Tekuni Seni Ukir sejak SD, Kesulitan Mencari Pasar

Agus Supriyadi, Sulap Akar Kayu Jadi Barang Antik

MENAKJUBKAN: Agus Supriyadi, perajin akar kayu dari Sidomulyo, Silo, menunjukkan kursi antik buatannya. Melalui tangan magisnya, dia menjadikan barang bekas menjadi bernilai.

RADAR JEMBER.ID – Ketika ditemui Radarjember.id, Agus Supriyadi tampak sibuk dengan beberapa peralatan pertukangannya. Pria asal Sidomulyo ini tengah asyik membuat kursi antik yang terbuat dari akar kayu. Halaman rumahnya menjadi tempat dirinya untuk berkreasi. Beragam kreasi telah dia rancang, mulai dari mebel hingga hiasan unik.

IKLAN

Nama Agus sudah tak asing bagi warga sekitar. Bila bertanya tentang Agus perajin akar kayu, semua orang akan mengerti. Perawakan tubuhnya kecil, namun ulet dan telaten. Bila dirinya tinggal atau berkarya di pinggir jalan, sepertinya dagangan Agus ini akan lebih laris.

Sayangnya, untuk menuju ke rumahnya di Dusun Curahmanis tidak mudah. Harus menempuh jarak sekitar empat kilometer dari Jalan Raya Jember-Banyuwangi. Bahkan, harus melalui jalan makadam karena aspal sudah rusak. Bila tak paham rute, tentu akan sedikit membingungkan karena banyak persimpangan jalan kecil.

Sebelum memasuki halaman rumah, sudah tampak berbagai tumpukan akar kayu di samping kiri lahan rumahnya. Akar kayu itu dari berbagai jenis pohon. Di depan rumahnya pun tampak pula akar kayu berwarna hitam juga menumpuk. “Ini beratnya bisa mencapai satu ton lebih,” kata Agus mengawali pembicaraan. Untuk memindahkan akar yang begitu berat, membutuhkan puluhan tenaga.

Agus menempatkan kursi-kursi antik tersebut di samping kanan rumahnya. Tempatnya seperti galeri yang tampak unik dan menarik. Bahkan, di dalam ruang tamunya yang berukuran 15 meter, ada satu set kursi dari akar kayu jati yang ukurannya cukup besar. Satu set kursi tersebut akan dijual dengan harga Rp 10 juta.

Beberapa hiasan kayu juga dipajang di sana. Hampir semua hiasan yang ada di rumah tersebut bukan ukiran, namun corak akar kayu yang memang antik dan unik. Keunikan itulah yang memiliki daya tawar yang cukup mahal.

Keterampilan Agus dalam membuat ukiran kayu dari akar bekas sudah dimulai sejak masih duduk di bangku SD. Saat itu dia senang merangkai bunga tebu. Ketika pulang sekolah, Agus kecil selalu mengambil bunga tebu dan dirangkai mirip kursi dan mainan lainnya. Dari sanalah alumnus SDN Sidomulyo 4 ini mulai tertarik dengan kerajinan akar kayu.

Pertama kali, dia membeli pohon kopi dari warga. Apalagi, di tanah kelahirannya banyak kebun kopi dan warga bekerja sebagai petani kopi.

Agus hanya mengubah bentuk akar kayu jati, kayu gelintongan, dan kayu jenis suren. Akar itu dibentuk menjadi kursi menggunakan pahat, pisau kecil, dan gerinda atau alat ukir yang menggunakan listrik. Lalu kayu itu dibiarkan di depan rumahnya hingga kulitnya mengelupas. “Ini bukan diukir, tetapi semakin lama kayu terkena hujan akan semakin muncul nilai seninya” terangnya.

Selama, ini, Agus merasa kesulitan untuk mencari pasar guna menjual karya-karyanya. “Hanya ada beberapa orang Bali atau hotel di Bali yang membeli. Itu pun harus datang sendiri ke rumah,” jelasnya.

Selain itu, untuk mengirim barang tersebut ke pembeli, dia juga merasa kesulitan. Sebab, terbentur dengan dana pengiriman. “Ada juga pembeli dari Jember tapi tidak terlalu banyak,” tuturnya. Mereka merupakan para penghobi dan kolektor benda ukiran kayu.

Agus sudah menggeluti usahanya itu selama sembilan tahun. Namun, sampai sekarang masih kesulitan modal dan pemasaran. Dia berharap ada yang peduli dengan kerajinannya, sehingga bisa dipasarkan dengan maksimal.

Harga kursi yang dijual Agus beragam, mulai dari Rp 1,5 juta hingga Rp 4,5 juta. Dia mencontohkan kursi goyang yang sudah selesai dibuat, harganya hanya Rp 1,5 juta. Sedangkan satu set kursi kecil kayu salasehan harganya Rp. 4,5 juta. (*)

Reporter : Jumai

Fotografer : Jumai

Editor : Bagus Supriadi