wisudawan.

Didampingi Miftahul Hakim, salah seorang panitia, Sukawi menyalami satu per satu anggota senat dan pengurus YPNU yang hadir. Tujuannya hanya ingin menyampaikan terima kasih tak terhingga, lantaran anaknya, Sugeng Hadi Wijaya, akhirnya sampai pula ikut diwisuda.

Bagi sebagian besar undangan dan orang tua mahasiswa, upacara wisuda sarjana merupakan hal biasa dan seakan jadi ‘kewajiban’. Namun bagi Sukawi dan istrinya, Sumiati, peristiwa itu sangat berarti dan menakjubkan. Betapa tidak, selama anaknya, Sugeng, berkuliah, nyaris tanpa pernah diberi bekal kebutuhan studi. Termasuk uang kuliah, apalagi kebutuhan sehari-hari sebagai biaya hidupnya.

“Apa yang harus saya pakai untuk biaya kuliah. Lha wong untuk bertahan sehari-hari saja pas-pasan,” ujar Sukawi seusai prosesi wisuda, dengan logat Madura kental. Maklum, pekerjaan Sukawi sehari-hari adalah pemulung (mengais barang-barang bekas) di kampungnya, Sukogidri, Kecamatan Ledokombo.

Jangankan untuk biaya kuliah, untuk melanjutkan ke SMP saja, saat tamat SD, Sukawi sudah melarang anak bungsunya itu sekolah. Lagi-lagi karena faktor biaya.

Namun tekad dan keinginan Sugeng untuk melanjutkan sekolah hingga setinggi mungkin tetap membara. Meski tanpa dibiayai orang tuanya, Sugeng berusaha mencari sendiri biaya sekolah hingga tamat SLTA. “Apa saja yang bisa saya lakukan, asal halal dan menghasilkan,” tutur Sugeng, yang bertubuh gemuk kehitaman itu.

Nah, ketika kawan-kawannya daftar kuliah (tahun 2014), Sugeng tertarik juga untuk coba-coba mencari tahu. Yakni, di mana kampus murah dan bisa disambi kerja serabutan. Kemudian, dia mencoba datang ke Kyai Mojo, Kaliwates, tempat kampus UIJ berdiri. Bahkan, untuk membayar uang pendaftaran yang hanya R 150 ribu saja, dia pinjam teman.

“Saya benar-benar bermodal tekad dan kemauan keras,” imbuh Sugeng. Dia yakin, di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. Upaya kerasnya pun membuahkan hasil manis. Sugeng masuk di antara wisudawan UIJ periode tahun ini.

Demikian pula ketika ingin wisuda, Sugeng hanya bisa membayar uang wisudanya saja. Sedangkan tanggungan kuliah dan lain-lain, terpaksa diberi keringanan hingga semampunya. “Yang jelas jumlahnya masih cukup besar,” tuturnya.

Sampai semester akhir pun kedua orang tua Sugeng belum memiliki rumah sendiri di kampusnya. Rumah dari anyaman bambu yang ditempati selama ini tanahnya menumpang miliki kerabatnya. Makanya, sulit mendapat jatah program bedah rumah yang canangkan pemerintah, lantaran status tanahnya tersebut.

Namun beberapa bulan, orang tuanya mampu membeli sebidang tanah, sehingga kini telah menikmati rumah sendiri, walau sederhana. “Penghasilan orang tua saya tak lebih dari Rp 600 ribu per bulan,” ujar Sugeng.

Karena itu, setiap kali pulang kampung, Sugeng harus menyisihkan sedikit uang untuk diberikan kepada orang tuanya. Jika tidak bisa meminjam motor kawannya, Sugeng harus naik angkot dan angdes selama hampir satu jam.

Beberapa waktu lalu, aktivis pers kampus Mitra UIJ itu sempat ikut tes rekrutmen wartawan Radar Jember. Bahkan, dia masuk peringkat pertama dari sekitar 25 mahasiswa yang ikut seleksi. Namun, lantaran tidak memiliki motor untuk hunting berita, dia memilih tidak melanjutkan masa uji cobanya.

Kini, setelah dinyatakan lulus sarjana pendidikan, pria kelahiran 16 November 1992 ini, belum bisa mengatakan akan bekerja di mana. Selama kuliah, dia memang pernah ikut mengajar di salah satu SD. “Honornya hanya Rp 100 ribu per bulan. Tapi berkah rupanya,” ujarnya.

Apa pun yang pernah dijalani selama studi, Sugeng merasa amat bersyukur bisa lulus kuliah. “Orang tua dan dua saudara kandung saya hanya lulusan SD,” imbuhnya.  (*)

Reporter :

Fotografer : tri joko

Editor : Hadi Sumarsono