LSM Edelweiss: Jauh dari Kabupaten Layak Anak

Sholikhul Huda/Radar Ijen PERTANYAKAN: Murti Jasmani, Ketua LSM Edelweis Bondowoso, ikut serta mendampingi korban yang selama ini mendapat perlakuan kekerasan seksual.

RADARJEMBER.ID – Laporan kasus kekerasan seksual kepada anak di Bondowoso membuat LSM Edellweis tercengang. Kasus ini membuktikan Bondowoso masih sangat jauh dari layak anak. Apalagi, sampai ada kekerasan seksual yang berrkali-kali. Karenanya pemerintah harus ambil tindakan.

IKLAN

Ketua LSM Edellweis Murti Jasmani mengatakan, dikala seluruh daerah termasuk Bondowoso ingin menjadikan daerahnya sebagai daerah layak anak, ternyata muncul pengakuan kekerasan kepada anak. Memang pengakuan itu, diutarakan oleh perempuan berusia remaja. Namun kejadian kekerasan seksual, dialaminya sejak masih anak-anak. “Sejak kelas 4 SD, bayangkan,” tegasnya.

Dijelaskan, pihaknya sempat menemui korban seusai laporan dari Polres. Data-data cerita kasus anak itu, digalinya. Sejak bertemu itu, pihaknya mengapresiasi keberanian remaja tersebut. Pihaknya berjanji akan turut mendampingi.

Murti menyampaikan, ada hal yang harus menjadi garis bawah dalam kasus tersebut. Selama bertahun-tahun kasus kekerasan itu terjadi, pihak keluarga justru tidak merespon untuk laporan. Bahkan sempat melarang. “Artinya mengapa tidak mengadu pada keluarga, itu yang karena keluarga saja, dan harus mengadu kepada orang lain? Ini menjadi penekanan penting bagi daerah layak anak,” ujarnya.

Bahkan berdasarkan diskusi, ternyata pihak kepala desa sempat condong kepada keluarga yang tidak mau menempuh jalur hukum. Padahal, cerita kekerasan yang dialami SM, warga Curahdami itu, sangat menyesakkan hati. Pertanyaan Edellweis kenapa harus ditutup-tutupi? Sementara korban sendiri mau melaporkan.

Analisanya, selama ini tidak ada ruang curhat bagi SM selaku korban. Sehingga baru terungkap saat dia duduk di bangku kuliah. Kasus ini menunjukkan bahwa lingkungannya tidak mendukung dia mengungkapkan kekerasan seksual yang dialami.

Perlu diketahui, SM, mahasiswi perguruan tinggi Malang asal Curahdami, membuat laporan ke kepolisian. Surat Tanda Penerimaan Laporan itu, diterima dengan nomor: STPL/165/VIII/2018/JATIM/RES BONDOWOSO. Pelapornya adalah SM sendiri. Dalam surat laporan, dia melaporkan kasus persetubuhan anak dibawah umur, yang menyangkut Pasal 285 KUHP atau Pasal 81,82 UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak sebagaimana diubah dengan UU NO 35 tahun 2014.

Dia mengungkapkan jika sejak kelas 4 SD, mengalami kekerasan seksual. Pelakunya masih memiliki hubungan kerabat. Dia membuat laporan ke Polres Bondowoso dengan didampingi Sido Gatot, pengacara asal Bondowoso.

Sido Gatot mengungkapkan, pelaporan kasus ini, bermula ketika libur lebaran Idul Fitri 2018. Saat SM pulang, bertemu dengan pelaku. Saat itu, pelaku sempat memaksanya lagi untuk melayani nafsu seksualnya. Sontak, karena sudah dewasa, SM menendang pelaku. Akhirnya pemaksaan itu tidak sampai terjadi. “Namun sejak kelas 4 SD sampai SMA, SM mengaku mengalami kasus kekerasan seksual. Terhitung lebih dari 20 kali,” tegasnya.

Setelah diedukasi, akhirnya SM menguatkan diri mengusut tuntas kasus yang dialaminya. Tujuannya agar kasus yang sama tidak dialami perempuan lainnya. Apalagi SM masih memiliki adik perempuan juga.

Reporter : Sholikhul Huda
Editor : Narto

Reporter :

Fotografer :

Editor :