Membaca Peluang Paslon Meraih Dukungan

Hasilnya Bergantung Tim Pemenangan

 Masa pendaftaran cabup-cawabup telah ditutup. Ada tiga paslon. Secara berurutan adalah Hendy-Gus Firjaun, Salam-Ifan, dan Faida-Vian. Meski berangkat dengan dukungan dan jalur berbeda, namun ketiganya sama-sama memiliki modal politik untuk meraih dukungan publik. Seperti apa peluang ketiga paslon tersebut merebut hati pemilih?

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Tahapan pemilihan kepala daerah (pilkada) di Jember masuk babak baru. KPU telah menutup pendaftaran dan terkunci tiga pasangan bakal calon bupati dan calon wakil bupati (cabup-cawabup). Pertama adalah pasangan Hendy Siswanto dan Balya Firjaun Barlaman (Hendy- Gus Firjaun). Kedua, Abdussalam dan Ifan Ariadna (Salam-Ifan). Dan ketiga adalah Faida dan Dwi Arya Nugraha Oktavinato (Faida-Vian).

Masing-masing kandidat merupakan tokoh terbaik. Mereka sama-sama dipercaya oleh masyarakat dan partai politik. Namun, kendati sama-sama memiliki modal ketokohan dan dukungan politik yang cukup, hal itu tak secara otomatis membuat mereka terpilih dan memenangkan pilkada mendatang.

Oleh karena itu, modal bertanding yang dimiliki harus dioptimalkan. Apalagi, modal awal itu cuma menggambarkan peta perpolitikan yang ada. Bukan menentukan siapa yang bakal memenangkan kontestasi pilkada nanti. Sehingga masing-masing paslon dan tim pemenangannya harus sama-sama berhitung untuk menyusun strategi kerja-kerja politik mereka.

Sebab, jika menilik Pilkada 2015 lalu, fakta menunjukkan modal dukungan yang besar saja tidak selamanya di atas angin. Demikian pula modal awal yang minim, juga tak otomatis kalah dalam pertarungan. Ada sekian faktor yang memengaruhi paslon itu mampu mengambil hati pemilih. Selain modal politik, juga kerja tim pemenangan dalam meyakinkan calon pemilih.

Apalagi, jika melihat pilkada 2020 ini yang berbeda dengan 2015 lalu. Sebab, ada dua paslon yang berangkat dari partai, juga ada yang berangkat dari jalur perseorangan. Ini artinya, pilkada 2020 bisa lebih dinamis dari periode sebelumnya. Dan hal itu kembali lagi pada upaya pemenangan setiap pasangan calon dan mesin politik yang membawa mereka. Hasil akhirnya adalah meraih dukungan warga Jember agar menentukan hak suaranya kepada calon yang diusung.

Catatan Jawa Pos Radar Jember menunjukkan, kondisi politik di Jember sangat cair. Misalnya, Bacabup Hendy Siswanto yang awalnya sempat memiliki keinginan untuk head to head melawan petahana. Akan tetapi, alotnya perpolitikan membuatnya memutuskan untuk daftar lebih dahulu. Itu dilakukan secara cepat demi melakukan konsolidasi pasca pendaftaran. “Setiap hari kami melakukan konsolidasi. Rapat bersama dengan partai pengusung dan relawan, maupun dari tim Hendy Siswanto Center,” papar Hendy yang juga menyebut parpol memiliki banyak pengalaman.

Begitu disinggung berapa target kemenangannya, Hendy menegaskan, dengan diusung oleh lima partai dengan 28 kursi di DPRD Jember, maka pihaknya optimistis bisa menang. Dia pun yakin modal besar dari partai pengusung akan mengantarnya sebagai pemenang. “Target kami menang 70 persen. Sudah pasti Hendy-Gus Firjaun menang,” ucapnya.

Ketua DPC Gerindra M Satib mengungkap, dukungan pasangan Hendy-Gus Firjaun memang besar. Akan tetapi, barisan pengusungnya tak akan lengah. Gerindra menjadi satu dari lima partai yang mengusung pasangan ini. “Satu hal yang harus diingat, pilkada dengan pileg sangat berbeda. Pilkada itu mengedepankan figur,” ungkapnya.

