Duit Pungli yang Diterima Rohim dan Suwidi, Mengalir ke Oknum Dispendik?

Jumai/Radar Jember BARU DUA: Polres Jember saat melakukan konferensi pers terkait operasi tangkap tangan terhadap dua penilik PAUD, yakni Suwidi dan Abdul Rohim. Keduanya  kini berstatus tersangka.

RADARJEMBER.ID – Abdul Rohim, Penilik Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Sukowono dan Suwidi, penilik PAUD Kalisat kemarin pagi (8/9) hanya bisa tertunduk lesu. Meskipun mengenakan penutup kepala, kedua pegawai negeri sipil di lingkungan Dinas Pendidikan Jember ini terlihat syok.

IKLAN

Suwidi, 58, warga Desa Lambengan, Ledokombo, dan Abdul Rohim, 53, warga Desa Balet Baru, Sukowono ini sebelumnya ditangkap oleh tim Saber Pungli dari Polres dan Kejari Jember di salah satu rumah makan di Sukowono. Keduanya diduga kuat menerima uang dari lembaga yang mendapatkan bantuan dari APBN.

Pihak kepolisian dan tim Saber Pungli secara resmi akhirnya menetapkan keduanya menjadi tersangka. Hal ini terungkap saat keduanya didatangkan dalam konferensi pers di Mapolres Jember yang juga menghadirkan Kejaksaan Negeri Jember, kemarin.

“Saat ini yang menjadi tersangka dua orang,” ucap Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo kepada media, kemarin. Dia menuturkan, kedua orang tersebut memiliki peran yang sama. Karena jabatannya sebagai penilik, sehingga bertugas menjadi pengendali mutu.

Oleh karena itu, keduanya bisa mencari, menyurvei, dan menentukan lembaga-lembaga yang layak untuk mendapatkan atau menerima bantuan dari pemerintah baik daerah maupun pusat. Salah satunya bantuan lembaga khusus dari pemerintah pusat alias menggunakan APBN. Ketika sudah turun, maka kedua orang ini pun meminta sejumlah uang kepada lembaga tersebut.

Uang tersebut adalah sebagai bentuk terima kasih lembaga kepada pihak di atasnya, termasuk penilik. “Mereka meminta pengertiannya dari para lembaga (yang mendapatkan bantuan, Red) sebagai ucapan terima kasih,” jelas Kusworo.

Menariknya, keduanya menetapkan nilai besaran yang diminta dari masing-masing lembaga. Dana setiap lembaga yang menerima BLK ini, diakui Kusworo variatif, yakni mulai Rp 20-25 juta. “Mereka meminta sekitar 10-15 persen dari anggaran bantuan,” jelasnya.

Untuk dua lembaga PAUD, yakni Nurul Islam, Sukowono dan Cempaka 100 dari Kecamatan Silo ini terkena sekitar 15 persen. Ada bukti uang hasil OTT senilai Rp 7,2 juta. Kusworo mengatakan, sejauh ini pihaknya masih melakukan pendalaman ke mana saja aliran tersebut diberikan oleh penilik, termasuk ke pihak dinas pendidikan.

Dari tangan tersangka, polisi menyita barang bukti berupa uang tunai sebesar Rp 7,2 juta, empat unit ponsel, dan tiga lembar fotokopi rekening bank. Pembagian uangnya didistribusikan untuk tiga orang, yakni Suwidi sebesar Rp 2 juta, Abdul Rohim mendapatkan Rp 2,2 juta. Sisanya Rp 3 juta ini masih gelap, karena informasinya diberikan kepada oknum di dinas pendidikan.

Oleh karena itu, pihaknya saat ini masih terus melakukan penyelidikan untuk kasus ini. “Jika kedua tersangka menyebut ke mana aliran dananya, maka akan ada tersangka baru,” jelas Kusworo. Sejauh ini, Polres Jember baru memeriksa sebanyak delapan saksi dari kasus tersebut. Termasuk dari lembaga yang memberikan uang kepada penilik juga masih berstatus sebagai saksi.

Keduanya dikenakan Pasal 12 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 perubahan UU No 31 Tahun 1999 tentang Korupsi. Yakni mengenai tindakan gratifikasi selaku penerima hadiah. “Kalau ancaman hukumannya 20 tahun penjara,” tegas Kusworo.

Sementara itu, Kajari Jember Ponco Hartanto saat ditemui kemarin menambahkan, pihaknya selaku tim Saber Pungli akan terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian. “Kami selalu sinergi untuk penyelesaiannya. Karena bisa jadi seluruh Jember,” terang Ponco menambahkan, kemarin.

Dirinya mengatakan, pemungutan itu seharusnya tidak ada karena anggaran ini juga langsung ke lembaga. Untuk pengembangan, diakuinya bergantung hasil pemeriksaan. “Saya kira pungutan liar tak akan berhenti pada pemungut saja. Tunggu saja. Ini diperiksa dulu. Ini baru berjalan. Nanti tim penyidik kejaksaan dan polres bersinergi,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Jumai

Reporter :

Fotografer :

Editor :