2019, Laporan Kekerasan Seksual Anak Capai 50

Pelaku Pelecehan Ambulu Divonis Lebih Ringan

DIVONIS: Sumiran, terdakwa kasus kekerasan seksual saat mengikuti sidang putusan di PN Jember

RADAR JEMBER.ID – Sumiran, terdakwa pelaku pencabulan terhadap anak di bawah umur di Kecamatan Ambulu divonis enam tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Jember, kemarin (7/5). Putusan itu ternyata jauh lebih ringan dibandingkan dengan tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) yakni sepuluh tahun penjara.

IKLAN

Terdakwa yang sudah berusia 60 tahun itu dinyatakan bersalah, sehingga harus menanggung akibatnya. “Dia divonis enam tahun dan enam bulan penjara,” kata penasihat hukumnya, Naniek Sudiarti, SH. Putusan itu diterima dan tidak menyatakan banding. Sebab, pihaknya melihat putusan itu sudah dinilai cukup adil, karena tuntutan sebenarnya sepuluh tahun. Majelis hakim memutus dengan enam tahun penjara. Terdakwa sendiri terbukti melakukan tindak pidana pencabulan sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sekadar tambahan, Sumiran sendiri merupakan pelaku kekerasan seksual terhadap anak yang baru berusia 12 tahun. Perbuatan bejat itu dilakukan pada Juli 2018 lalu yakni dengan memberikan uang pada korban. Saat itulah, terdakwa memegang organ intim korban. Hal itu dilakukan berkali-kali hingga korban mengaku pada orang tuanya bahwa telah dilecehkan. Ini yang membuat orang tua korban geram dan melaporkan kasus tersebut pada aparat kepolisian.

Terdakwa kemudian ditangkap dan ditahan. Di persidangan terungkap bahwa perbuatan itu dilakukan saat kondisi rumah dalam keadaan sepi. Terdakwa bisa leluasa karena merupakan kakek sambung korban. Pencabulan juga dilakukan ketika korban dibawa ke Bali. Di rumah kos terdakwa, korban juga dicabuli. Akibatnya, korban trauma dan merasa ketakutan. Ironisnya, perbuatan itu bukan hanya dilakukan sekali, namun hingga 19 kali.

Sementara itu, Solihati, pendamping Pusat Perlindungan Terpadu (PPT) Jember menambahkan, hingga April 2019, sudah ada 25 kasus kekerasan yang terjadi pada anak. Sedangkan selama tahun 2018 telah sebanyak 50 kasus. “Itu yang tercatat, masih banyak yang belum melaporkan,” katanya. Dari 25 kasus terhadap anak di bawah umur itu, dua di antaranya merupakan anak yang berhadapan dengan hukum.

Menurut dia, kasus kekerasan pada anak semakin tak terbendung. Sebab, belum setengah tahun, sudah ada 25 laporan pada PPT. Kasus kekerasan itu banyak terjadi di daerah perdesaan. Salah satu penyebabnya karena pola asuh yang kurang baik. Solihati mengatakan, korban merupakan anak yang ditinggal keluarganya. Seperti anak yang ibunya menjadi tenaga kerja wanita di luar negeri. “Ada juga yang orang tuanya bercerai, sehingga pengasuhan anak terbengkalai,” jelasnya.

Dia menilai, hukuman yang berat bagi pelaku tidak bisa membuat jera. Sebab, pola kepengasuhan orang tua yang belum baik. Para pelaku bukan hanya orang yang sudah dewasa, namun juga anak-anak. “Ada anak yang jadi korban karena tipu daya,” jelas dosen Universitas Islam Jember itu.

Untuk itu, lanjut dia, upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah maraknya kasus kekerasan seksual terhadap anak adalah melalui pendidikan keluarga. Selain itu, perlu pengawasan masyarakat. “Warga tidak diam ketika ada anak berduaan meskipun itu bukan keluarganya. Tapi menegur. Jangan apatis,” jelasnya.

Selama ini, ketika ada anak yang berbuat tidak baik di tempat sepi, banyak yang membiarkan. Padahal, mereka harus peduli agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. “Perlu ada edukasi pada keluarga, misal pelatihan parenting, pola kepengasuhan yang baik pada anak,” jelasnya.

Sebab, mendidik anak hari ini sangat jauh berbeda dengan zaman dulu. Zamannya sudah berubah. Hampir anak-anak sudah memegang gawai dan bisa mengakses internet. Bila tidak didampingi, mereka berpotensi menjadi korban kekerasan.  Ketika sudah menjadi korban kekerasan seksual, ada trauma yang begitu dalam pada diri anak-anak.

Trauma itu sulit dilakukan dan membutuhkan terapi yang cukup panjang. “Ada anak yang sedang tidur, lalu berteriak karena pengaruh trauma,” jelasnya. Para korban perlu mendapatkan pendampingan dari psikolog. Tujuannya untuk menghilangkan pikiran negatif dalam diri korban.

“Menghilangkan pikiran bahwa mereka tidak suci lagi,” ujarnya. Pihaknya bekerja sama dengan psikolog dari perguruan tinggi untuk terapi trauma. Bila tidak, lanjut dia, trauma itu berpotensi untuk menjadi pelaku ketika sudah besar. Upaya ini harus terus dilakukan. Sebab, kasus kekerasan seksual pada anak cukup banyak. “Data ini tidak termasuk dengan lembaga lainnya, tentu lebih banyak,” tandasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : bagus supriadi

Editor : Rangga Mahardika