Menurutnya, Jember pernah memiliki pengalaman adanya calon perseorangan, melalui masa pencalonan. Untuk itu, ketika hari ini harus berhadapan dengan barisan partai lain dan perseorangan, Satib tetap optimistis menang. “Rangsangan bagi parpol untuk menggerakkan mesin politiknya sangat penting agar hasilnya melebihi hasil pileg. Hendy-Gus Firjaun sudah lama berkontribusi terhadap masyarakat. Modal inilah yang bisa menggerakkan masyarakat,” tuturnya.

Di lain pihak, bacabup Abdussalam juga menyatakan hal serupa. Optimistis meraih dukungan pemilih. Dia menegaskan, pihaknya akan melakukan konsolidasi secara masif dengan partai politik dan barisan relawan pendukung. Hal ini dilakukan untuk meraup dukungan massa. Salam-Ifan pun optimistis karena keduanya sama-sama milenial. “Kami ingin, pemerintah dan masyarakat tidak ada sekat atau tidak egaliter,” jelasnya.

Salam pun menegaskan, duet Salam-Ifan memiliki kelebihan lain, yakni koalisi yang terbangun dinilai paling lengkap. Yaitu ada barisan nasionalis dan religius. “Kita akan gerilya di bawah. berbaur dengan masyarakat, dan menunjukkan bahwa pemimpin itu harus bersama rakyat. Harus yakin menang, tetapi tidak sekadar menang saja. Harus dekat bersama rakyat,” ujarnya.

Arif Wibowo, Ketua Tim Pemenangan Salam-Ifan, menyatakan, pilpres, pileg, dan pilkada memiliki peta politik dan cara pandang masyarakat yang berbeda. Menurutnya, modal 22 kursi tidak menjadi persoalan. Pada 9 Desember nanti, kata dia, pihaknya akan membalik keadaan yakni menang pilkada. “Pilkada sesuatu yang berbeda. Politiknya berbeda. Gerakannya juga berbeda. Kombinasi daya tarik paslon terhadap pemilih dan kerja kepartaian yang massif serta progresif. Itu saja,” ungkapnya.

Politisi Senayan sekaligus Ketua DPC PDIP Jember ini mengaku akan memenangkan pertarungan pilkada. Apalagi, dia mengutarakan, dukungan kepada petahana yang dulu besar adalah sumbangan partai. Jadi, kalau partai sudah memutuskan menarik komando, menarik garis masanya, menurut dia, meskipun tersisa hanya beberapa persen saja. “Sebagian akan kembali kepada partai. PDI perjuangan jelas, banteng pulang kandang. Kita bangkit untuk merebut kekuasaan lokal, yaitu di Kabupaten Jember,” katanya.

Sementara itu, Bacabup Faida menegaskan, mendaftar menjadi perserta pilkada melalui jalur partai atau perseorangan hanya berbeda prosedur pendaftarannya. Untuk itu, tidak adanya partai politik bukan berarti bermusuhan. Selain itu, jalur perseorangan yang ditempuh juga tak menunjukkan bahwa Faida-Vian antipartai. Selain itu, tidak bersinergi dengan partai bukan berarti tidak bekerja sama. “Kami menghargai hak konstitusi para pendukung yang menginginkan melalui jalur independen. Itu konstitusi, dan tidak bermusuhan dengan partai,” ungkapnya.

Meski tanpa dukungan partai politik, menurut Faida, tidak lantas menyurutkan semangatnya. Bahkan, saat disinggung apakah tidak eman terhadap kantong suara partai yang dulu mendukungnya, Faida kembali menegaskan, pasangan Faida-Vian sangat menghargai dukungan masyarakat. “Saya kira, partai punya jalur koordinasi sendiri, dan kami menghargai hal itu,” katanya.

Rully Efendi, Juru Bicara Faida-Vian, juga optimistis paslonnya dapat merebut hati rakyat. Sebab, hingga saat ini, paslon, tim pemenangan, serta para relawan, terus bergerak memenangkan Faida-Vian. Apalagi, surat dukungan langsung dari masyarakat yang menjadi syarat maju jalur perseorangan, menjadi modal semangat gerakan pemenangan. “Kami tidak antipartai. Akan tetapi, karena banyak masyarakat yang mendorong agar daftar melalui jalur perseorangan, kami pun menghargai keinginan banyak orang. Itulah yang kami sebut rekomendasi rakyat. Kami yakin pasti menang,” pungkasnya.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Nur Hariri
Fotografer: Grafis Reza