Cegah Penyebaran Covid-19 dari Luar Daerah

Lebih Baik Jangan Mudik

Tradisi yang rutin dilakukan jelang Lebaran adalah mulih disik atau mudik. Hanya saja, tahun ini pemerintah mengimbau agar para perantau tak pulang dulu ke kampung halaman. Lantas, seberapa efektifkah upaya menghalau pemudik? Apalagi, banyak warga Jember yang bekerja di luar kota.

OBATI KANGEN: Salah seorang petugas kepolisian tengah berbincang dengan anaknya melalui telepon video. Seperti inilah saran pemerintah bagi para perantau asal Jember yang berada di luar daerah. Mereka diimbau tidak mudik demi keamanan bersama.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Kata-katanya kerap terputus, meski tanda sinyal telepon seluler terlihat cukup bagus. Ia juga kerap merespons agak lama ketika Jawa Pos Radar Jember menanyakan apakah tahun ini dirinya bakal mudik atau tidak. Bahkan tak jarang, dalam percakapan telepon itu, terdengar suara menghela napas yang cukup panjang dari perempuan yang ada di kota seberang tersebut.

IKLAN

“Kalau saya mudik, saya takut keluarga dan masyarakat menjauhi saya,” ucap Faizatul Isma. Dia mengaku dilema, galau, dan serba salah. Sebab, perempuan asal Kecamatan Jombang ini tengah merantau di Jakarta, kota zona merah yang angka penderita coronavirus disease 2019 (Covid-19) tertinggi di republik ini. Terlebih, tahun ini adalah agenda mudik pertama bagi Faiz sejak dia bekerja di ibu kota.

Kondisi Jakarta dengan kasus korona tertinggi di Indonesia tentu saja membuat dia waswas ketika memutuskan untuk mudik. Bayangannya, keluarga dan masyarakat bakal menjauhi dia. “Kalau saya pulang ke Jember, jadi orang dalam pemantauan (ODP) dong? Kan tidak enak jadi ODP. Nanti orang-orang lihat saya jadi parno (paranoid, Red),” ucapnya.

Rasa yakin untuk tidak mudik pun semakin mantap kala orang tua Faiz mengizinkan dirinya untuk tidak mudik akibat wabah korona. Bahkan, kata dia, orang tuanya menyuruh untuk tidak pulang ke kampung halaman sampai ada imbauan lebih lanjut dari pemerintah.

Menurutnya, ada tiga dampak negatif jika mudik, dan cuma ada satu dampak negatif jika tetap di Jakarta. Jika mudik, selain dia menjadi ODP, keluarga dan masyarakat bakal menjauhi. Selain itu, saat balik ke Jakarta lagi, teman-teman di kantornya juga bakal menjaga jarak. “Kalau tetap di Jakarta, hanya bosan saja. Tapi banyak teman-teman dari Jatim yang juga tidak mudik,” paparnya.

Dia mencontohkan, teman satu kantornya dari Ponorogo tidak mudik lantaran daerah menutup akses orang luar kota, terutama dari zona merah termasuk Jakarta. Faiz mengaku, banyak perantau di Jakarta yang memilih tidak pulang. Mereka yang mudik, kata Faiz, rata-rata pekerjaan informal seperti penjual bubur dan lainnya. “Anak-anak muda perantauan di sini (Jakarta, Red) mematuhi imbauan tidak mudik,” ungkapnya.

Rupanya, pilihan Faiz berbeda dengan Andik Wicaksono. Pemuda asal Puger yang merantau di Makassar, Sulawesi Selatan, ini bukan sebagai pekerja tapi mahasiswa. Dia mengaku tetap ingin pulang ke kampung halamannya. “Alasan mudik? Kangen sama keluarga. Siapa yang tidak rindu dengan keluarga saat momen Lebaran nanti,” katanya.

Tapi dalam hati kecilnya, tetap ada rasa takut. Andik juga takut terinfeksi korona di Makassar. Dia tidak ingin sakit hingga meninggal sendirian tanpa keluarga di sampingnya. Namun, sebelum berangkat, pihak kampus terlebih dahulu mengecek kesehatan dan memberikan pengarahan agar selalu memakai masker. “Sebenarnya saat masuk ke Jember, harus cek kesehatan dulu ke RSD dr Soebandi,” ujarnya.

