Satu Hari Setor Sepuluh Halaman, Kurangi Interaksi dengan Lingkungan

Ruhul Muhammad dan Aisyah Aqidatul Muslimah, Pasutri yang Hafal Alquran

Ruhul Muhammad dan Aisyah Aqidatul Muslimah merupakan pasangan suami istri yang hafal Alquran. Keduanya baru diwisuda di IAIN Jember, 3 Mei 2019 lalu. Menghafal Alquran menjadi pilihannya untuk berhijrah.

PASANGAN HAFIZAH: Ruhul Muhammad dan Aisyah Aqidatul Muslimah, seusai wisuda di gedung GKT IAIN Jember.

RADAR JEMBER.ID – Ruhul Muhammad mulai menghafal Alquran ketika sedang nyantri di Malang, pada KH Ali Maksum. Dia datang untuk berubah menjadi lebih baik. Sebab, sebelumnya merasa menjadi anak yang jauh dari agama, tidak pernah melakukan salat lima waktu.

IKLAN

Pria kelahiran Blitar, 30 September 1990 itu ingin hijrah. Sebab, dirinya merasa ada sesuatu yang kurang. Apalagi meninggalkan ajaran agama yang telah diketahuinya. Perjalanan hidup membuatnya sempat goyah, sebelum akhirnya kembali melalui jalan Alquran.

“Dulu tidak pernah salat, salat hanya dari batin,” katanya. Seiring perjalanan, Ruhul seperti mendapat hidayah untuk memperbaiki diri. Akhirnya, dia tinggal di pesantren di Malang. Belajar secara khusus pada kiai.

“Sampai di Malang, saya diminta untuk membaca syahadat lagi,” akunya. Dia pun mengikutinya dan merasa kalau sudah keluar dari agamanya. Setelah itu, Ruhul mendapat bimbingan dan briefing untuk menghafal Alquran. Terutama cara untuk menghafal Alquran.

Semua pergaulan dengan lingkungan sekitar dia tinggalkan. Tidak pernah berinteraksi dengan siapa pun, tidak menggunakan gawai, hingga tak ada waktu untuk bermain-main. Dia hanya fokus menghafal Alquran. “Selama tiga bulan mampu menyelesaikan hafalan Alquran 30 juz,” ucapnya.

Awalnya, kata Ruhul, dia menghafal empat halaman. Kemudian lanjut hingga sepuluh halaman setiap hari. Bila satu hari mampu menghafal empat halaman Alquran, maka satu hari mampu menghafal sebanyak dua juz Alquran. “Rahasianya juga salat malam yang rutin,” terangnya.

Selain itu, doa dari kiai yang juga memiliki peran penting. Hal itu mempermudah dan memperlancar hafalan. Tak hanya itu, dalam sehari, Ruhul juga membaca Alquran minimal delapan jam selama sehari. “Itu juga memperlancar bacaan,” jelasnya.

Usai menghafal Alquran, Ruhul masih mengabdikan diri di pesantren. Setelah itu, dia mencari cara agar bisa kuliah. Awalnya hendak ke Kairo Mesir. Dia sudah diterima untuk kuliah. “Namun, karena tidak ada biaya untuk berangkat, akhirnya  gagal,” terangnya.

Tak menyerah di situ, dia mencoba mencari beasiswa kuliah di Malang. Sempat lolos, namun karena lupa membawa slip pembayaran, akhirnya tidak diterima. “Akhirnya kuliah di Jember, Jurusan  Ilmu Alquran dan Tafsir,” terangnya.

Di Jember, Ruhul memilih pondok pesantren Ibnu Katsir untuk belajar tahsin Alquran. Di sana, dia mulai mengikuti berbagai lomba Tahfizul Quran. Saat mengikuti lomba tahfiz 30 juz yang diselenggarakan Prosalina FM, Ruhul meraih juara satu tingkat eks Karesidenan Besuki.

Tak hanya itu, ketika mengikuti lomba tingkat kabupaten, juga meraih juara satu. Di tingkat Jawa Timur dia juga pernah meraih juara tiga. “Tingkat nasional juga pernah meraih juara satu, di pondok Ustad Yusuf Mansur,” akunya.

Berkat gelar juara yang diperolehnya, dia bisa berangkat umrah. Namun setelah itu, ketika mengikuti lomba lagi, dia jarang meraih juara.  “Mungkin Allah sudah menyarankan untuk berhenti ikut lomba,” jelasnya.

Di Ibnu Katsir, Ruhul tak hanya mendapatkan ilmu Alquran, namun juga memperoleh istri. Bahkan, istrinya juga seorang penghafal Alquran. Ponpes menikahkan santri dan santriwati yang sama-sama hafal Alquran.

“Saya bilang ke Ustad Abu, lalu dikhitbahkan,” akunya. Padahal, dirinya hanya pernah bertemu satu kali dengan istrinya. Bahkan, tidak pernah bicara dengannya. Namun, karena sudah istikharah, dia memberanikan diri.

Saat itulah dia mulai menikah dengan Aisyah walaupun kuliah masih belum selesai. Setelah menikah, mereka saling membantu untuk mengingatkan  hafalan masing-masing.  (*)

Reporter :

Fotografer :

Editor :