Cegah Keracunan Tongkol Tikus Terulang

Gemerlap perayaan malam tahun baru diwarnai peristiwa keracunan masal. Data terbaru, sebanyak 350 orang menjadi korban akibat menyantap ikan jenis tongkol tikus. Sebenarnya amankah mengonsumsi tongkol berwarna hitam itu? Dan bagaimana cara menyimpan atau mengolahnya agar terhindar dari keracunan? 

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Jumlah warga yang menjadi korban keracunan tongkol tikus saat pesta tahun baru cukup mengejutkan. Tercatat ada sebanyak 350 orang yang tersebar di Jember. Meski tak sampai merenggut korban jiwa, namun fenomena tersebut perlu diwaspadai agar tidak terjadi lagi di kemudian hari.

IKLAN

Insiden yang ditetapkan sebagai KLB itu juga membuat dinas terkait turun tangan. Bukan hanya menangani warga yang menjadi korban, tapi juga melakukan langkah pencegahan agar ke depan Jember bebas keracunan tongkol tikus.

Plt Kepala Dinas Perikanan Murtadlo menjelaskan, fenomena keracunan tongkol tikus berkaitan erat dengan pengetahuan masyarakat tentang ikan. Menurutnya, ada praktik yang salah dalam menyimpan ikan. Imbasnya, ikan rusak dan busuk. Ikan yang demikian akan berakibat fatal bagi warga yang mengonsumsinya. “Banyak warga yang tidak memahami cara menyimpan ikan,” katanya, menyebut salah satu musabab keracunan masal tersebut.

Dia menjelaskan, dinas perikanan sudah memberi pembinaan kepada nelayan, tengkulak, pedagang, hingga pengecer untuk menggunakan alat bantu dalam menyimpan ikan. Kata dia, mulai dari nelayan sampai pedagang keliling semuanya sudah menggunakan es sebagai pengawet ikan agar tak sampai rusak. “Akan tetapi, setelah ikan terjual dari pedagang ke konsumen, ini yang kemudian tidak terkontrol. Banyak pembeli yang membiarkan ikan begitu saja dan tidak langsung dimasak. Hal yang demikian bisa membuat histamin dalam ikan menjadi tumbuh sehingga membuat ikan membusuk,” katanya.

Seharusnya, ikan yang dibeli oleh warga langsung dimasak. Sebab, ujar Murtadlo, kalau dibiarkan atau tidak langsung dimasak, maka konsumen harus menyimpan dengan baik. “Bisa diberi es atau dimasukkan freezer. Kecuali, ikan itu sudah diasap atau dibakar,” jelasnya.

Murtadlo mengungkapkan, rata-rata korban keracunan adalah mereka yang membeli ikan tongkol tikus dan membiarkannya cukup lama setelah dibeli dari nelayan atau penjual. “Kalau dibiarkan tanpa diberi es atau dimasukkan freezer, maka empat jam saja sudah rusak. Warga yang menjadi korban itu karena membiarkan ikan terlalu lama,” paparnya.

Ikan apa pun, menurut Murtadlo, bisa menjadi busuk dan rusak. Hanya saja, ikan jenis tongkol tikus menjadi salah satu yang paling cepat rusak. Dengan menyimpan ikan secara baik, sambung dia, maka keracunan tidak akan terjadi. “Kepada nelayan dan pedagang, kami juga terus melakukan pembinaan agar penyimpanan ikan menggunakan es. Termasuk pedagang ikan yang keliling ke desa-desa. Masyarakat pun harus mengetahui cara menyimpan ikan yang benar,” bebernya.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Dyah Kusworini menyampaikan, seluruh insiden sudah dilaporkan oleh puskesmas dam rumah sakit. Menurutnya, untuk mengantisipasi agar korban keracunan tidak parah, maka ketika gejala-gejala timbul seperti mual, gatal, nyeri perut, dan pusing, sebaiknya langsung dibawa ke puskesmas atau rumah sakit.

“Semua puskesmas dan rumah sakit langsung memberi penanganan cepat terhadap korban. Ke depan, kalau ada gejala-gejala seperti mual dan pusing setelah mengonsumsi ikan, puskesmas dan rumah sakit siap melayani,” tandasnya.

Reporter : Nur Hariri, Dwi Siswanto

Fotografer : Grafis Reza, Dwi Siswanto

Editor : Mahrus Sholih