Anak Difabel Dilatih Komputer

SEPENUH HATI: Salah seorang pustakawan, Chindy Vionariska, dengan tekun memberikan pemahaman mengenai ilmu komputer kepada anak-anak difabel.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Keterbatasan fisik yang disandang anak rupanya tak menghalangi minat mereka mempelajari teknologi. Bahkan, sebanyak delapan anak difabel antusias mengikuti pelatihan komputer yang diselenggarakan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lumajang.

IKLAN

Para penyandang difabel itu merupakan siswa kelas 4 hingga kelas 6 Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Tompokersan, di Jalan Veteran, Lumajang. Selain untuk memberi kesempatan yang sama seperti anak pada umumnya, pelatihan ini juga diharapkan dapat merangsang kognitif dan psikomotorik mereka.

Pustakawan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Lumajang Chindy Vionariska mengaku sempat menemui kendala saat melakukan komunikasi dengan anak-anak difabel. Kendati begitu, tetap ada solusi agar komunikasi yang dilakukan berjalan dengan baik. Dirinya menggunakan bahasa isyarat atau bahasa tubuh saat melatih mereka menggunakan perangkat komputer.

Selain itu, kata dia, salah satu kunci membangun komunikasi dengan anak difabel tersebut adalah dengan berusaha memahami dan mengerti mereka. “Seperti tadi saat mengajari mereka berhadapan dengan komputer dan Microsoft Word,” katanya, kemarin seusai memberikan bimbingan kepada anak-anak difabel di ruang perpustakaan.

Chindy juga mengaku, memang tak mudah melatih anak difabel. Perlu cara-cara tersendiri agar apa yang disampaikan dapat diserap dan mudah dipahami. Terlebih, dia menambahkan, daya konsentrasi mereka juga harus terjaga.

Untuk itu, sesekali dalam pemberian materi pengenalan dan pembelajaran komputer, dirinya juga menyelingi kegiatan itu dengan mengajak senam bersama, serta permainan edukasi. Hal ini diyakininya mampu membuat mereka merasa nyaman dan tidak jenuh. “Sesekali diselingi gerakan motorik dengan senam bersama maupun ice breaking,” terangnya.

Plt Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kustiati menegaskan, anak-anak difabel tidak boleh mendapat perlakuan diskriminatif oleh siapa pun. Sebab, bagi dia, hak yang sama juga harus diberikan kepada anak difabel.

Apalagi, sambungnya, mindset program pengembangan budaya baca dan pembinaan perpustakaan adalah melayani. “Sehingga tidak boleh ada diskriminasi kepada siapa pun, khususnya bagi anak difabel,” ujarnya.

Sementara itu, Ana, salah seorang Guru SDLB Tompokersan yang mendampingi anak-anak difabel itu berharap, setelah mengikuti program ini nantinya anak didiknya bisa semakin tertarik untuk mendalami ilmu komputer.

Apalagi, dia berkata, saat ini ilmu komputer sudah umum dipelajari di hampir sekolah tingkat dasar. “Harapannya mereka bisa menulis di komputer dan mengenal dunia komputer. Memang fasilitas di sekolah ada, akan tetapi belum memadai,” tandasnya. (*)

Reporter : Ahmad Jafin

Fotografer : ahmad jafin

Editor : Narto