Waspada Bencana Akibat Cuaca Ekstrem

Sepanjang 2019 Ada 286 Peristiwa

ANTISIPASI BENCANA: Petugas PJU mulai menebang pohon di Jalan Kalimantan. Upaya ini untuk mencegah terjadinya pohon tumbang akibat hujan deras dan angin kencang.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Peringatan dini mengenai potensi cuaca ekstrem yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pekan ini di wilayah Jawa Timur (Jatim) perlu diwaspadai oleh masyarakat. Apalagi, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember telah mencatat ada 286 kejadian bencana selama 2019 kemarin.

IKLAN

Kasi Data dan Informasi BMKG Stasiun Juanda Teguh Tri Santoso mengatakan, potensi cuaca ekstrem di Jatim dalam sepekan ini karena adanya pola tekanan rendah di Samudera Hindia Selatan wilayah Nusa Tenggara. Sehingga menyebabkan terbentuknya pola pertemuan angin di sepanjang Jatim. Hal itu juga diperkuat dengan menguatnya indikasi pasokan uap air yang juga meningkat.

Teguh menjelaskan, diperkirakan dalam pekan ini ada potensi curah hujan dengan intensitas lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang. “Kondisi ini diperkirakan sejak tanggal 4 sampai 10 Januari,” paparnya.

Wilayah Jatim yang berpotensi dilanda cuaca ekstrem mulai ujung timur, yaitu Banyuwangi, Bondowoso, Jember. Selanjutnya, juga Bangkalan, Blitar, Kediri, Malang, Mojokerto, Pasuruan, Batu, Probolinggo, Blitar, Lamongan, Magetan, dan Lumajang.

Dia juga meminta masyarakat waspada dan tetap berhati-hati. Apalagi, adanya hujan lebat tidak hanya berdampak pada banjir, tapi juga bencana lain. Seperti tanah longsor, pohon tumbang, dan lainnya.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jember Heru Widagdo mengatakan, sebelum BMKG memprediksi bakal terjadi cuaca ekstrem pekan ini, BPBD Jember sudah melakukan antisipasi jauh-jauh hari dengan siaga darurat bencana hidrometeorologi. “Kami sudah siaga darurat bencana pada November kemarin. Itu kaitannya juga dengan surat rekomendasi dari Mendagri dan BMKG juga,” jelasnya.

Kondisi siaga darurat bencana akan berakhir sampai Maret mendatang. “Berakhirnya siaga darurat bencana hidrometeorologi ini karena musim hujan diprediksi bakal berakhir pada Maret,” imbuh Heru. Data-data sebelumnya juga menyebutkan, bencana terjadi karena peningkatan hidrometeorologi pada rentang waktu yang sama, November dan mulai penurunan setelah Maret.

Selama 2019 ini, Heru menuturkan, bencana di Kabupaten Jember tercatat 286 kali. Dari ratusan peristiwa tersebut, terdata ada 30 orang yang menjadi korban. Sebanyak 27 orang di antaranya mengalami luka-luka dan tiga orang lainnya meninggal dunia.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih