Hakim Geram Karena Anggota Dewan Banyak Lupa

Denny Mahardhika/jawa pos CECAR ANGGOTA DEWAN: Tiga anggota DPRD Jemberdijadikan saksi dalam lanjutan sidang korupsi dana hibah Jember yang menyeret Ketua DPRD Kab Jember non aktif, Thoif Zamroni, kemarin.

RADARJEMBER.ID- Dua hakim pengadilan Tipikor geram mendengar keterangan saksi dari tiga anggota DPRD Jember. Ketiganya, merupakan saksi dari lanjutan sidang korupsi dana hibah Jember yang menyeret Ketua DPRD Kab Jember non aktif, Thoif Zamroni.

IKLAN

Dalam sidang kemarin di Pengadilan Tipikor Surabaya di Sidoarjo, hakim Wiwin Arodawati dan Agus Yunianto jengkel dengan pernyataan saksi yang merupakan anggota DPRD Jember. Ketiganya ialah Hariana, Suryati dan Suyitno.

Dari tiga saksi itu keterangan Hariana yang paling dicecar dan membuat geram hakim. Mereka bertiga dihadirkan untuk memberikan keterangan mengenai pengajuan proses dari penerimaan dana tersebut. Awalnya, Hariana diberikan pertanyaan oleh Wiwin soal jumlah uang hibah yang diterimanya. “Anggota menerima Rp 750 juta, majelis, “ujarnya kepada Wiwin.

Namun, pertanyaan dari Wiwin tidak berhenti disitu saja, dia ingin melanjutkan pertanyaan yang lebih dalam.Pertanyaan itu tentang pengajuan cara alokasinya dan proses pengambilannya.

Hariana menjawab tidak tahu dan lupa. “ Tapi masyarakat sendiri yang mengajukannya kesana, karena saya bilang ke mereka,” ungkapnya.

Dia mengatakan untuk konstituennya, ada 50 orang pengajuannya. Tapi dia tidak ingat siapa saja kelompoknya. Itulah yang membuat hakim geram. “Lah kok gak tau yang ngusulkan siapa, kok gak tau yang dapat siapa sih,” ungkap Wiwin dengan ekspresi kecewa. Tidak berhenti disitu pertanyaannya, melainkan terus digilir ke dua anggota lainnya, Suyitno dan Suryati.

Suyitno menjelaskan beberapa pertanyaan yang tidak bisa dijawab Hariana. Dia menjelaskan bahwa pengusulan itu memang ada. Namun untuk penerimaan dia tidak mengawasinya. “Saya hanya mengusulkan nama, setelah itu untuk pengambilan hibah itu, saya arahkan langsung kepada Dinas-dinas yang terkait,” ungkapnya.

Suyitno terus melanjutkan uang yang diterima oleh para konstituennya itu senilai Rp 5 hingga 15 juta per kelompok. Uang tersebut dibagi menjadi beberapa keperluan. “Ada yang ekonomi, sosial, dan peternakan,” ujarnya. Namun, hal tersebut tidak bisa dijawab dengan hal yang sama oleh Hariana dan Suryati.

Mereka berdua tetap saja menjawab lupa. Terkadang tidak memahami pertanyaan dari hakim, jaksa, dan penasihat hukum Zamroni, Muhammad Nuril. “Saudara ini males mikir atau seperti apa, kok jawabnya dari tadi lupa, tidak ingat, padahal peristiwanya baru beberapa tahun yang lalu. Anda ini anggota dewan lhoo,” tegas Wiwin dengan raut wajah marah.

Saat dikejar pertanyaan, mereka berdua Suryati dan Hariana merupakan anggota Banggar pada pengajuan proses tersebut. Namun, kedatangan mereka berdua tidak bisa membantu menerangkan masalah.

Dalam sidang tersebut, tidak hanya anggota DPRD yang didatangkan oleh jaksa Herdian Rahardi, mereka mendatangkan empat saksi lainnya. Mereka adalah Dicky dan Ika irmawati pegawai dari Dinas Peternakan, Denah Handayani seorang pegawai DPRD, Djari Bachtiar seorang petugas pasar Jember. Keempatnya berperan sebagai orang yang mengetahui proses pengambilan dana tersebut.

Nyatanya, dalam sidang tersebut, proposal yang diajukan setiap konstituen dewan langsung mengarah kepada dinas. Salah satunya dinas peternakan. Namun, pencairannya mereka tidak mengetahuinya.

Seperti diberitakan, Zamroni didakwa telah melakukan penyelewengan anggaran terkait pengajuan dana hibah. Dari kasusnya tersebut, dia dianggap telah merugikan negara sebesar Rp 1,4 miliar. Uang itu hilang begitu saja, akibat dari adanya kelompok-kelompok fiktif yang mengajukan proposal dana hibah. Total dana hibah keseluruhan anggota dewan senilai Rp 38 M.

Reporter & Fotografer: Denny Mahardhika/jawa pos
Editor : Hadi Sumarsono

Reporter :

Fotografer :

Editor :