Kemungkinan Banyak Korban Lainnya

RADAR JEMBER.ID – Kasus pelecehan seksual di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember (Unej) sudah setahun lamanya. Walau begitu, rasa waswas masih saja melekat bagi mahasiswi. Mereka pun enggan untuk dekat-dekat dengan dosen, bahkan berpikiran negatif jika ada dosen lawan jenis chat (mengirim pesan) melalui jaringan pribadi.

IKLAN

Itulah yang banyak dirasakan mahasiswi FIB Unej. Roina, bukan nama sebenarnya, mengaku kasus seperti itu sudah lama diketahui sebelum muncul pemberitaan pers kampus Ideas. Munculnya inisial pelaku HS juga jadi perbincangan menarik kalangan mahasiswa. “Inisialnya kan HS, jadi di sini ada empat dosen jika disingkat menjadi HS,” tuturnya.

Setiap ada perkuliahan dosen yang namanya disingkat jadi HS, Roina dan teman-temannya selalu berbisik-bisik. Gerak-gerik dosen berinisial HS pun selalu diperhatikan mahasiswa. Termasuk cara berbicara dengan mahasiswi. Rasa kurang nyaman itu dirasakan olehnya. Hingga saat ini, Roina lebih menjaga jarak dengan dosen lawan jenis. “Kalau takut kuliah karena ada kasus seperti itu sih tidak. Tapi saya harus lebih waspada,” imbuhnya.

Mahasiswa semester 6 yang akan menempuh skripsi pun berharap dosen pembimbingnya adalah dosen perempuan saja. “Ya lebih waspada saja, karena korban itu kan digituin dosen saat bimbingan skripsi,” tambahnya. Beruntung, munculnya kasus tersebut tidak diketahui oleh orang tuanya. Seandainya orang tua itu tahu, mungkin akan lebih protektif lagi.

Dia juga sering ditanya oleh teman-temannya dari luar kampus Unej dan luar kota tentang kejadian kasus pelecehan terhadap mahasiswi tersebut. Hingga kini, Roina mengaku takut mengatakan banyak hal tentang kasus tersebut. “Mohon ya nama saya disamarkan, takut jika terjadi apa-apa dengan akademik saya,” terangnya.

Sementara itu, kasus kekerasan seksual di kampus menjadikan orang tua khawatir. Sebab, kampus tak lagi menjadi tempat aman, namun justru membahayakan karena adanya pelaku kekerasan seksual.

Sri Sulistyani, Tim Advokasi LBH Jentera Perempuan Indonesia mengatakan, fenomena yang terjadi di Universitas Jember merupakan penyalahgunaan kekuasaan. Yakni seorang dosen yang menggunakan kekuasaannya untuk memengaruhi mahasiswi. “Ini penyalahgunaan fungsional pendidik,” kata Sulis. Banyak modus yang dilakukan, seperti melalui bimbingan skripsi hingga memberikan tugas tertentu. Misal, diminta untuk mengumpulkan tugas di tempat tertentu.

Hal itu menjadi cara untuk melakukan aksi tak senonoh pada korban. Untuk itu, perempuan yang akrab disapa Sulis itu mendorong agar pencegahan terhadap kekerasan seksual segera dilakukan. Sebab, Unej merupakan kampus kebanggaan masyarakat Jember. Di dalamnya terdapat berbagai pakar, mulai dari pakar hukum dan HAM, pakar pendidikan, budayawan, dan lainnya. “Orang-orang top kumpul di situ,” jelasnya.

Menurut dia, semua pejabat kampus harus duduk bersama untuk membahas langkah pencegahan. Misal, tidak lagi memberlakukan jam kuliah malam. Melarang dosen menyelesaikan urusan kampus di tempat yang sunyi. Fenomena itu, kata dia, bisa saja fenomena gunung es. Hanya tampak di permukaan saja. Namun, bisa saja ada banyak korban lain yang takut untuk mengungkapkan kasus pelecehan.

Makanya, pihaknya mendorong kampus menyelesaikan kasus ini agar tidak terulang lagi. “Jadikan kampus sebagai kampus yang aman bagi perempuan,” harapnya. Mahasiswi yang mendapat perlakukan pelecehan seksual diminta untuk melaporkan. Apalagi, di Unej ada berbagai macam organisasi, seperti pusat studi gender dan anak.

“Pihak dekanat dan rektorat harus mewujudkan kampus yang aman,” tambahnya. Untuk itu, pelakunya harus diproses secara kedinasan. Bahkan, juga perlu dipersiapkan proses secara hukum. Sebab, dosen yang sudah berbuat begitu sudah tidak layak disebut sebagai pendidik. Sebab, pendidik harus memberikan teladan yang baik. Sanksinya harus tegas, bukan hanya skors.

Pasalnya, jika dibiarkan, bisa memunculkan pelaku lain yang melakukan perbuatan yang sama. “Kasihan orang tua yang ingin anaknya kuliah di Unej. Jadi waswas, karena kampus membahayakan,” terangnya. Kasus kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan tak hanya di Unej. Namun, di tingkat SMA juga pernah terjadi pelecehan yang dilakukan oleh pendidik. Hal ini sangat ironis. Untuk itu, perlu tindakan yang tegas. (*)

Reporter :

Fotografer :

Editor :