Lorena vs Grand Max, Sopir Tewas Tergencet

HANCUR: Mobil pikap Grand Max yang dikemudikan Wawan, 45, warga Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Kecamatan Silo, ringsek hingga tak berbentuk dan menjadi tontonan warga

RADAR JEMBER.ID – Ini akibatnya mendahului kendaraan tidak memperhatikan kendaraan dari arah depan. Seperti kecelakaan yang terjadi di Jalan Raya Tanggul-Jember, tepatnya di sebelah barat SPBU Klatakan, Desa Klatakan, Tanggul, Sabtu malam (4/5) pukul 23.45. Akibat kecelakaan tersebut, Wawan, 45, sopir Grand Max, mengalami luka cukup parah dan meninggal dalam perjalanan ke Puskesmas Desa Klatakan.

IKLAN

Kecelakaan ini terjadi saat sebuah mobil pikap jenis Daihatsu Grand Max P 8025 QX yang disopiri Wawan, menabrak bus Lorena B 7766 RU yang dikemudikan Supriatna, 48, warga Dusun Sambirejo, Desa Duyungan, Kecamatan Sidoarjo, Sragen, Jawa Tengah.

Sumber Radarjember.id mengatakan, sebelum terjadi kecelakaan, mobil pikap yang dikemudikan wawan, 45, dari arah timur berusaha mendahului truk di depannya. Karena jalan menurun, mobil yang dikemudikan korban tidak berhasil mendahului. Saat posisi mobil ke luar marka ke kanan, bersamaan muncul bus Lorena dari arah depan.

Karena jarak yang sudah dekat, tabrakan tidak bisa dihindari dan Grand Max langsung menghantam bagian depan samping kanan. Kerasnya benturan membuat pikap hingga berputar dan kembali ke arah timur. Sedangkan muatan potongan kayu untuk bahan kotak jeruk semburat terlempar ke jalan dan tumpah di depan bus.

Warga yang mendengar kecelakaan langsung keluar rumah dan menolong sopir yang tergencet. “Sopir dan penumpang pikap sama-sama tergencet bodi kabin, akibat kerasnya benturan,” ujar Heri Muryono, 48, warga sekitar. Untuk mengeluarkan sopir dan temannya, kendaraan harus dicongkel karena posisi korban terjepit. Setelah berhasil dikeluarkan dari kabin pikap, sopir yang sudah meninggal langsung dilarikan ke kamar mayat Puskesmas Tanggul.

Sementara itu, Samsul Hadi, sang kernet yang juga warga Dusun Pasar Alas, Desa Garahan, Silo, mengalami patah tulang di kaki kirinya. Dia dilarikan ke IGD Puskesmas Klatakan, Tanggul, yang hanya berjarak sekitar 400 meter dari TKP. Sementara itu, semua penumpang bus Lorena sekitar 12 orang.

Supriatna, sopir Bus mengaku, sebelum pikap menabrak, dia sudah memberi isyarat dengan lampu berkal-kali. Tetapi sopir masih terus berusaha mendahului truk yang akan disalip. “Di-dim dengan lampu besar, sopir tidak mengurangi kecelapatannya, namun malah tancap gas. Beruntung lagi, bus yang saya sopiri tidak sampai masuk selokan,” ujar sopir Lorena jurusan Lampung – Jember tersebut.

Untuk mengurangi kemacetan panjang, akhirnya petugas Pos Lantas Tanggul dibantu warga untuk memindah pikap yang sudah hancur di sekitar jembatan. Bus yang rusak parah di bagian depan dipotong bagian bodinya. Ini akibat kerasnya benturan, sehingga bodi masuk ke dalam dan ban tidak bisa difungsikan. Beberapa jam setelah terjadi kecelakaan, bus langsung digeser ke tempat yang lebih luas.

Kasatlantas Polres Jember AKP Edwin Nathanael menceritakan, kecelakaan itu karena kurang hati-hatinya sopir pikap tanpa memperhatikan saat akan mendahului kendaraan di depannya. Padahal, saat mendahului, kondisi jalan menurun agak panjang sehingga saat belum berhasil mendahului, malah muncul bus Lorena dari arah depan.

“Beruntung, sopir bus berusaha banting setir ke kiri, sehingga tidak membawa korban yang lebih banyak,” pungkas Edwin. (*).

Reporter : Jumai

Fotografer : jumai

Editor : Rangga Mahardika