Sisir Tempat Hiburan Malam

PATROLI: Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo bersama jajaran polisi, TNI, dan para tokoh masyarakat saat melakukan patroli di malam pertama puasa.

RADAR JEMBER.ID – Kepolisian Resor Jember bersama dengan Kodim 0824 Jember, Satpol PP, Ormas Muhammadiyah, NU, MUI, dan tokoh masyarakat melakukan patroli gabungan, Minggu (5/5) malam. Mereka berkeliling ke berbagai tempat hiburan, mulai dari tempat karaoke, panti pijat, dan lainnya.

IKLAN

Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo mengatakan, kegiatan itu merupakan kesepakatan bersama dari berbagai pihak. Sebab, tempat hiburan harus tutup selama Ramadan hingga tiga hari setelah Lebaran. “Agar tidak mengganggu suasana ibadah bulan puasa,” terangnya.

Dia mengatakan, ada enam tempat hiburan kategori cukup besar yang didatangi, dan seluruhnya telah tutup. Sedangkan untuk kafe remang-remang yang ada di pinggiran jalan, Kusworo meminta Polsek, Koramil, dan Satpol PP Kecamatan untuk melakukan pemantauan.

Mereka (kafe remang-remang, Red) diimbau untuk melakukan penutupan sementara selama bulan Ramadan. Kalau tidak diindahkan, maka akan mendapat sanksi sesuai dengan Perda. “Forkopimda bersama tokoh agama sudah melakukan penertiban, tidak ada sweeping,” jelasnya.

Warga juga diminta untuk segera memberi informasi kepada petugas yang berwenang, apabila menemukan ada tempat hiburan yang dibuka. Namun, Kusworo menegaskan agar tak melakukan sweeping sendiri. “Sebab, akan berdampak pada hukum nantinya,” imbuhnya.

Selain itu, pihaknya juga menganjurkan agar restoran-restoran juga menghormati orang yang sedang menjalankan ibadah puasa. Yakni dengan tidak membuka restoran secara mencolok. “Restoran tak harus ditutup, tapi cukup pakai tirai,” jelasnya.

Menurut dia, setiap tahun pihaknya melakukan koordinasi untuk mempersiapkan Ramadan berjalan lancar. Namun, persiapan kali ini lebih spesial karena bertepatan dengan momentum demokrasi. Karena itulah, Kusworo juga menggandeng para tokoh masyarakat dan tokoh agama, agar menjaga masjid di bulan puasa.

Bentuknya adalah tidak menjadikan masjid sebagai tempat dakwah politisasi agama. “Menjaga tausiah Ramadan agar terhindar dari ujaran kebencian dan lainnya,” terangnya. Dia berharap agar ceramah yang disampaikan di masjid yang menyejukkan. Ceramah yang mengajak kepada kebaikan, bukan politik. “Ini untuk keamanan dan kondusifitas,” pungkasnya. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : bagus supriadi

Editor : Lintang Anis Bena Kinanti