Tanpa Sosial Media, Bisnis Saya Mati

MANFAATKAN INTERNET: Kerajinan batik yang berasal dari daerah pelosok ini sudah dipasarkan ke berbagai daerah secara daring.

RADAR JEMBER.ID “Tanpa sosial media, usaha saya mati,” tegas Vivin Rofiqoh, pengusaha kerajinan batik asal Dusun Sumberpinang, Desa Tegalwaru, Kecamatan Mayang. Sebab, untuk melakukan transaksi pembayaran, dia harus ke kota setiap hari. Sementara, akses menuju kota cukup sulit. Selain itu, promosi dan penjualan batik juga dilakukan di media sosial dan marketplace. Karena itulah, Vivin merasa sangat terbantu dengan kemajuan teknologi digital.

IKLAN

Perkembangan teknologi finansial menuntut Vivin terus belajar tentang keuangan. Sebab, pekerjaannya mengharuskannya menguasai hal itu. Mulai dari transaksi keuangan, belanja, hingga pinjam uang secara daring. Tak hanya itu, ia juga belajar risiko, hak, dan kewajiban terkait produk dan jasa keuangan.

Rumahnya berada di daerah pelosok, tak mudah untuk menjangkau lokasi kerajinan batik Sekarwaru ini. Sebab, harus melewati jalan setapak di tengah hamparan sawah. Hanya sepeda motor yang bisa melewatinya. Namun, harus berhati-hati agar tidak terjatuh. Dusun ini mulai dikenal karena batiknya yang diminati pasar.

Internet telah mengubah segalanya. Berada di  kawasan terpencil, tak membuat barang jualan tak laku. Vivin, perajin batik Sekarwaru ini mengalaminya. Ketika ditemui di rumahnya, ada beberapa helai kain yang sudah dibatik dijemur. Motif batiknya ada yang berupa tembakau, kopi, hingga cokelat.

Di ruang tamunya, sudah ada display batik yang dengan berbagai warna. Batik itu juga dipajang di media sosial, mulai dari Instagram, Facebook, hingga marketplace ternama di Indonesia.

Keterbatasan akses dan sarana tidak menjadi penghalang untuk memulai usaha.  Perempuan yang akrab disapa Vivin ini baru merintis usaha batik khas Jember. Tak banyak warga Mayang yang bergerak di sektor ini.  Hanya ada sekitar  dua perajin batik. “Saya baru memulai sekitar tahun 2016,” katanya.

Kendati masih baru, usaha batik yang ditekuninya sudah cukup maju. Internet telah memudahkannya memulai usaha kerajinan batik. “Bahannya beli secara online dari Solo,” ujarnya. Mulai dari kain, canting, pewarna, kompor, dan alat lainnya.

Perkenalan Vivin dengan penyuplai bahan batik di Solo pun melalui media sosial Facebook. Komunikasi dibangun melalui messenger, lalu dilanjut melalui WhatsApp.

Dari sanalah terjadi penawaran, mulai dari harga dan spesifikasi barang. Ada lima toko yang menawarinya. “Saya jajal semuanya, cari barang yang paling berkualitas, namun harganya sama,” tuturnya. Transaksi itu dilakukan sampai sekarang. Ketika sudah sepakat dan cocok, barang dibeli secara daring lalu dikirim melalui jasa pengiriman.

Penjualan batik Sekarwaru dilakukan melalui media sosial, seperti Facebook dan Instagram hingga berbagai marketplace yang mulai bervariasi. Pembelinya berasal dari berbagai daerah, seperti Kalimantan, Sulawesi, Bali, hingga Sumatra. Dia memperkenalkan produk batiknya di media sosial atau marketplace. “Tak perlu datang ke ATM untuk transaksi pembayaran,” akunya. Semua bisa dilakukan melalui gawai. Perkembangan teknologi digital ini memudahkan para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnisnya. “Ekonomi digital di negara maju dan berkembang ditekankan karena benefit ekonominya luar biasa,” tambah dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember, Ciplis Gema Qoriah.

Menurut dia, kemajuan teknologi sudah merambat berbagai sektor. Mulai dari sektor keuangan, perbankan, hingga para pelaku UMKM. Ada efisiensi waktu, biaya, dan kecepatan akses informasi. Dari sana, pasar tak lagi konvensional dengan cara harus bertatap muka dan tawar menawar. Namun, pasar sudah bergeser ke dunia maya. “Aktivitas di darat lebih membutuhkan biaya,” ujarnya.

Untuk itu, seiring inovasi teknologi yang berkembang, para pelaku UMKM harus memahami segala hal yang berkaitan dengan keuangan. Tak hanya literasi keuangan, namun juga inklusi keuangan. Pemasaran produk UMKM juga harus lebih baik dengan kualitas yang bagus agar dilirik oleh pasar.

Berdagang di era disrupsi ini begitu mudah. Akses informasi begitu cepat dan luas. Barang dijual di akun Instagram atau WhatsApp sudah bisa laku tanpa harus bertemu. “Akses sudah luar biasa. Tapi tantangannya adalah para hacker yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Selain itu, kualitas barang yang dijual juga perlu diperhatikan. Sebab, ada yang hanya bagus gambarnya, namun setelah barang diterima, tidak sesuai harapan. “Perlu sertifikasi barang dan informasi pembuatan dari hulu hilir, dibuat siapa dan dikeluarkan oleh perusahaan apa,” jelas Ciplis.

Kecanggihan itu menuntut masyarakat untuk terus belajar tentang inklusi keuangan. Bila tidak, mereka akan tertinggal oleh zaman. “Toko konvensional yang tidak update akan terancam kemajuan teknologi digital ini,” paparnya.

Bila selama ini para pelaku usaha selalu mengeluhkan modal pinjaman, teknologi sudah menjawabnya. Banyak produk jasa keuangan juga bermunculan seiring dengan kebutuhan masyarakat. Misal, Akulaku, Asetku, Pohon dana, Easy Cash, dan lainnya yang sudah terdaftar dan diawasi oleh OJK.

“Masyarakat harus selektif dalam memilih pinjaman daring,” tambah Kepala OJK  Jember Azil Noordiansyah. Menurut dia, perkembangan teknologi keuangan memberikan manfaat besar bagi masyarakat, terutama pelaku usaha. Mereka lebih mudah belajar tentang literasi dan inklusi keuangan.

Seperti yang sedang berkembang, layanan pinjam meminjam uang berbasis teknologi informasi atau (Fintech Peer-To-Peer Lending). Layanan itu cukup simple, beban lebih ringan dibanding pinjam uang secara konvensional.

Namun, tak semua pinjaman daring itu legal, yang tercatat di OJK ada 113 yang legal dan diawasi. Banyak juga yang ilegal dan tidak berizin. Tahun 2018 lalu, ada 404 entitas yang ilegal. Kemudian tahun  2019 ada 683 entitas. “Kalau tidak terdaftar, jangan asal pinjam,” sarannya.

Warga juga perlu melihat syarat dan ketentuan yang diajukan oleh pinjaman daring tersebut. Seperti berapa bunga yang dikeluarkan oleh bank, administrasi seperti apa, biaya penalti, hingga alamat kantor yang jelas. “Karena semua itu diproses secara online, tidak ada survei, hanya melakukan credit scoring secara online, kalau calon debitur dianggap layak diberi pinjaman dengan cepat,” paparnya.

Kendati demikian, Azil menyarankan agar masyarakat tidak meminjam melebihi kebutuhan. Bila untuk modal usaha, maka harus diperinci dengan baik. Sebab bila tidak, bisa memicu masalah karena tak mampu membayar cicilan. “Sudah ada beberapa warga yang melaporkan kasus itu pada OJK Jember. Tak sanggup membayar uang kredit, sementara bunga bank terus bergerak,” terangnya.

Dia menilai, kemudahan akses keuangan itu turut membantu masyarakat, terutama pelaku UMKM. Yakni mengurangi pinjaman dengan bunga tinggi, mempermudah UMKM mendapatkan modal dengan bunga lebih rendah.

Perkembangan teknologi finansial itu berkembang seiring dengan kebutuhan gaya hidup baru masyarakat. Warga butuh yang sederhana dan praktis melalui aplikasi. “Lokasi jauh, tapi sinyal cukup untuk akses internet, mereka tak harus datang ke bank, tapi menggunakan layanan fintech,” jelas Azil.

Bila masih banyak yang belum mengetahui fintech, kata dia, hal itu wajar karena masih baru.  Untuk itulah, OJK terus melakukan edukasi dan pengawasan agar kemudahan yang diberikan fintech tidak menjerumuskan nasabah. (*)

Reporter : Bagus Supriadi

Fotografer : Istimewa

Editor : Bagus Supriadi