Namun, Andik tidak cek kesehatan dan memilih langsung pulang ke Puger. Walau tidak cek kesehatan, tapi dia tetap melaporkan ke bidan desa. Dia diminta tidak keluar rumah selama dua pekan. Hampir semua teman-temannya yang memilih pulang kampung juga mengalami hal yang sama. Melakukan isolasi mandiri.

Andik mengungkapkan, dirinya mematuhi imbauan isolasi mandiri itu bukan hanya ingin menjalankan protokol keamanan, tapi juga adanya stigma negatif dari warga yang lain terhadap orang perantauan. Kata dia, ada teman-temannya yang mengalami hal tak mengenakkan kala keluar rumah. Mereka merasa terpantau, digunjingkan, hingga dijauhi oleh warga sekitar. Inilah yang diterima oleh mereka yang memilih mudik di tengah pandemi korona. “Karena saya di rumah saja, jadi tidak merasakan seperti itu,” ujarnya.

Bagi warga yang tetap nekat pulang ke kampung halaman, Pemkab Jember telah mengambil langkah. Bupati Jember Faida mengatakan, sebagai upaya agar menghentikan penyebarluasan dan menghentikan peningkatan jumlah korona, Pemkab Jember melakukan terobosan dengan melakukan screening di lima pintu gerbang masuk ke Jember yang berada di Kecamatan Silo, Sukowono, Jelbuk, Sumberbaru, dan Jombang. “Bukan ditutup, tapi dilakukan screening,” ucap Faida.

Setiap orang yang masuk ke Jember akan diberhentikan dan dicek kesehatannya. Dia mencontohkan, jika suhunya normal tapi dari zona merah, maka dicatat dan diberi formulir, serta akan dipasang gelang khusus berwarna kuning. Gelang itu pun tidak bisa disobek, dan memakai barcode untuk monitoring lebih mudah. “Bukan orang sakit, tapi orang dalam evaluasi pada dua pekan ke depan,” tuturnya.

Dia pun meminta dalam dua minggu, warga tersebut melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing. Petugas juga terus melakukan monitoring, seandainya dalam masa isolasi mandiri itu ada gejala, seperti batuk, pilek, hingga demam, maka pemerintah juga menyiapkan ruang karantina yang berada di Jember Sports Garden (JSG). “Lebih baik menyiapkan walau masih belum dipakai. Dari pada menutup kabupaten kita ini,” katanya.

Sementara, Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Jember M Satuki menjelaskan, Gubernur Jatim memang memerintahkan untuk memantau orang yang mudik sebagai langkah menanggulangi dan upaya pencegahan penularan korona. Namun, kata dia, secara teknisnya bagaimana diserahkan ke daerah masing-masing. “Apa itu ada ruang karantina dan kebijakan apa. Yang jelas, secara teknis diserahkan ke daerah masing-masing,” ucapnya.

Jember sendiri ada dua kebijakan. Yaitu, melakukan pengecekan setiap orang masuk di Jember dengan mendirikan posko siaga 24 jam. Posko itu tersebar di setiap pintu masuk Jember. Petugas yang berjaga merupakan gabungan dari unsur puskesmas, muspika, Satpol PP, Dinas Perhubungan, TNI, dan Polri.

Petugas gabungan ini bakal memantau penumpang kendaraan umum hingga kendaraan pribadi. Setiap orang akan dicek kesehatan, selanjutnya orang tersebut dipantau terus dengan wajib memakai gelang dengan warna yang berbeda sesuai dengan kondisinya.

Dua gelang itu berwarna merah dan kuning. Tujuannya untuk monitoring pendatang. Warga yang datang dari daerah zona merah di luar Jember, namun tidak menunjukkan gejala sakit, akan diberi gelang berwarna kuning. Dia akan diminta melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

Sementara itu, warga yang datang dari zona merah di luar Jember dan menunjukkan salah satu atau lebih gejala sakit seperti Covid-19, maka akan berstatus orang dalam pemantauan (ODP). “Dia dikasih gelang merah. Nanti diawasi puskesmas, muspika, babinsa, dan bhabinkamtibmas di tiap desa masing-masing,” ucapnya.

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih