Minimnya Anggaran Olahraga Jember

Kejar Prestasi Minim Amunisi

Olahraga masih belum menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Kabupaten Jember. Hal itu terlihat dari  keterbatasan yang dihadapi oleh semua cabor. Namun, semangat para atlet tak pernah pudar untuk meraih prestasi setinggi-tingginya..

PAKAI BAN: Salah satu atlet yang latihan menggunakan ban bekas. Sebab, alat dan sarprasnya memang kurang memadai.

RADAR JEMBER.ID – Perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porpov) menjadi momen penting bagi banyak atlet di Kabupaten Jember. Demi menghadapi ajang bergengsi tersebut, atlet dari masing-masing cabang olahraga (cabor) berlatih keras agar meraih prestasi.

IKLAN

Tiga cabor seperti Persatuan Tinju Amatir (Pertina), Persatuan Panahan Indonesia (Perpani), dan Cabor Taekwondo Jember, juga tidak ketinggalan ikut berlatih keras. Mereka latihan secara maksimal dengan modal semangat para pengurus, pelatih, serta atletnya.

Sayangnya, semangat mereka tak dilengkapi dengan sarana prasarana yang menunjang. Sebut saja cabor tinju yang berlokasi di Rambipuji ini. Hampir setiap latihan, mereka selalu menggunakan barang-barang lama yang sudah  rusak. Bahkan, demi melengkapi peralatan sarana dan prasarana latihan, cabor ini terpaksa menggunakan ban bekas untuk sasaran tinju.

Sekretaris Pertina Jember Ardianto Oky Wijaya menyebutkan, jumlah atlet tinju yang mereka asuh saat ini ada sepuluh orang. Sementara itu, yang dikirim ke Kediri hanya satu atlet, yaitu Iqbal Dwi Pamungkas. Latihan atlet ini pun menurutnya tak luput dari latihan menggunakan ban bekas. “Untuk melengkapi peralatan, ban bekas terpaksa kita pakai,” ucap pria yang juga pelatih tinju tersebut.

Dengan kondisi yang demikian, pria yang akrab disapa Oky itu mengaku prihatin. Namun, karena tak ada pilihan lain, maka ban bekas pun bisa menjadi sarana sebagai sasaran pukulan tinju. Latihan para atlet tetap maksimal dengan peralatan seadanya. “Kami prihatin, karena anggaran untuk cabor di Jember sangat minim,” keluhnya.

Khusus untuk atlet, kata dia, tinju bisa disebut sebagai cabor yang paling susah. Baik dari mencari atlet hingga latihannya. “Bagi sebagian orang tua, tinju masih menjadi momok dan merupakan pilihan olahraga terakhir. Selama ini, para atletnya juga masih dari kalangan menengah ke bawah,” jelasnya.

Untuk itulah, Oky berharap agar ke depan pemerintah bisa menganggarkan dana sesuai kebutuhan para atlet. Baik dari sarana dan prasana, maupun asupan gizi untuk menunjang tumbuh-kembangnya para atlet. “Tentu untuk peralatan butuh inovasi,” tegasnya seraya mengaku optimistis satu atlet tinju yang berangkat ke Porpov Kediri akan juara.

Keluhan serupa tentang minimnya anggaran yang berdampak pada minimnya peralatan juga disampaikan Riki Suhermanto, pelatih sekaligus Wakil Ketua Perpani Jember. Menurutnya, peralatan cabor panahan juga tergolong minim. Sebab, peralatan panahan memiliki standardisasi, sehingga tak dapat dibuat sendiri. “Termasuk busurnya juga harus standar,” katanya.

Porpov ini, kata Riki, para atlet yang ikut maupun yang tidak, berlatih setiap hari. “Kami mengirim lima atlet. Satu atlet harus didampingi satu pelatih,” ucapnya.

Kurangnya dukungan anggaran juga terjadi pada cabor taekwondo. Menurut Rahmad, salah seorang pelatih, demi menunjang latihan agar tetap maksimal, maka cabor ini harus menerima swadaya dari para orang tua atlet. “Ada juga kas cabor,” paparnya.

Dia berharap agar anggaran untuk cabor benar-benar menjadi perhatian pemerintah, sehingga bisa untuk try out, asupan gizi, serta penunjang latihan. Rahmad menyebut, ada empat atlet  taekwondo yang ikut ke porpov.

Selain itu, para atlet cabor senam  mengikuti tiga jenis cabang. Yaitu senam artistik, senam ritmik, dan senam aerobik dinastik. Peralatan yang mereka gunakan untuk latihan merupakan swadaya dari masing-masing atlet dan pembina atau pelatih.

“Tidak pernah disediakan, kita lebih sering mandiri. Karena memang peralatan senam itu mahal,” ujar Ani Kuntariani, salah seorang pelatih atlet dari cabor senam.

Para atlet yang latihan harus berpindah-pindah tempat. Yakni menyesuaikan fasilitas yang disediakan oleh sekolah dari atlet-atletnya. “Ada sekolah gabungan yang kami pakai latihan. Ada SD Kepatihan 1, SD Kaliwates 1, sekolah-sekolah yang ada atlet kita,” imbuhnya.

Dia menjelaskan, idealnya alat latihan cabor senam itu terdiri atas beberapa bagian. Seperti matras yang harus berukuran 10×10 meter, papan tumpuan kuda-kuda lompat beserta meja lompatnya. Kemudian, tamel atau jamur (yang berputar). Karena semua itu menurutnya diperlombakan.

Peralatan yang dimiliki, lanjutnya, hanya matras silat yang berukuran 6×6 meter. Itu pun milik para atlet atau anak didiknya. “Kuda-kuda buat lompat saja kita pakai bangku sekolah,” ujar guru olahraga itu.

Untuk senam artistik, latihan harus ke Pakusari, karena di sana ada matras empuk. Dia juga memprihatinkan para anak didiknya yang jauh dari kota. Seperti Kecamatan Puger, Kencong, dan lain-lain.

Keterbatasan sarana itu tak membuat Ani menyerah, dia tetap mempersiapkan anak didiknya sejak sebulan. Dari 11 atlet yang diberangkatkan, ia menargetkan satu perak dan dua perunggu. “Ndak berani banyak. Karena Porprov itu profesional sampai usia 21. Sedangkan atlet kita masih pelajar SD, SMP, dan SMA,” ungkapnya.

Sementara itu, Kusuma Irianto, salah seorang pelatih panahan yang menyiapkan anak didiknya menuju Proprov Jatim juga mengalami hal sama. Alat yang digunakan merupakan  swadaya.

Menurutnya, 2018 kemarin, para atlet sempat mendapat bantuan target atau sasaran sebanyak 8 biji. Sedangkan lainnya, hasil pengadaan dari pelatih dan para atlet panahan. Jumlahnya sedikit karena harga peralatan yang cukup mahal.

“Kalau busur di Pon-Pon itu sekitar Rp 30 juta ke atas, kalau standar itu berkisar Rp 6 setengah juta,” ucapnya. Fasilitas yang paling penting dari atlet panahan adalah busur dan anak panah. Selain itu, kondisi lahan yang pas untuk latihan.

Selama ini, latihan dilakukan di Stadion Notohadinegoro oleh Pemkab Jember. “Ketika tahu ada porprov itu, porsi latihan kita tambah. Biasanya seminggu sekali, kita tambah menjadi seminggu tiga kali. Itu pun para atlet menambah jam latihan sendiri di rumahnya,” imbuhnya.

Dengan mengirimkan kelima atletnya beserta 3 ofisial, dia berharap anak didiknya dapat pulang menyabet penghargaan. “Target maksimal setidaknya emas untuk Porprov 2019 ini,” pungkasnya. (*)

Reporter : Nur Hariri, Maulana

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Bagus Supriadi