Premium Tak Lagi Disubsidi Pemerintah

RADAR JEMBER.ID – Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis premium masih diminati oleh masyarakat luas, mulai dari pemakai hingga pedagang eceran. Di sejumlah SPBU, banyak yang rela antre untuk mendapatkannya. Padahal, jenis BBM ini sudah tidak lagi disubsidi oleh pemerintah.

IKLAN

Kendati demikian, harganya yang relatif lebih murah dibanding Pertalite dan Pertamax membuat warga tetap setia memakainya. Bahkan, ada yang curang dengan menimbun BBM tersebut. Misal mengisi tangki motor sampai penuh, kemudian dipindahkan ke jeriken lalu tangki diisi lagi.

Ketua Cabang Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas) se-eks Karesidenan Besuki Supratigto menegaskan bahwa BBM jenis premium sudah tidak lagi disubsidi pemerintah. “Jadi ya sama dengan Pertalite dan Pertamax, sama-sama tidak ada subsidi,” katanya.

Meski begitu, tak semua orang bisa membeli premium sebanyak-banyaknya. Sebab, ada ketentuan yang harus dipenuhi. Yaitu, tetap tidak boleh membeli dengan menggunakan jeriken. Selain itu, satu SPBU juga hanya ada satu tutuk pengisian. “Tak semua SPBU menjual premium,” ujarnya.

Supratigto menambahkan, fenomena mobil dan motor kecil yang menguras bensin untuk diperjualbelikan di luar tanggung jawab SPBU. Fenomena ini kerap disebut dengan istilah ‘motor kencing’. “Bukan kewenangan SPBU menindak atau melarang menguras tangki kendaraan untuk dimasukkan ke jeriken,” tegasnya.

Terpenting, kata dia, perbuatan itu tidak dilakukan di SPBU. Aturannya, beli bensin juga tidak boleh pakai jeriken.

Jika premium tidak boleh beli pakai jeriken, berbeda dengan pembelian pertalite dan pertamax. Masyarakat boleh membeli dua BBM yang oktannya lebih tinggi daripada premium tersebut menggunakan jeriken.

Meskipun boleh beli pakai jeriken, tapi tidak boleh menggunakan wadah berbahan plastik, harus dari logam seperti tong. “Jeriken plastik tidak boleh lagi, harus terbuat dari logam,” imbuhnya.

Jika SPBU tetap melakukan pengisian pada jeriken plastil, maka akan ada peringatan dari Pertamina. Hal itu untuk keamanan agar terhindar dari kebakaran.

Surya, penanggung jawab sementara (Pjs) Pertamina Manager Fuel Retail Marketing (FRM)  Jember mengakui fenomena ‘motor kencing’ setelah membeli premium akan dipelajari lagi. “Terus terang saja belum lihat,” katanya.

Pria yang baru saja menjabat di Jember tersebut menambahkan, terkait pembelian pakai jeriken adalah pihak penegak hukum yang bisa menindak.  (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih