Teror Pelecehan Seksual di Kampus Unej

Dugaan pelecehan seksual yang terjadi di kampus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember mengagetkan banyak pihak. Tentu hal ini menjadi keprihatinan banyak pihak. Seharusnya kampus menjadi tempat orang-orang berpendidikan mengaktualisasikan diri. Seperti apa kejadian serta modus sampai kasus ini meledak?

RADAR JEMBER.ID – Tak terlihat namun terasa, tidak terucap namun terdengar. Mungkin itulah gambaran dugaan kasus pelecehan seksual yang sempat sepekan terakhir menjadi perbincangan hangat di seluruh kalangan di sekitar kampus. Kasus ini terangkat ke permukaan dari laporan investigasi pers kampus setempat.

IKLAN

Saat Radarjember.id mencoba untuk menelusuri jejaknya di kampus yang dulu bernama Fakultas Sastra ini, hampir semua pihak membicarakannya. Namun, tidak ada yang bisa menceritakan detail kronologinya. Setelah ditelusuri lebih jauh, kasus ini berawal saat seorang mahasiswi yang berinisial PN, mulai merasa tidak nyaman dengan seorang oknum dosen yang berinisial HSN pada 2018 silam.

Saat itu, korban adalah mahasiswi bimbingan skripsi oknum dosen tersebut. Korban yang tertekan sudah tidak sanggup dengan ulah dosen yang berbuat tidak wajar terhadap dirinya. Korban akhirnya mengadu ke sejumlah dosen. Kepala Jurusan (Kajur) Sastra Inggris FIB Unej Dra Supiastutik Mpd saat dikonfirmasi mengakui adanya laporan itu. Saat itu ada sejumlah dosen yang dicurhati mahasiswi ini, yakni Dr Ikhwan Setiawan MA, Hat Pujiati SS MA, dan Sabta Diana SS MA.

Mereka pun dijadikan tim pendampingan dan investigasi guna mengurai cerita korban lebih lanjut. Pihak kampus memang langsung mencari bukti tindakan apa saja yang dilakukan oknum dosen ini terhadap korban. “Kami bentuk tim tidak hanya untuk mengurai, tapi juga penguatan mental korban,” tutur Tutik, panggilan akrabnya. Korban awalnya sempat tidak mau mengaku secara detail. Namun dengan berbagai pendekatan, akhirnya korban mengaku dan memberikan analogi yang mengagetkan.

“Dia memberikan jawaban layaknya orang yang sedang berpacaran,” ujarnya. Saat dikonfirmasi seperti apa, pihak kampus tidak berani membuka secara pasti. Namun, tim berhasil mendapatkan pesan pribadi via aplikasi Whatsapps antara korban dengan pelaku.

“Kami lihat semua pesan itu. Hanya saja untuk konten foto sudah banyak yang dihapus. Jadi, kami tidak mengetahui itu apa,” katanya. Proses investigasi ini, kata Tutik, membutuhkan waktu kurang lebih sekitar tiga bulan lamanya. Setelah melalui proses yang cukup panjang tersebut, 18 Agustus 2018 silam pihaknya mengeluarkan surat keterangan (SK) penonaktifan pelaku sebagai dosen Sastra Inggris.

“(Waktu lama pemeriksaan) karena kami ingin mengetahuinya lebih detail. Ini menyangkut masa depan orang,” jelasnya. Terkait dengan masa berlaku sanksi, pihaknya menunggu sampai ada keputusan dari pihak Kementerian Ristek Dikti sehingga hingga kemarin masih nonaktif.

Sementara itu, terkait detail hasil investigasi termasuk berita acara pemeriksaan (BAP), pihaknya mengaku lupa tanggal dan bulannya. “Saya agak lupa ya. Pokoknya berkas itu saya kirim setelah selesai pembuatan SK nonaktif kok,” tandasnya. Namun, dari bocoran hasil investigasi, diketahui pelaku HSN ini sudah melakukan aksinya berulang kali.

Bahkan, hampir setiap angkatan, ada mahasiswi bimbingan skripsinya yang menjadi korbannya. Namun, sebelumnya tidak ada yang berani melaporkan. “Baru kali ini ada yang melapor. Kami langsung menyikapinya,” ujarnya. Namun, pihak pelaku saat dikonfirmasi memberikan jawaban yang sangat mengejutkan.

“Pelaku menjawab seperti orang pacaran, yang sama-sama memiliki kenyamanan. Kalau sudah lulus, ya sudah selesai,” katanya. Sementara itu, terkait perilaku sehari-hari HSN, pihaknya mengaku cukup kaget. Saat masih aktif mengajar, pelaku dikenal sebagai orang yang cukup baik, bahkan sangat ramah dengan para mahasiswa.

“Kaget saja. Kok bisa sampai sejauh itu,” tandasnya. Namun, apa yang dilakukan HSN tersebut dinilai sudah melewati batas sebagai seorang pendidik. Pihaknya pun berharap sang dosen tidak kembali mengajar di kampus tersebut. Saat ini pihaknya sedang menunggu hasil keputusan dari menteri, terkait dengan kasus yang sedang melanda jurusannya tersebut. “Kalau keputusannya, apa saja kami terima. Asal tidak kembali mengajar di sini lagi,” pungkasnya. (*)

Reporter :

Fotografer : rifai

Editor : Rangga Mahardika