Panen Bagus, Harga Anjlok

Komoditas Hortikultura Terdampak Korona

MERUGI: Petani memanen cabai merah besar sebelum pandemi korona. Kini harga komoditas tersebut turun drastis dan menyumbang deflasi Jember pada April kemarin.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) rupanya juga berdampak terhadap petani. Harga jual komoditas hortikultura, terutama cabai merah, anjlok. Padahal kualitas panen pada tahun ini sangat bagus. Kondisi ini menjadi anomali. Sebab, biasanya harga cabai mengalami trend positif saat puasa dan menjelang Lebaran. Tapi kini, turun drastis terimbas pandemi.

IKLAN

Ketua Himpunan Kelompok Tani Indonesia (HKTI) Jember Jumantoro mengatakan, pada kondisi saat ini di mana Covid-19 mengubah gaya hidup, hingga mengubah sendi-sendi perekonomian. Tentu saja yang harus diamankan adalah persoalan kebutuhan pokok, yaitu pangan.

Sayangnya, hasil pertanian dengan panen yang bagus, tidak didampingi dengan kondisi pasar sesuai yang diharapkan. Artinya, kata dia, harga di pasaran komoditas pertanian anjlok. “Sebelumnya harga gabah, tapi sekarang mulai naik. Tapi yang paling buntung adalah petani hortikultura,” jelasnya.

Menurut dia, harga tanaman hortikultura kondisinya menyakitkan. Produksi melimpah tapi tidak bisa terserap oleh pasar, sehingga banting harga. Kata dia, harga cabai rawit di tingkat petani per kilogram Rp 6.000, sementara cabai merah besar di tingkatan petani Rp 10 ribu per kilogram. “Kalau dari petani dihargai segitu, ya dapat apa mereka,” jelasnya.

Jumantoro mengungkapkan, salah satu penyumbang derita petani hortikultura adalah lantaran tersendatnya distribusi ke sejumlah daerah. Sebab, setiap daerah terdapat pos-pos pemeriksaan. Padahal, tanaman lombok dipacu dengan waktu. Jika semakin banyak hambatan, maka cabai itu bisa membusuk di kendaraan. Belum lagi, diberlakukannya kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di wilayah yang menjadi jalur transportasi utama, seperti Surabaya dan sekitarnya. Tak pelak, kondisi itu kian menambah hambatan distribusi cabai ke beberapa daerah.

Dari pemantauan Jumantoro, kondisi demikian tidak hanya pada komoditas cabai saja. Tapi tanaman hortikultura lainnya, seperti terong. Bahkan, ada juga petani besar hortikultura yang biasa mengirim ke Papua, juga tidak bisa mengirim. Lantaran negeri di ujung timur Indonesia tersebut menyetop barang yang masuk. “Jika hal ini terus terjadi bukan ketahanan pangan yang didapat, tapi kehancuran pangan,” tegasnya.

Derita petani hortikultura juga diperparah dengan pupuk urea bersubsidi di setiap kecamatan yang hampir habis. “Petani tidak berharap bantuan dari pemerintah. Tapi bagaimana pupuk subsidi dan distribusi pangan itu lancar,” ujarnya.

Harga komoditas cabai merah besar di sejumlah daerah di Jatim juga terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan. Di tiap pasar induk masing-masing daerah harganya tidak sama. Jember Rp 14 ribu per kilogram, Lumajang Rp 27 ribu per kilogram, Surabaya Rp 19 rib per kilogram, Banyuwangi Rp 12.500 per kilogram, dan Kota Probolinggo Rp 15 ribu per kilogram.

Sementara itu, berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Jember, pada April kemarin Jember justru mengalami deflasi 0,13 persen. Urutan ketiga penyumbang deflasi pada April adalah tanaman hortikultura yaitu cabai merah besar dengan andil sebesar -0,05 persen.

Editor: Mahrus Sholih
Reporter: Dwi Siswanto
Fotografer: Dwi Siswanto