Pakai Cara Konvensional, Main Musik untuk Semua Orang

Mengenal Gitaris Tato Band, Toto Sandoro

Tato Band menjadi band rock Jember pada dekade 90-an. Grup ini menembus belantika musik nasional. Salah satu personel band legendaris yang tinggal di Jember adalah Toto Sandoro. Walau usianya tak lagi semuda dulu, tapi kini Toto tetap eksis. Dia berbagi ilmu gitar.

MUSISI JEMBER: Toto Sandoro, gitaris Tato Band, yang masih mengandalkan alat mendengarkan lagu zaman dulu, yaitu tape. Hal itu dilakukan agar insting dan kualitas musiknya tetap terjaga.

RADAR JEMBER.ID – Suara petikan gitar akustik terdengar lirih. Suaranya memecah keheningan malam di Gang Soto Dahlok. Rupanya, sumber suara gitar itu berasal dari rumah berwarna putih. Seorang pria gondrong, kurus, berkacamata, dan hanya mengenakan kaus singlet, tiba-tiba membuka pintu rumah tersebut dan menyapa Radarjember.id. “Dari Radar Jember ya? Ayo masuk!” ajaknya.

IKLAN

Pria berambut panjang itu adalah gitaris Tato Band. Band asli Jember yang menjadi band rock pertama dari Kota Suwar-suwir. Grup musik cadas tersebut sempat menembus belantika musik nasional. Lewat lagu Satu Senyum Saja, mereka mulai dikenal. Bahkan, publik lebih akrab dengan lagunya dari pada band yang membawa lagu tersebut.

Jangan kau bersedih//usah kau menangis//berikanlah aku satu senyum saja.

Itulah bait ref lagu satu senyum saja dari Tato Band. Band dari Jember ini mulai redup saat krisis moneter 1999-2000 terjadi di Indonesia. “Semua bingung, mencari kerja, mencari nafkah, dan banyak memilih balik ke Jember. Ada pula mencari kerja di Bali,” ungkapnya.

Walau tercerai-berai karena sibuk dengan pekerjaan masing-masing, Toto Sandoro masih berupaya membuat Tato Band eksis lagi. Tahun 2008, Tato Band ingin bangkit. Tapi personelnya tak bisa seperti dulu. “Karena mereka sudah terikat pekerjaan. Sehingga membentuklah Tato Band dengan persoeil baru. Hanya saya yang lama,” imbuhnya.

Perbedaan zaman, dekade 90-an dengan 2008 tersebut membuat Tato Band tak bisa digebyar seperti dulu. Pembajakan kaset semakin masif, format lagu dari kaset pita ke digital juga jadi tantangan.

Merasakan asam pahitnya belantika musik Indonesia, Toto Sandoro tetap ingin kembali ke Jember dan tetap menjadi musisi. Sebab, dia ingin ada generasi musisi Jember yang eksis sampai nasional. “Walau saya sekarang tidak bisa eksis sebagai musisi nasional seperti dulu, tapi ingin ada orang baru yang meneruskan dari Jember,” katanya.

Toto umurnya tak lagi muda, tapi dia tetap mengabdi sebagai pengajar gitar. Pengalaman sebagai gitaris Tato Band sekaligus pengalaman jadi superstar pada dekade 90-an, membuat pria yang kini berusia kepala lima itu ingin berbagi. Menurut dia, tidak sedikit gitaris muda Jember ini masih tinggi egonya. “Bermain gitar ingin menunjukkan dia itu hebat dan menunjukkan semua skill-nya,” katanya.

Padahal, kata dia, sebagai musisi, yang terpenting adalah bagaimana bisa membuat pendengar itu menikmati. Pengalamannya membuat melodi gitar dari lagu Satu Senyum Saja, juga di luar prediksi Toto. “Take berkali-kali. Membuat melodi berkali-kali. Sampai melodi yang njlimet, tetap tidak cocok untuk produser. Dulu itu sampai stres,” katanya.

Tapi saat memainkan melodi sederhana, ternyata nada seperti itulah yang diinginkan produser yang kala itu adalah Papa T Bob. Karena itu, kata dia, mulai dari sana Toto paham bahwa bermain musik itu tidak untuk dirinya, melainkan untuk orang lain.

Kini, lewat kecanggihan teknologi serta semakin mudahnya mendapatkan informasi dan ilmu gitar, menurut Toto, banyak gitaris muda ini intuisi bermain gitarnya rendah. “Secara teori dan skill anak sekarang lebih jago. Tapi insting bermain gitarnya kalah dengan orang dulu,” ujarnya.

Dia mencontohkan, untuk stem gitar saja banyak yang memakai aplikasi di ponsel ataupun mengandalkan alat modern. Padahal, kata dia, stem gitar dengan mengandalkan telinga adalah hal yang paling bagus untuk mengasah insting gitar. “Kalau mau cari melodi lagu, anak sekarang tinggal liat Youtube. Padahal, yang baik itu mencari sendiri dengan mendengarkan musik berkali-kali,” katanya.

Hingga kini, Toto pun masih mengandalkan alat pemutar musik zaman dulu yang memakai pita. “Tetap pakai tape. Suaranya lebih bagus daripada MP3,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih